BACAAJA, SEMARANG – Ramadan bukan cuma soal nahan lapar dan haus. Di hari ke-23 Ramadan, keluarga besar Bacaaja bikin momen bukber yang beda dari biasanya. Bukan sekadar makan bareng, tapi juga ada diskusi seru bareng anak muda.
Acara buka puasa bersama ini digelar di Kantor Bacaaja, Jalan Galunggung No.16, Gajahmungkur, Semarang, Jumat (13/3/2026). Yang bikin makin menarik, kegiatan ini juga menghadirkan perwakilan Detasemen Khusus 88 Antiteror untuk ngobrol santai bareng mahasiswa.
Dalam diskusi tersebut hadir Katim Semarang Raya Satgaswil Jateng Iptu Yusuf. Selain tim Bacaaja, acara juga diikuti mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang.
Bacaaja: Peradi SAI Semarang Dukung Larangan Anak Punya Akun Medsos, Cegah Paparan Radikalisme
Bacaaja: Cerita Densus 88 Gagalkan Aksi Anak SMP di Jateng Mau Serang Teman
Sebelum adzan Magrib berkumandang, peserta diajak ikut diskusi ringan tapi berbobot. Topiknya seputar pentingnya menjaga keamanan lingkungan, sampai bagaimana anak muda bisa lebih peka terhadap bahaya radikalisme.
Suasana diskusi dibuat santai, jadi peserta bebas bertanya dan berdiskusi langsung dengan narasumber.
Muhammad Alvin Alfarizi (21), mahasiswa Universitas PGRI Semarang, mengaku acara ini jadi pengalaman baru buatnya.
“Menurut saya acara bukber tadi asik banget. Selain buka puasa bareng, ada diskusi yang memberi ilmu buat anak muda. Jadi makin sadar kalau kita juga punya peran menjaga lingkungan supaya tetap aman dari radikalisme,” kata Alvin.
Hal serupa juga dirasakan Imam (21), mahasiswa UPGRIS lainnya yang ikut hadir. Ia bilang konsep diskusi sebelum buka puasa jadi sesuatu yang menarik karena jarang ditemui di acara bukber pada umumnya.
“Menurut saya bagus sekali karena sebelum buka ada diskusi dulu. Topiknya juga menarik karena jarang dibahas. Pas buka puasanya juga terasa akrab karena lesehan, jadi bisa ngobrol santai sama teman-teman,” ujarnya.
Setelah diskusi selesai, acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama secara lesehan. Suasana terasa santai, penuh tawa, dan jadi momen silaturahmi antara tim Bacaaja, mahasiswa, serta perwakilan Densus 88.
Bukber ini pun bukan cuma soal makan bareng, tapi juga jadi ruang ngobrol dan berbagi perspektif antara aparat dan anak muda. Sebuah cara sederhana, tapi bermakna, untuk membangun kesadaran bersama soal pentingnya menjaga lingkungan yang aman dan damai. (dul)


