Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Redaktur Opini
Last updated: Juni 26, 2026 2:13 pm
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Akhmad Idris adalah dosen  sekaligus awardee BPI 2023 program doktoral di Universitas Negeri Malang.

“Alam tak lagi ditempatkan sebagai objek, juga tak dikembalikan sebagai subjek, tapi dipadukan sebagai subjek sekaligus objek.”

 

Beberapa tahun yang lalu, Ibu Pertiwi dibuat bangga dengan karya anak bangsa yang bertajuk “Wonderland Indonesia”. Sebuah video karya Alffy Rev yang memadukan antara eksplorasi musik dan budaya tradisonal Nusantara dengan konsep modern. Video yang didukung oleh Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek ini telah ditonton lebih dari 61 juta kali dan sempat menempati trending pertama di Youtube di awal perilisannya.

Jika ditilik dari bejibun tanggapan di kolom komentar, secara keseluruhan menanggapinya secara positif, bahkan banyak yang terkagum-kagum, terharu, hingga tak sedikit yang berkali-kali menitikkan kelopak basah. Mereka terkagum-kagum dengan visualisasi pesona Nusantara yang tak lagi berada di level wonderful, tetapi sudah berada di level wonderland.

Mereka terharu saat tiba di scene pembacaan teks proklamasi yang terasa membara dengan iringan tabuhan drum dari Nova. Mereka bahkan mengaku berurai air mata kala melihat sekaligus mendengar lagu “Bagimu Negeri” dikumandangkan.

Ada perasaan bangga bercampur haru. Mungkin sadar bahwa tak seharusnya air mata hanya diteteskan untuk serial drama, sebab Negara jauh lebih membutuhkannya sebagai validasi cinta. Agaknya Alffy Rev ingin membuktikan bahwa meskipun generasi muda Indonesia hidup di era milenial, mereka tetap akan membanggakan budaya tradisional, bahkan bisa membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.

Fenomena viralnya video “Wonderland Indonesia” mengingatkan saya pada gagasan budayawan-sejarawan Indonesia, Kuntowijoyo dalam bukunya Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas (2019). Kuntowijoyo menyebutkan, masyarakat dalam hubungannya dengan alam (lingkungan dan budaya) mengalami tiga tahap perkembangan, yakni masyarakat tradisional, lalu masyarakat modern, kemudian masyarakat pasca-modern.

Masyarakat tradisional memperlakukan alam sebagai subjek, sehingga alam dipandang sebagai sesuatu yang menguasai kehidupan manusia. Oleh sebab itu, masyarakat tradisional hidup berdampingan dengan sakralisasi, mitologisasi, dan mistifikasi. Banyak tempat-tempat yang dikeramatkan, mantra-mantra yang dianggap memiliki fungsi magis, juga mitos-mitos tentang tokoh tertentu yang dipercaya serta diyakini secara turun-temurun.

Memasuki tahun 1900-an (untuk kaum elite, sementara untuk kelompok grass roots mungkin tak pernah berakhir), masyakat mulai mengenal cita-cita kemajuan, atau biasa disebut dengan istilah the idea of progress. Fase itu membawa mereka menuju ke tahap selanjutnya, yaitu masyarakat modern. Pada tahap ini, masyarakat tak lagi memosisikan alam sebagai subjek, tetapi beralih menjadi alam sebagai objek.

Jika sebelumnya alam dianggap sebagai pihak yang berkuasa, maka kini alam diperlakukan sebagai objek pemahaman, seperti objek penelitian hingga objek penguasaan. Masyarakat mulai memahami ilmu-ilmu modern yang menolak mistifikasi, mitologisasi, dan sakralisasi.

Derajat kebenaran suatu hal diukur dengan rasionalitas, tidak dengan hal-hal takhayul. Hasil-hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara praktis sekaligus teoretis juga mulai bermunculan. Masyarakat pun mulai terbiasa dengan hal-hal yang masuk akal dan secara perlahan mulai menolak hal-hal yang khayal. Sebut saja seperti merebaknya penggunaan telepon genggam yang bisa lebih diterima untuk menghubungkan dua orang yang berjauhan daripada penggunaan firasat atau ‘kontak batin’.

Hal yang paling menonjol dari masyarakat modern adalah gagasan tentang keuntungan. Artinya, alam yang dulunya dianggap menakutkan, kini dipandang sebagai objek yang menjanjikan keuntungan. Masyarakat mulai berani untuk mengeksplorasi alam dengan mendirikan berbagai macam industri. Namun, semakin ke sini pandangan menempatkan alam sebagai objek mulai dipertanyakan kembali. Mulai bermunculan kelompok yang mendeklarasikan ‘Partai Hijau’ karena manusia dinilai telah melampaui batas dalam mengeksploitasi alam.

