SEMARANG, BACAAJA – Aktivitas jual beli barang bekas di Pasar Krokosono, Banjir Kanal, Semarang, terus bergulir setiap hari.
Di balik lapak-lapak sederhana yang berjejer, tersimpan cerita panjang para pedagang yang menggantungkan hidup dari barang-barang bekas, salah satunya Andi (67).
Pria asal Bugis yang sudah menetap di Semarang selama kurang lebih 50 tahun itu akrab disapa Pakde Andi. Ia mengaku telah lama menekuni usaha jual beli barang bekas.
Bacaaja: Ini Surga Buku Bekas di Semarang, Katanya Ada Versi KW Juga Sih
Bacaaja: Hidden Gem Perbukuan di Semarang, Books Bos Sediain Buku Impor Harga Lokal
Pakde Andi menyebut, sebagian besar barang yang dijual di lapaknya berasal dari para pemulung.
“Barang-barang ini saya dapat dari pemulung, Mas. Mereka ngumpulin, terus saya beli, nanti saya jual lagi di sini,” ujar Pakde Andi saat ditemui di Pasar Krokosono. Jumat 16/01/2026
Namun, di balik aktivitas perdagangan yang terlihat sederhana, ada biaya rutin yang harus dikeluarkan para pedagang setiap minggunya.
Pakde Andi mengungkapkan adanya pungutan keamanan yang dibayarkan kepada pihak yang mengelola lokasi pasar.
“Setiap minggu ada biaya keamanan. Bayarnya ke yang ngurus tempat, biasanya sekitar tiga ribu sampai lima ribu rupiah,” katanya.
Menurutnya, pembayaran tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan diterima oleh para pedagang agar aktivitas jual beli dapat berlangsung dengan aman dan lancar.
Selain itu, Pakde Andi juga menceritakan tradisi pasar yang hanya berlangsung setiap hari Minggu, yang oleh pedagang setempat dikenal dengan istilah “mremo”.
Pasar mremo dimulai sejak selepas subuh hingga menjelang waktu dhuhur.
“Kalau hari Minggu itu namanya mremo. Barangnya jauh lebih banyak, pedagangnya juga rame,” ungkapnya.
Meski begitu, kondisi pasar mremo berbeda dengan hari biasa. Harga barang justru cenderung lebih tinggi, seiring dengan meningkatnya jumlah pedagang dan pembeli yang datang bersamaan.
“Harganya biasanya lebih mahal dibanding hari biasa. Soalnya banyak yang jual, banyak juga yang nyari barang,” tambah Pakde Andi.
Bagi Pakde Andi dan pedagang lainnya, Pasar Krokosono bukan sekadar tempat berdagang, tetapi juga ruang hidup yang menyimpan dinamika sosial dan ekonomi.
Di tengah keterbatasan, pasar ini tetap menjadi tumpuan penghidupan sekaligus ruang pertemuan berbagai lapisan masyarakat, dari pemulung hingga pemburu barang bekas. (dul)


