BACAAJA, SEMARANG– Selama ini, sampah identik dengan bau menyengat, gunungan limbah, dan urusan yang bikin kepala pening. Tapi, bagaimana kalau sampah organik justru bisa jadi ladang cuan, bahkan berubah menjadi pakan ternak dan pupuk pertanian?
Ide itulah yang mulai dilirik Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti untuk mengubah wajah TPA Jatibarang. Dalam audiensi bersama formulator biodekomposer Mangontang Simanjuntak di Ruang Rapat Wali Kota Semarang, Agustina membahas pengembangan budidaya maggot dan pemanfaatan biodekomposer sebagai alternatif pengolahan sampah organik.
Salah satu gagasan yang mencuat adalah menjadikan kawasan TPA Jatibarang sebagai pusat produksi maggot. Larva lalat tentara hitam ini berpotensi diolah menjadi pakan alternatif untuk ayam dan ikan. Artinya, sampah yang biasanya berakhir di tempat pembuangan bisa punya kehidupan kedua yang lebih produktif.
Baca juga: TPA Jatibarang Terbakar, Pemprov Bentuk Tim Gabungan
Agustina juga ingin pengembangan fasilitas pengolahan sampah tidak melulu bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Skema pembiayaan kreatif atau creative financing dinilai bisa membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Saya ingin membiasakan bahwa creative financing membuat kita tidak harus menggunakan APBD. Kita bisa menggerakkan banyak pihak,” ujarnya. Targetnya, produksi maggot di Jatibarang nantinya memiliki pembeli atau offtaker yang jelas. Salah satu peluangnya adalah memasok kebutuhan pakan bagi masyarakat penerima bantuan ayam, sekaligus mendukung sektor perikanan.
“Kalau TPA Jatibarang itu bisa jadi pabrik maggot, maka kita bisa menciptakan offtaker untuk mengirimkan maggot ini kepada minimal orang-orang yang selama ini diberi bantuan ayam,” jelas Agustina.
Limbah Cair
Tak berhenti pada maggot, pembahasan juga menyasar pemanfaatan biodekomposer untuk mempercepat penguraian sampah organik, mengurangi bau, serta membantu menangani limbah cair di tempat pembuangan sampah (TPS) dan TPA Jatibarang.
Cairan lindi, yang selama ini menjadi salah satu persoalan dalam pengelolaan sampah, juga dibahas potensinya untuk diolah menjadi pupuk hayati bagi sektor pertanian. Dengan begitu, rantai pengolahan sampah diharapkan bisa terhubung dengan kegiatan ekonomi masyarakat.
Mangontang menilai, urusan sampah tak cukup diselesaikan dengan imbauan agar warga rajin memilah. Harus ada manfaat ekonomi yang membuat masyarakat tertarik ikut bergerak.
“Mindset kita paling utama soal sampah. Tapi sampah ini tidak akan bisa kita kerjakan kalau tidak ada ekonominya. Maka kita harus menciptakan ekonomi, salah satunya adalah dengan kandang 5 ekor tadi,” katanya.
Baca juga: Dari Sampah Jadi Harapan! Jalan Menuju TPA Jatibarang Kini Bernama Jalan YB Mangunwijaya
Dalam pertemuan tersebut, Mangontang turut menyerahkan benih padi varietas MSP 65 kepada Pemkot Semarang untuk ditanam sebagai demplot atau lahan percontohan. Varietas itu disebut memiliki masa panen sekitar 60 hari. Uji coba direncanakan memanfaatkan pupuk hayati hasil pengolahan limbah.
Meski menjanjikan, gagasan ini masih membutuhkan persiapan sarana, pengujian teknologi, dan skema kerja sama yang sesuai dengan kondisi lapangan. Jadi, belum cukup hanya punya ide mengubah sampah menjadi berkah.
Sebab, gunungan sampah tak akan mendadak jadi sumber cuan hanya karena rapatnya produktif. Maggot boleh kecil, tetapi pekerjaan rumah mengelola sampah tetap besar. Jangan sampai yang tumbuh subur justru wacana, sementara sampahnya tetap menumpuk. (tebe)

