BACAAJA, SEMARANG– Perum Bulog Kantor Wilayah Jateng menegaskan kesiapannya menjalankan tugas negara: menyerap gabah dan beras produksi petani lokal sepanjang 2026.
Pemimpin Wilayah Bulog Jateng, Sri Muniati menyebut, penugasan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Tujuannya jelas, mengamankan hasil panen petani sekaligus menjaga stok dan stabilitas harga pangan.
Secara nasional, pemerintah menargetkan penyerapan gabah dan beras sebesar 4 juta ton setara beras. Dari jumlah itu, Jateng kebagian jatah cukup besar: 374.658 ton setara beras dari 25 kabupaten/kota.
“Penugasan di Jateng tahun 2026 naik sekitar 32 persen atau setara 90.956 ton dibanding target 2025,” kata Sri Muniati di Semarang, Minggu. (25/1/2026).
Baca juga: Bulog Jamin Stok Beras di Jateng Aman Hingga Juni 2026
Kenaikan ini menegaskan posisi Jateng sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Bulog diminta memastikan hasil panen petani benar-benar terserap dengan harga yang layak, bukan jatuh di saat panen raya.
“Bulog hadir untuk melindungi petani sekaligus memastikan pasokan pangan tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya. Bukan cuma beras, Bulog Jateng juga kebagian tugas menyerap jagung. Dari target nasional 1 juta ton, Jawa Tengah ditargetkan menyerap 70.000 ton jagung.
“Untuk jagung, kami memperkuat koordinasi lintas sektor agar penyerapan di tingkat petani berjalan optimal,” katanya. Di luar penugasan public service obligation (PSO), Bulog Jateng juga diminta menyiapkan beras untuk pasar komersial.
Beras kualitas medium hingga premium disiapkan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. “Kami pastikan stok aman, baik untuk penugasan pemerintah maupun kebutuhan pasar,” ujar Sri Muniati.
Memasuki awal musim panen 2026, Bulog Jateng mulai ngebut sejak dini. Panen gabah sudah terlihat di sejumlah daerah dan diprediksi mencapai puncaknya pada Maret 2026.
“Kami optimalkan serapan sejak awal panen supaya hasil petani langsung terserap dan kualitas tetap terjaga,” katanya. Soal cuaca yang masih suka drama, Bulog mengklaim sudah siap. Gudang, mesin pengering gabah (mechanical dryer), hingga fasilitas pengolahan beras disiapkan dalam kondisi prima.
Kesiapan Gudang
“Kesiapan gudang dan pengering jadi kunci, apalagi curah hujan masih cukup tinggi,” ujarnya. Berdasarkan prakiraan BMKG Jawa Tengah, curah hujan akhir Januari hingga awal Februari 2026 berada di kategori menengah hingga tinggi. Bahkan di wilayah Pemalang, Tegal, Kendal, Kudus, dan Pati, curah hujan diprediksi tembus kategori sangat tinggi di atas 500 milimeter.
Hingga 24 Januari 2026, Bulog Jateng sudah menyerap 4.090 ton gabah kering panen dan 1.147 ton beras, atau setara 3.225 ton beras. “Serapan akan terus meningkat seiring puncak panen, dengan dukungan TNI/Polri, pemerintah daerah, dan mitra swasta,” katanya.
Baca juga: Cuaca Lagi Galak, Sekda Jateng Bilang: Tenang, Beras Masih Aman
Saat ini, Bulog Jateng didukung 148 mitra pengolahan dengan kapasitas pengeringan 6.126 ton per hari dan 148 mitra RMU dengan kapasitas 3.463 ton per hari. Selain itu, tersedia 109 unit gudang dengan total kapasitas simpan mencapai 465.457 ton. Dengan dukungan infrastruktur dan kemitraan tersebut, Bulog Jateng optimistis target penyerapan 2026 bisa diamankan.
Target naik, gudang siap, mesin nyala. Sekarang tinggal satu ujian klasik: semoga beras petani nggak cuma cepat diserap, tapi juga bikin petaninya ikut sejahtera, bukan cuma statistiknya yang naik. (tebe)


