BACAAJA, JAKARTA – su penyadapan terhadap Presiden Prabowo kembali mengingatkan publik bahwa komunikasi para pemimpin negara ternyata tidak selalu aman dari intaian intelijen. Bukan hanya Indonesia, sejumlah negara besar juga pernah dibuat geger setelah dugaan pemantauan terhadap kepala negara dan pejabat penting mereka terungkap ke publik.
Nama-nama besar seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), Angela Merkel hingga Emmanuel Macron pernah terseret dalam pemberitaan mengenai penyadapan. Ada yang terungkap melalui bocoran dokumen rahasia intelijen, ada pula yang mencuat setelah ditemukan perangkat mencurigakan atau masuknya nomor telepon dalam daftar calon target pengintaian.
Meski sama-sama berkaitan dengan penyadapan, tingkat kepastian setiap kasus berbeda. Ada yang didukung dokumen intelijen, ada yang masih berupa dugaan, bahkan ada yang belum bisa dibuktikan sebagai peretasan secara langsung.
Berikut deretan tokoh penting dunia yang pernah menjadi sorotan dalam kasus penyadapan.
1. BJ Habibie, Percakapan dengan Jaksa Agung Bocor
Periode: Desember 1998–Februari 1999
Mantan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, pernah menghadapi persoalan serius terkait keamanan komunikasi setelah percakapan teleponnya dengan Jaksa Agung M. Andi Ghalib diduga disadap.
Percakapan tersebut berlangsung pada 10 Desember 1998, sehari setelah pemeriksaan terhadap mantan Presiden Soeharto. Rekaman pembicaraan itu kemudian muncul di majalah Panji Masyarakat edisi 24 Februari 1999.
Bocornya percakapan tersebut langsung memunculkan tanda tanya besar. Publik mempertanyakan bagaimana komunikasi antara dua pejabat tinggi negara bisa direkam dan kemudian tersebar ke media.
2. SBY, Telepon Presiden Indonesia Dipantau Australia
Periode pemantauan: Agustus 2009 | Terungkap: November 2013
Mantan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi salah satu tokoh yang terseret dalam skandal penyadapan intelijen Australia. Kasus ini mencuat pada November 2013 setelah ABC News dan The Guardian Australia mengungkap dokumen rahasia yang dibocorkan Edward Snowden.
Dokumen tersebut menunjukkan adanya pemantauan terhadap aktivitas telepon seluler SBY selama 15 hari pada Agustus 2009. Bukan hanya SBY, komunikasi Ani Yudhoyono dan sejumlah pejabat tinggi Indonesia juga dilaporkan masuk dalam sasaran pemantauan.
Pengungkapan itu membuat hubungan Indonesia-Australia memanas. Pemerintah Indonesia bahkan menarik duta besarnya dari Australia dan meminta penjelasan resmi terkait aktivitas intelijen tersebut.
Ketegangan diplomatik kemudian berusaha diredam melalui pembahasan protokol dan kode etik kerja sama kedua negara pada 2014.
3. Jokowi, Tiga Perangkat Mencurigakan Ditemukan
Periode: Desember 2013–Februari 2014
Joko Widodo juga pernah dikaitkan dengan dugaan penyadapan ketika masih menjabat Gubernur DKI Jakarta. Peristiwa ini bermula pada Desember 2013 setelah ditemukan tiga perangkat yang diduga digunakan untuk menyadap di rumah dinasnya.
Informasi tersebut kemudian mencuat ke publik pada Februari 2014 melalui pernyataan Tjahjo Kumolo yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan.
Jokowi turut membenarkan adanya penemuan perangkat tersebut. Namun, ia memilih tidak membesar-besarkan persoalan karena belum diketahui secara pasti siapa yang memasangnya dan apa tujuan di balik tindakan tersebut.
Sampai pemberitaan kasus itu mencuat, identitas pihak yang diduga melakukan penyadapan maupun motifnya belum terungkap secara jelas. Karena itu, peristiwa tersebut tetap berada dalam kategori dugaan penyadapan.
4. Tiga Presiden Prancis Masuk Radar NSA
Periode dokumen: 2006–2012 | Terungkap: Juni 2015
Amerika Serikat juga pernah terseret kontroversi setelah dokumen intelijennya mengungkap dugaan pemantauan terhadap tiga pemimpin Prancis, yakni Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, dan François Hollande.
Informasi tersebut dipublikasikan WikiLeaks pada Juni 2015 berdasarkan dokumen yang diperoleh melalui investigasi bersama media Prancis Mediapart.
