BACAAJA, KUDUS- Banjir besar yang merendam wilayah Kudus, Jepara, dan Pati bikin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) angkat kaki ke lapangan. Salah satu rencana besar yang disiapkan adalah normalisasi Sungai Juwana atau Kali Silugonggo, yang disebut-sebut warga sebagai biang banjir.
Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan hal itu saat meninjau posko pengungsian di DPRD Kudus, Jumat (16/1/2026). Ia menegaskan, penanganan bencana tidak membedakan wilayah.
“Tidak ada bedanya Sumatera atau Jawa Tengah. Kalau terjadi bencana, semuanya dapat perhatian dan bantuan,” ujar Suharyanto. Dalam kunjungannya, BNPB juga menggelar dialog dengan warga Kudus. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah kondisi Sungai Juwana yang dianggap sudah tak mampu menampung debit air saat hujan deras.
“Warga meminta normalisasi Sungai Juwana supaya bencana serupa tidak terulang,” katanya. Suharyanto juga menyampaikan ucapan belasungkawa dari Presiden Prabowo Subianto kepada warga terdampak banjir di Kudus, Jepara, dan Pati.
Baca juga: Banjir dan Longsor Kudus: 2 Tewas, 1 Balita dalam Pencarian
Menurutnya, banjir di Jawa Tengah bukan cerita baru. Akhir 2025 lalu, kawasan Kaligawe, Semarang, sempat terendam hingga 10 hari akibat hujan ekstrem. Namun kini, dengan curah hujan yang relatif sama, wilayah tersebut tidak lagi kebanjiran.
Hal serupa juga terjadi di Demak pada 2023-2024 lalu. Setelah tanggul Kali Wulan jebol dan dilakukan normalisasi, banjir besar tak lagi terulang. “Bencana mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya, tapi setidaknya dampaknya bisa dikurangi dengan penanganan yang tepat,” jelasnya.
Modifikasi Cuaca
Selain rencana jangka panjang berupa normalisasi sungai, BNPB juga menjalankan modifikasi cuaca sebagai langkah darurat. Saat ini, satu pesawat terus diterbangkan untuk menyemai awan agar hujan tidak turun terlalu deras. “Curah hujan bukan dihentikan, tapi dikurangi,” kata Suharyanto.
Untuk kebutuhan pengungsi, BNPB memastikan logistik dalam kondisi aman. Stok pangan bahkan disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan warga selama beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengungkapkan dampak banjir kali ini cukup luas. Tercatat dua kecamatan terdampak longsor, tujuh kecamatan terdampak banjir, dengan total 38 desa terdampak.
Baca juga: Banjir Lereng Muria Bukan Takdir Ilahi, Walhi Sorot Krisis Lingkungan
Sebanyak 47.000 jiwa terdampak, dan sekitar 2.000 warga mengungsi di 11 titik pengungsian. “Alhamdulillah, kebutuhan dasar pengungsi pada prinsipnya terpenuhi. Logistik cukup, tapi kebutuhan khusus tetap kami pantau,” ujar Sam’ani.
Sekarang bola ada di sungai. Kalau Kali Juwana benar-benar dibenahi, semoga airnya kembali jinak. Soalnya warga sudah capek tiap musim hujan harus ngapalin rute pengungsian. (tebe)


