BACAAJA, SEMARANG – Suasana Halloween tak hanya dipenuhi kostum penyihir, hantu, dan labu berwarna oranye. Di lantai dua Mal Ciputra Semarang, Minggu (1/11/2026), anak-anak justru unjuk keberanian lewat cerita dalam acara Treats & Tales: Halloween Storytelling Parade.
Satu per satu peserta dari berbagai kelompok usia maju ke panggung. Berbekal buku cerita dan mikrofon, mereka membawakan kisah bertema Halloween dengan gaya masing-masing. Ada yang tampil mengenakan jubah penyihir, kostum kelelawar, hingga aksesori khas Halloween lainnya.
Di antara peserta, ada Kenzi Chan (10), siswa kelas V Tunas Harum Bangsa. Ia membawakan cerita berjudul The Last Harvest. Meski sudah mempersiapkan diri selama tiga hari, Kenzi mengaku sempat diliputi rasa takut ketika harus tampil di hadapan penonton.
“Tadi takut banget. Takut kalau nanti aku membuat kesalahan,” kata Kenzi, Di lantai dua Mal Ciputra Semarang, Minggu (1/11/2026)
Dalam penampilannya, Kenzi juga membawa apel yang digunakan sebagai bagian dari permainan dalam cerita. Baginya, pengalaman tampil di atas panggung menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan, meski awalnya membuat gugup.
Kenzi mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan storytelling seperti ini. Meski begitu, ia mulai tertarik untuk kembali tampil dalam kesempatan berikutnya.
Ibunya, Vian (46), warga Gayamsari, Semarang, mengatakan keikutsertaan Kenzi berawal dari keinginan memberikan pengalaman baru bagi anaknya. Terlebih, Kenzi memang memiliki ketertarikan terhadap kegiatan bercerita.
Menariknya, sebagian besar persiapan dilakukan Kenzi secara mandiri. Mulai dari menghafalkan cerita hingga membangun ekspresi saat tampil, semuanya dipelajari sendiri tanpa pendampingan khusus dari orang tua.
“Jujur saja saya tidak terlalu menyiapkan. Dia hafal sendiri, belajar sendiri. Ekspresinya juga dia sendiri yang mengatur,” ujar Vian.
Menurut Vian, kegiatan semacam ini penting untuk memberikan ruang interaksi sekaligus melatih kepercayaan diri anak. Apalagi, di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin dekat dengan gawai, kesempatan tampil dan berinteraksi secara langsung dinilai menjadi pengalaman berharga.
“Sekarang anak-anak kebanyakan ke gadget. Jadi interaksi dengan orang lain, kepercayaan diri, dan keberanian untuk tampil itu saya rasa cukup bagus kalau ada acara seperti ini,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara ingin memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan bercerita sekaligus mengekspresikan kreativitas mereka.
Acara yang digelar Eduhouse Academy bersama Mal Ciputra Semarang dan Casablanca Organizer ini menghadirkan empat kategori peserta, yakni Kindergarten, Lower Primary, Upper Primary, dan Junior High.
Selain kesempatan tampil, setiap peserta juga mendapatkan hadiah serta gelar penghargaan khusus. Mereka juga memperoleh fasilitas pelatihan storytelling gratis.
Bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan ini, panggung Halloween bukan sekadar tempat membawakan cerita. Ada pengalaman mengatasi rasa gugup, belajar mengekspresikan diri, dan keberanian untuk berdiri di hadapan banyak orang. (dul)