Tahap inilah yang sekarang dialami oleh umat manusia, yakni masyarakat pasca-modern. Alam tak lagi ditempatkan sebagai objek, juga tak dikembalikan sebagai subjek, tapi dipadukan sebagai subjek sekaligus objek. Tahap ini dapat ditandai dengan keberadaan teknologi ramah lingkungan, sehingga alam kembali dihormati sebagai subjek dan dimanfaatkan ‘secukupnya’ sebagai objek. Sikap seperti inilah yang dilakukan oleh Alffy Rev, dkk dalam pembuatan video “Wonderland Indonesia”.

Video itu mempersembahkan Indonesia dengan konsep kekinian dengan tetap ‘memuliakan’ budaya Nusantara sebagai sebuah keajaiban. Hal ini dapat dilihat dari cara Alffy Rev meng-highlight alat musik Sape khas suku Dayak, lagu nasional, dan lagu-lagu daerah dalam eksplorasi musik kontemporernya. Tak hanya itu, Alffy juga menghadirkan makhluk mitologi khas Nusantara (yang disebut oleh netizen sebagai naga) yang merupakan manifestasi dari Antaboga (Ontobugo) dan Garuda.

Makhluk mitologi tersebut divisualisasikan secara modern seperti monster-monster dalam film-film kekinian. Sederhananya, Alffy menghormati budaya lewat kebanggaannya sekaligus memanfaatkannya untuk projek videonya. Inilah yang disebut memosisikan alam sebagai subjek-objek atau juga bisa disebut dengan istilah ‘tradisional yang milenial’.

Memang sebagian besar masyarakat Indonesia memberikan respons positif, tetapi sebagian kecil di antaranya juga turut berpartisipasi untuk memberikan kritik terkait masalah kehadiran makhluk mitologi yang dianggap naga pada scene terakhir. Mereka (pihak yang mengkritik) mempertanyakan sekaligus mengusulkan pemilihan naga yang alangkah lebih baik jika menghadirkan Garuda saja yang notabenenya merupakan lambang Negara. Agaknya Alffy Rev memang menyempatkan waktunya untuk membaca komentar para penonton videonya, sehingga ia memutuskan untuk melakukan klarifikasi di kolom komentar.

Dijelaskan bahwa makhluk mitologi yang ditampilkan tersebut merupakan raja ular penjaga perut bumi, atau penguasa dunia bawah dalam pewayangan Jawa kuno. Dalam budaya Jawa dan Bali, makhluk tersebut kerap diukir di gamelan maupun gerbang sebagai lambang dari ‘penjaga’. Makhluk tersebut memang seperti seekor naga sebagai manifestasi Ontobugo dan memiliki sayap yang gagah sebagai manifestasi dari Garuda. Keengganan menggunakan Garuda berhubungan dengan faktor sensitivitasnya sebagai lambang Negara yang dilindungi oleh undang-undang.

Sayangnya, klarifikasi Alffy tersebut seharusnya tak perlu dilakukan, karena penjelasan tersebut membuat penikmat tak lagi memiliki tugas untuk menginterpretasi. Tugas seorang pengarang hanya menyajikan, dan penikmatlah yang bertugas menafsirkan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Roland Barthes bahwa ketika teks (karya) telah selesai, di situlah mata penyair (pembuat) berakhir. Biarkan saja penikmat menebak-nebak itu naga atau garuda, karena ketakpastian itulah yang akan membuatnya terus menjelajah, melintasi masa. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Membaca Sisi Psikologis dan Relasi Manusia pada Kasus Reyhan dan Fara

Urgensi Pengakuan Ekosida sebagai Sebuah Kejahatan dalam Kerangka Hukum di Indonesia

Bagimana Krisis Iklim Mengganggu Hubungan Keluarga

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

Ilustrasi peta Indonesia.

Daya Saing Indonesia di Pasar Global Nyungsep, Peringkat 58 dari 70 Negara

Punya Mimpi Pakai Jersey PSIS? Mahesa Jenar Buka Talent Scouting

Agustina Ingin Negara Hadir Saat Warga Kehilangan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Ada Kalanya Tak Perlu Menolak Lupa

Mei 8, 2026
Opini

Lelaki Miskin, Kenapa Lagi?

November 12, 2025
Opini

Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi

Februari 26, 2026
Opini

Dari Lagu “Kicau Mania” Kita Belajar Menikmati Hidup di Tengah Ancaman Burnout

Mei 19, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?