Setia Naka Andrian, Sekretaris Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPGRIS. Saat ini sedang menjalani Residensi Sastrawan di Mancanegara dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen di Konstanz University of Applied Sciences (HTWG) Baden-Württemberg, Jerman.
Peluang bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa internasional saat ini menurutnya berada pada posisi 50:50.
Tak ada yang dapat kita jauhkan dari bahasa, meski sesekali tak semuanya ditemukan begitu saja dari yang diungkap. Meski kerap kali banyak hal pula yang disembunyikan bahasa dari kita. Orang-orang mengendarainya kapan saja. Biarpun kadang, bagi saudara kita tertentu, bahasa menempuh jalan beda, punya cara sendiri untuk mengungkapkan apa saja.
Kamis, 24 September 2026, saya sudah harus bergegas mengokang langkah untuk segera menuju gelaran Semiloka (Seminar dan Lokakarya) VIII Pembelajaran BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) 2026 di Bremen, Jerman.
Jauh-jauh hari sebelumnya, melalui Andi Nurhaina telah dikabarkan mengenai rencana kegiatan yang harus saya ikuti itu. Ya, saya memang tak berproses dalam bidang BIPA itu, meski tentu itu bukan sesuatu yang asing bagi saya. Setidaknya dalam wilayah pengabdian saya sebagai pengajar kerap bersentuhan dengan BIPA, sebagai salah satu bidang yang diajarkan kepada para mahasiswa.
Tentu tak ada salahnya, ruang itu sebagai ruang belajar. Apalagi saya diajak oleh seorang dosen dan akademisi yang mendedikasikan kariernya untuk mengajarkan BIPA serta berbagai wawasan budaya (Landeskunde) di Jerman.
Ya, kepada Andi saya berserah, kepada pengajar yang sudah dua puluh tahunan yang lalu mengajar di HTWG Konstanz (Hochschule Konstanz Technik, Wirtschaft und Gestaltung) pada Program Studi Asian Studies and Management.
Awalnya, melalui pesan WhatsApp saya belum ada bayangan seberapa jauh antara Konstanz dengan Bremen. Selepas saya buka lebar-lebar Google Maps, ternyata baru sadar betapa jauhnya, benar-benar dari ujung ke ujung!
“Kalau naik pesawat, sebaiknya dari Zürich ke Hamburg, lalu dilanjutkan dengan kereta ke Bremen. Kalau memesan jauh-jauh hari, biayanya bisa lebih murah. Misalnya, saya mendapatkan tiket seharga sekitar €280 pulang-pergi (PP) dengan Swiss Air. Bisa juga naik bus FlixBus langsung dari Konstanz ke Hamburg. Tiketnya hanya sekitar €70, tetapi perjalanan memakan waktu sekitar 12 jam,” pesan Andi.
“Naik pesawat langsung ke Bremen lebih mahal dan jarang tersedia; biasanya harus transit, misalnya di Frankfurt atau München. Dengan FlixBus juga tidak ada perjalanan yang benar-benar langsung karena minimal harus satu kali berganti bus,” sambungnya. Sebelum saya balas pesannya, sudah duluan lantak terpekik dalam dada: FlixBus yang terjangkau saja! Pilihan lebih terjangkau dan setidaknya masih diberi anugerah cukup tenaga untuk membunuh perjalanan hingga 12 jam itu.
Pada Kamis, 24 September 2026, perjalanan dimulai dari Konstanz Central Bus Station pukul 21.10 dengan FlixBus rute N24 menuju Hannover, dan tiba pada Jumat, 25 September pukul 06.30. Setelah transit selama sekitar 5 jam, perjalanan dilanjutkan dari Hannover Central Bus Station pukul 11.30 dengan FlixBus rute N881 menuju Bremen, tiba di Bremen Fernbusterminal pukul 13.05. Dengan total biaya tiket €40,48 untuk satu orang. Masing-masing penumpang membawa satu tas kecil/ransel hingga 7 kg dan satu bagasi hingga 20 kg. Dalam perjalanan ini saya bersama Amirush Shaffa Fauzia (Pengajar BIPA Badan Bahasa) dan Ulfatur Rohmah, istri saya. Hanya saja, Shaffa turun di Hamburg, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta ke Bremen bersama Andi.
Semiloka berlangsung pada Jumat–Minggu, 25–27 September 2026 di Kampus Hochschule Bremen & Virtual Zoom. Khusus untuk Pengajar BIPA di Eropa dan di luar Indonesia! Kabarnya sempat ada pengajar BIPA dari Indonesia, sempat hendak mendaftar, akan tetapi tidak dibolehkan. Lalu selepas dipertimbangkan panitia, kemudian diminta boleh daftar. Hanya mereka katanya sudah terlanjur tidak mau. Entah kenapa.
