Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Harapan Petani Tambak Semarang Pupus, ‘Mati’ Bersama Ratusan Ribu Bandeng Yang Bertumbangan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Harapan Petani Tambak Semarang Pupus, ‘Mati’ Bersama Ratusan Ribu Bandeng Yang Bertumbangan

T. Budianto
Last updated: Mei 30, 2025 6:32 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
Imam, salah satu petambak bandeng di Terboyo Kulon, Genuk, Kota Semarang memandangi ikan-ikannya yang mati, kemarin. Tingginya pencemaran air di wilayah tersebut membuat para petambak mengalami gagal panen. (Foto: Bai)
SHARE

Sore itu di pesisir Terboyo Kulon, Semarang, langit mendadak mendung. Hamparan tambak sekira tiga hektare tampak sunyi. Tak ada suara riuh ikan meloncat atau keramba yang bergetar. Hanya air yang menggenang pekat, menyimpan getir dari ratusan ribu benih ikan bandeng yang mati tak lama setelah ditebar.

 

DI tepi tambak itu, Imam (45) berdiri memandangi kolamnya yang kini seperti kuburan massal bagi ikan-ikan bandeng yang gagal tumbuh besar. “Yang mati kalau lima ton, ada, lebih,” tuturnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin laut.

Imam adalah satu dari sekian banyak penggarap tambak di pesisir Semarang yang kehilangan mata pencaharian akibat pencemaran lingkungan. Pria asal Bangetayu, Genuk, Semarang ini sudah menekuni budidaya ikan sejak 2001. Tambak yang dia kelola saat ini bukan milik pribadi, hanya digarap berdasarkan kesepakatan kerja sama. Tapi ia memperlakukannya seolah milik sendiri, menanam harapan dan masa depan keluarga di air tambak itu.

Dengan modal sendiri, Imam membeli bibit, memberi pakan, dan merawat tambak hingga waktunya panen. Tapi panen itu tak pernah datang. Limbah mencemari air, membunuh ribuan ikan. Kerugian? Imam menghitungnya pelan, “Rugi Rp108 juta,” ucapnya masygul.

Tak ada pemasukan sejak ikan-ikan itu mati. Namun istri dan tiga anaknya tetap harus makan. Imam kini menggantungkan hidupnya pada harapan yang nyaris tak bersisa. “Usaha saya dari dulu yang cuma tambak. Hanya itu yang saya bisa,” ujarnya dengan getir.

Meski begitu, ia masih mencoba peruntungan. Tiga pekan setelah kejadian, ia kembali menebar 120.000 ekor benih bandeng, membeli dari langganan lamanya seharga Rp115.000 per seribu ekor. Namun keajaiban tak datang. Keesokan harinya, benih-benih itu mati lagi. “Saya tebar hari Sabtu, hari Minggu langsung pada mati,” katanya sambil menghela napas panjang.

Imam bukan satu-satunya yang mengalami nasib tragis. Slamet Ari Nugroho, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah, menyebutkan setidaknya ada sepuluh penggarap tambak lain di wilayah Terboyo Kulon yang melaporkan kejadian serupa: ikan-ikan mati massal, pendapatan lenyap, masa depan masih menjadi teka-teki.

KNTI kini tengah mendampingi mereka untuk menuntut ganti rugi dari pihak yang diduga mencemari lingkungan. “Kami mendesak tanggung jawab dari industri pencemar. Para petambak ini kehilangan seluruh penghasilan mereka,” tegas Slamet.

Kombinasi Mematikan

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Arwita Mawarti mengakui adanya pencemaran lingkungan di wilayah tersebut. Hasil penelitian lembaganya menyebutkan bahwa kematian massal ikan disebabkan oleh akumulasi polutan dari limbah industri dan domestik. Sebuah kombinasi yang mematikan bagi mahluk air.

Bukan hanya itu, perubahan pola aliran air dan banjir rob memperparah kondisi. Air laut yang masuk ke area tambak membawa serta pencemar dari kawasan industri di sekitarnya. Dalam kondisi itu, tidak ada ruang hidup bagi benih bandeng, hanya jalan menuju kematian.

Meski tambaknya seolah tak lagi bisa diandalkan, Imam tetap enggan menyerah. Ia tahu tak punya banyak pilihan. Tambak adalah satu-satunya keterampilan yang ia miliki, satu-satunya warisan yang bisa ia teruskan pada anak-anaknya, satu-satunya cara ia bertahan. “Masih berharap bisa panen lagi. Entah kapan air ini bersih,” ucapnya pelan.

Kini, ia hanya bisa menunggu. Menunggu tambaknya pulih. Menunggu keadilan dari mereka yang menyebabkan kerusakan. Dan menunggu pemerintah tidak sekadar mencatat kerugian, tapi benar-benar turun tangan memperbaiki.

Imam adalah potret nyata dari dampak pencemaran lingkungan di kawasan pesisir Jawa yang selama ini hanya menjadi bahan diskusi di kampus, aula pemerintah hingga hall hotel berbintang. Hanya tampak sebagai angka dan laporan di atas kertas. Padahal, di baliknya ada keluarga yang kehilangan nafkah dan anak-anak yang kehilangan masa depan. (bai)

You Might Also Like

7 Novel Inspiratif yang Bikin Hidup Terasa Lebih Ringan

The Final Frontier: Delving into the Mysteries of Outer Space

Pneumonia Menyerang Jemaah Haji Indonesia, Kemenkes Minta Kewaspadaan Ditingkatkan

Mbak Ita Hadirkan Ketua Dewan Masjid sebagai Saksi Meringankan

Ini Tampang 4 Preman Ngaku Wartawan, Incar Publik Figur untuk Diperas

TAGGED:Ratusan Ribu Bandeng Petani Tambak mati
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Sidak Legalitas WNA, Warga Malaysia Diduga Langgar Izin Tinggal
Next Article Semarang Zoo Tambah Koleksi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pemprov Relokasi 900 Rumah di Kawasan Tanah Gerak Tegal

Jelang Lebaran, Kepala Daerah Diingatkan Jaga Stabilisasi Harga dan Pasokan

Ilustrasi gerakan sosial 'Setop Bayar Pajak'.

Viral Gerakan ‘Setop Bayar Pajak’ di Jateng, Warga: Ekonomi sedang Tidak Baik-baik Saja

Rawa Pening Disiapkan Jadi Proyek Percontohan

Kursi Kosong di PN Solo: Gusti Moeng dan PB XIV Purbaya Sama-sama Absen

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Bupati Klaten Mas Hamenang saat memberikan sambutan dalam acara pengukuhan pengurus Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Klaten. Foto: dok/humas
Unik

Mas Hamenang Minta DMI Klaten Makmurkan Masjid dan Membina Umat

Juni 18, 2025
Unik

KPK Panggil Gubernur Jatim Khofifah, Ternyata Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah

Juni 20, 2025
Unik

Sneakers Palsu Jadi Tren, Gaya Instan atau Ancaman Industri?

September 2, 2025
Pengurus Kopdes Merah Putih Pekopen menjalankan usaha koperasi dengan menjual saruy-sayuran segar, Kamis (1072025). (humas pemprov)
Unik

Luthfi Klaim Koperasi Merah Putih di Jateng Mampu Serap 68.000 Tenaga Kerja, Bagaimana Perhitungannya?

Juli 12, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Harapan Petani Tambak Semarang Pupus, ‘Mati’ Bersama Ratusan Ribu Bandeng Yang Bertumbangan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?