Dokumen itu mengindikasikan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) memantau komunikasi ketiga presiden tersebut. Sejumlah pejabat dan diplomat Prancis juga disebut masuk dalam aktivitas pemantauan.
Materi yang terungkap mencakup pembicaraan seputar krisis keuangan global, persoalan utang Yunani, hingga kebijakan politik luar negeri.
Pengungkapan tersebut membuat pemerintah Prancis bereaksi keras. Presiden Hollande meminta penjelasan Washington dan membahas persoalan itu dengan Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama.
Obama kemudian menegaskan komitmen untuk menghentikan praktik penyadapan terhadap pemimpin negara sekutu.
5. Angela Merkel, Telepon Kanselir Jerman Ikut Diintai
Terungkap: Oktober 2013
Nama Angela Merkel menjadi salah satu simbol kontroversi penyadapan intelijen Amerika Serikat terhadap negara sahabat. Pada Oktober 2013, sejumlah media mengungkap dugaan bahwa NSA telah memantau telepon seluler mantan Kanselir Jerman tersebut.
Merkel tidak tinggal diam. Ia langsung menghubungi Presiden Barack Obama untuk meminta penjelasan mengenai laporan tersebut.
Dalam komunikasi itu, Merkel menegaskan bahwa tindakan menyadap pemimpin negara sahabat bisa merusak kepercayaan yang selama ini dibangun melalui hubungan diplomatik.
Kasus tersebut menjadi sorotan internasional karena Jerman dan Amerika Serikat selama ini dikenal memiliki hubungan erat, termasuk dalam bidang keamanan dan kerja sama intelijen.
Peristiwa itu sekaligus memunculkan perdebatan mengenai batas kewenangan badan intelijen, terutama ketika aktivitas pemantauan menyasar pemimpin negara yang justru menjadi mitra strategis.
6. Emmanuel Macron, Nomor Telepon Masuk Daftar Pegasus
Terungkap: Juli 2021
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga pernah masuk dalam pusaran kontroversi pengintaian digital melalui proyek Pegasus. Namanya mencuat setelah investigasi internasional yang dipublikasikan pada Juli 2021.
Investigasi yang melibatkan Forbidden Stories dan sejumlah media internasional itu menelusuri kebocoran sekitar 50.000 nomor telepon yang dipilih sebagai calon target pemantauan oleh klien perusahaan NSO Group.
Nomor yang dikaitkan dengan Macron termasuk dalam daftar tersebut. Temuan ini memicu kekhawatiran bahwa perangkat komunikasi pemimpin Prancis itu berpotensi menjadi sasaran penggunaan perangkat lunak pengintai Pegasus.
Namun, ada hal penting yang perlu digarisbawahi. Amnesty International menjelaskan bahwa pemeriksaan forensik terhadap perangkat para pemimpin dunia tidak berhasil dilakukan untuk memastikan apakah ponsel mereka benar-benar diretas.
NSO Group juga membantah bahwa Macron pernah menjadi target Pegasus milik kliennya.
Dengan demikian, masuknya nomor Macron dalam daftar calon target tidak otomatis membuktikan bahwa ponselnya berhasil diretas.
Penyadapan Jadi Ancaman Serius Hubungan Antarnegara
Deretan kasus tersebut memperlihatkan bahwa penyadapan terhadap tokoh penting bukan sekadar persoalan privasi. Praktik ini juga menyangkut keamanan nasional, kedaulatan negara, hingga kepercayaan dalam hubungan diplomatik.
Kemajuan teknologi membuat aktivitas pengintaian semakin sulit dideteksi. Jika sebelumnya penyadapan banyak dikaitkan dengan intersepsi percakapan telepon, kini perangkat lunak pengintai memungkinkan pemantauan melalui ponsel dengan kemampuan yang jauh lebih kompleks.
Namun, setiap informasi mengenai penyadapan tetap harus dilihat berdasarkan bukti yang tersedia. Dokumen intelijen, temuan perangkat mencurigakan, daftar calon target, dan bukti forensik peretasan merupakan hal berbeda yang tidak bisa disamakan.
Kasus-kasus yang menyeret nama BJ Habibie, SBY, Jokowi, Angela Merkel hingga Emmanuel Macron menjadi pengingat bahwa bahkan pemimpin negara pun tidak sepenuhnya lepas dari ancaman pengintaian. Di tengah persaingan global, keamanan komunikasi pejabat negara bukan lagi sekadar urusan pribadi, melainkan bagian penting dari perlindungan kedaulatan sebuah negara. (*)

