BACAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memastikan persoalan jembatan ambrol di Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, bakal ditangani. Pemkot menargetkan pembangunan jembatan permanen agar akses warga Kampung Tambaksari kembali normal.
“Lagi mau dibereskan ini. Itu bangunan tahun berapa, ini kayaknya sudah lama,” kata Agustina saat ditemui di The Suri Ballroom, Kecamatan Semarang Tengah, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, jembatan ambrol di Tambaksari bukan kasus tunggal. Sejumlah jembatan kecil dan talud sungai di Kota Semarang diketahui sudah berusia tua dan mulai runtuh satu per satu.
“Itu memang PR kita. Saya sudah perintahkan Pak Pj Sekda untuk ngecek, pertama jembatan, terutama yang kecil-kecil. Kedua bantaran kali, sungai, atau selokan besar yang bisa kita jangkau,” ungkapnya.
Agustina menegaskan perbaikan infrastruktur ini harus segera diselesaikan, mengingat peringatan dari BMKG terkait potensi curah hujan tinggi dalam waktu ke depan. “Walaupun curah hujan Semarang lebih rendah, tapi kita ini kota dataran rendah,” ujarnya.
Baca juga: Banjir Mangkang, Sinyal Riskannya Infrastruktur Semarang
Terkait rencana pembangunan jembatan permanen di Mangkang Wetan, Pemkot Semarang sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Namun, ada satu kendala krusial: status tanah.
“Tanah di situ bukan milik Pemkot, tapi milik warga. Kalau warganya berkenan diserahkan ke Pemkot, bisa kita bangun. Kalau tidak, nanti kita geser lokasinya ke tanah milik Pemkot,” jelasnya.
Ia menyebut komunikasi dengan pemilik tanah ditargetkan rampung paling lambat Jumat, (30/1/2026) pagi. “Kalau tidak berkenan, berarti prosesnya kita geser,” lanjutnya.
Jalan Alternatif
Selain jembatan, Pemkot juga membuka opsi pembangunan jalan alternatif agar aktivitas warga Tambaksari tidak terus terganggu. “Kalau jalannya milik Pemkot, bisa langsung dibangun. Kalau belum, ya harus dibereskan dulu administrasinya,” kata Agustina.
Rapat lanjutan dijadwalkan digelar Jumat (30/1/2026) untuk memutuskan prioritas penanganan, baik jembatan maupun akses jalan. “Karena jalannya memang nggak kepegang, dan kondisinya jelek banget,” tambahnya.
Sebelumnya, ratusan warga Kampung Tambaksari terpaksa menyeberangi Kali Bringin menggunakan gethek dan perahu darurat setelah jembatan penghubung antar-RW ambrol diterjang banjir pada Kamis (15//20261).
Baca juga: Banyak Lubang Tak Kasat Mata saat Hujan Tiba, Jalan Siliwangi Semarang Diperbaiki
Sekitar 150 warga dari empat RT di sisi timur sungai pun sempat terisolasi. Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling terdampak akibat akses yang terputus.
Di kota besar, warga masih nyebrang pakai gethek. Semoga janji jembatan permanen benar-benar jadi jalan keluar, bukan cuma penyeberangan wacana. Karena ke sekolah dan cari nafkah, idealnya pakai jembatan, bukan dipaksa adu nyali. (tebe)


