BACAAJA – Pidato Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Washington DC mendadak jadi bahan obrolan warganet Indonesia. Bukan soal geopolitik atau kerja sama dagang, tapi soal jumlah penduduk.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Perdamaian (Board of Peace) di Washington DC, Kamis (19/2/2026), Trump bercerita tentang obrolannya dengan Presiden RI, Prabowo Subianto. Ia mengaku sempat bertanya langsung soal jumlah penduduk Indonesia.
Trump menyebut Indonesia berpenduduk sekitar 240 juta jiwa, berdasarkan laporan dari Presiden Prabowo Subianto.
Bacaaja: Akar Rumput NU Ramai-ramai Kritik Dukungan PBNU untuk Bop Trump
Bacaaja: Kritik Dewan Perdamaian Trump, PDIP: Perdamaian Palestina Harusnya Lewat PBB
Padahal, berdasarkan data resmi terbaru, jumlah penduduk Indonesia saat ini sudah menyentuh sekitar 288 juta jiwa.
Artinya, ada selisih sekitar 48 juta orang. Pertanyaannya sederhana tapi bikin mikir: ke mana sisanya?
Trump mengaku kaget
Dalam pidatonya, Trump mengaku kaget ketika mengetahui Indonesia memiliki ratusan juta penduduk. Ia menyebut angka itu dalam konteks besarnya potensi dan skala negara ini di kancah global.
Namun publik langsung membandingkan angka yang disebut dengan data yang selama ini dikenal. Selisih puluhan juta jiwa jelas bukan angka kecil. Itu setara populasi satu negara menengah.
Ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi salah ucap. Bisa juga salah dengar saat pertemuan bilateral. Atau memang ada perbedaan rujukan data yang digunakan.
Tapi tetap saja, ketika angka itu keluar dari mulut kepala negara dalam forum internasional, bikin dahi berkenyit. Wajar kalau publik bereaksi.
Angka penduduk bukan detail sepele
Buat sebagian orang, ini mungkin terdengar remeh. Cuma beda angka. Tapi dalam konteks diplomasi dan pidato resmi, data demografi bukan sekadar trivia.
Jumlah penduduk mencerminkan pasar, kekuatan tenaga kerja, potensi ekonomi, hingga pengaruh geopolitik. Jadi ketika ada selisih sampai puluhan juta, publik tentu bertanya-tanya.
Apalagi Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia. Jadi angka yang meleset cukup jauh langsung terasa janggal.
Di media sosial, responsnya campur aduk. Ada yang santai, ada yang menyindir, ada juga yang mempertanyakan akurasi komunikasi antar kepala negara.
Yang jelas, momen ini menunjukkan satu hal: di era digital, satu angka bisa langsung jadi bahan cek fakta dalam hitungan menit.
Dan sekarang pertanyaannya masih sama, sederhana tapi menggelitik: kalau benar penduduk Indonesia 288 juta jiwa, lalu 48 juta sisanya ‘dihilangkan’ ke mana dalam versi pidato itu? (*)