Konon, Semiloka serupa ini dihelat kali pertama pada 2017. Kabarnya pada tahun pertama itu sempat dihadiri Triyanto Triwikromo, ada kemungkinan ketika ia menjalani residensi di Jerman. Setahun selepas penyelenggaranya, yakni Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jerman lahir pada 2016.
“Ya, pada 2016 kami para pengajar BIPA di Jerman, mayoritas tidak saling kenal, tidak berbagi. Namun, karena merasa latar belakang bahasa Jerman, kemudian tertarik pada bahasa Indonesia. Tentu kami paham mengajar bahasa Indonesia kepada orang asing tidak sederhana. Terlebih kami memiliki kesulitan mendapatkan materi, buku, dan lainnya. Sementara bahan yang ada, menurut saya terlalu jomplang dari sumber belajar bahasa Jerman yang saya dapatkan,” kenang Andi.
Andi menyampaikan bahwa peluang bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa internasional saat ini menurutnya berada pada posisi 50:50. Peluang tersebut muncul bukan semata-mata karena alasan nasionalisme, melainkan karena Indonesia memiliki potensi yang cukup besar, baik dari sisi sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), maupun keterbukaan Indonesia terhadap dunia internasional.
Namun, menurut Andi, kondisi pemerintahan yang masih buruk menjadi salah satu hambatan terbesar. Ia juga menilai bahwa selama sistem pendidikan belum diarahkan untuk membentuk manusia yang bertanggung jawab, serta memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, keamanan, dan perdamaian, upaya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional akan menghadapi kesulitan. Menurutnya, pendidikan harus menjadi prioritas utama!
“Bantuan dari Badan Bahasa sebenarnya bisa ditingkatkan. Kedatangan Shaffa sebagai pengajar BIPA di HTWG Konstanz saat ini sangat membantu. Sebelumnya, ada empat orang pengajar yang datang, baik pada masa pandemi maupun setelahnya. Namun, karena alasan efisiensi, sekarang pengajaran lebih banyak dilakukan secara daring, sementara pembelajaran daring cukup sulit untuk diikuti secara optimal,” ungkap Andi.
Andi sedikt menghela napas dan seakan memandang jauh. Ia sangat paham, bahwa saat ini BIPA sedikit tergerus oleh bahasa Jepang, Korea, Thailand, dan Vietnam. Negara-negara tersebut sedang gencar mengembangkan dan mempromosikan bahasa mereka, sedangkan Indonesia masih terseok-seok, termasuk dalam hal efisiensi.
Prof. Dr. Christian von Lübke sempat menyampaikan kepada Badan Bahasa, bahwa kalau kelas bahasa Indonesia tidak berjalan maksimal, sementara Andi sebagai pengajar tunggal dan tidak bisa menambah pengajar lagi, ada kemungkinan jam pembelajaran bahasa Indonesia akan diambil alih oleh bahasa Jepang, Korea, atau Vietnam. “Karena itu, saya berharap dukungan dari Badan Bahasa dapat ditingkatkan, terutama dalam penyediaan pengajar dan pelaksanaan pembelajaran secara langsung,” harap Andi.
Ya, begitulah kondisi BIPA. Terlebih dalam Semiloka dari APPBIPA Jerman yang saya hadiri kali ini, tidak semua diikuti oleh pengajar BIPA dari perguruan tinggi semata, bahkan banyak diaspora Indonesia yang begitu peduli kepada BIPA. Perguruan tinggi di Jerman yang tercatat memiliki pengajaran BIPA, di antaranya HTWG Konstanz, Hochschule Bremen (HSB), Universität Hamburg, Universität Freiburg, Universität Heidelberg, Goethe-Universität Frankfurt am Main, Universität Bonn, Universität zu Köln, Humboldt-Universität zu Berlin, Universität Leipzig, dan Universität Passau. Ada beberapa yang sudah tidak menawarkan kelas BIPA lagi, yakni Hochschule Koblenz: University of Applied Science, Georg-August-Universität Göttingen, dan Ludwig-Maximilians-Universität München.
Selain melalui perguruan tinggi, BIPA di Jerman diselenggarakan melalui berbagai perwakilan diplomatik dan lembaga kursus bahasa. Pada perwakilan diplomatik, pengajaran BIPA terdapat di KBRI Berlin, KJRI Frankfurt, dan KJRI Hamburg. Sementara itu, lembaga kursus bahasa yang menyelenggarakan atau terkait dengan pembelajaran BIPA antara lain Berlitz, Asienhaus Köln, Eloquia Frankfurt, IKAT Hamburg, Laudius Straelen, dan Linghan Sprachen Asiens. Selain itu, BIPA juga tercatat di Bundessprachenamt serta sejumlah Volkshochschule (VHS), antara lain di Augsburg, Berlin, Braunschweig, Bremen, Frankfurt, Karlsruhe, Koblenz, München, Nürnberg, Stuttgart, dan Ulm. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 900 VHS di Jerman yang menjadi bagian dari jaringan pendidikan orang dewasa.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

