BACAAJA, SEMARANG– Ketua DPD Gema Sadhana Jawa Tengah, Hocking Susanto mengatakan perayaan Cap Go Meh 2026 dirancang sebagai ruang kebersamaan lintas komunitas sekaligus simbol persatuan masyarakat.
Hal itu ia sampaikan saat audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Jumat (13/3/2026). Menurut Hocking, acara tersebut akan melibatkan berbagai komunitas dari seluruh Jawa Tengah, mulai dari pengurus kelenteng hingga vihara Tri Dharma.
“Kami mengundang seluruh pengurus kelenteng dan vihara Tri Dharma se-Jawa Tengah, serta paguyuban suku marga Tionghoa di Jawa Tengah. Harapannya acara ini menjadi simbol persatuan dan harmoni Indonesia,” ujarnya.
Baca juga: Meriah! Solo Pamer Barongsai sampai Dramatari Jawa di Festival Imlek Nasional
Ia menambahkan, perayaan Cap Go Meh tahun ini membawa semangat harmoni budaya Nusantara serta mempererat hubungan antar komunitas agama dan budaya di wilayah tersebut. Menariknya, kegiatan ini menjadi kali pertama Cap Go Meh diselenggarakan pada level provinsi oleh Gema Sadhana.
Karena itu, pihak panitia juga berharap kehadiran Gubernur Jateng untuk ikut meramaikan acara tersebut. Menanggapi undangan itu, Ahmad Luthfi langsung merespons santai namun tegas. “Oke, saya datang. Apalagi yang perlu Pemprov dukung?” kata Luthfi.
Potensi Budaya
Dalam pertemuan tersebut, Gema Sadhana juga menyampaikan potensi budaya lain yang ada di Jawa Tengah, salah satunya keberadaan kelenteng bersejarah di wilayah Welahan, Kabupaten Jepara.
Kelenteng tersebut disebut telah berdiri sekitar 400 tahun dan dikenal sebagai tempat pengobatan tradisional. Bahkan, menurut cerita masyarakat setempat, pahlawan nasional RA Kartini pernah berobat di tempat itu saat masih kecil. Mendengar cerita tersebut, Gubernur Luthfi meminta agar lokasi tersebut segera diusulkan menjadi cagar budaya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jateng, Hanung Triyono menegaskan pihaknya siap mendukung kegiatan budaya lintas komunitas seperti perayaan Cap Go Meh.
Baca juga: Semarang Bicara Toleransi: Agustina dan Sinta Nuriyah Kirim Pesan Harmoni
Menurutnya, keberadaan berbagai komunitas budaya dan aliran kepercayaan merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Jawa Tengah yang harus terus dirawat. “Ke depan akan kami optimalkan dari sisi kebudayaan. Kalau bisa berkelanjutan, kegiatan seperti ini bisa dimasukkan dalam agenda tahunan,” katanya.
Di negeri yang sering ribut soal perbedaan, acara seperti Cap Go Meh justru mengingatkan hal sederhana: kadang yang dibutuhkan bukan debat panjang soal toleransi, cukup duduk bareng, makan bareng, nonton barongsai bareng… dan sadar kalau perbedaan itu ternyata nggak seseram yang sering dibayangkan. (tebe)


