BACAAJA, SEMARANG – Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) tengah sibuk mengusut dugaan kebocoran data setelah kelompok peretas mengaku berhasil mengakses informasi milik puluhan ribu pegawai. Data yang disebut berjumlah sekitar 38.000 orang itu diklaim berasal dari sistem yang berkaitan dengan layanan FBI.
Bukan cuma nama dan jabatan yang disebut ikut terseret. Informasi yang diklaim diperoleh peretas mencakup nomor lencana, alamat rumah, nomor telepon, bahkan data mengenai pasangan pegawai.
Kelompok tersebut kemudian menghubungi sejumlah media dan menunjukkan sampel serta tangkapan layar data sebagai bukti klaim mereka. Berdasarkan laporan BBC yang dikutip Jumat (25/9/2026), sejumlah informasi yang ditampilkan tampak asli, meski skala dan sumber kebocoran masih belum dipastikan secara independen.
Jika data tersebut benar-benar berasal dari lingkungan FBI, dampaknya tentu tidak main-main. Sebab, sebagian informasi yang disebut bocor berkaitan dengan pegawai yang menangani pekerjaan sensitif.
Data yang beredar diklaim mencantumkan informasi terkait penugasan yang berhubungan dengan aktivitas mata-mata China, intelijen Rusia, sampai penindakan terhadap kartel narkoba.
FBI Masih Selidiki Sumber Kebocoran
FBI belum memastikan seluruh data yang beredar benar-benar berasal dari sistem internal lembaga tersebut. Penyelidikan masih berjalan, termasuk kemungkinan adanya masalah pada sistem milik penyedia layanan pihak ketiga.
Lembaga penegak hukum AS itu menyebut tengah bekerja dengan penyedia pihak ketiga yang mendukung FBIJobs.gov. Langkah tersebut dilakukan untuk mencari sumber persoalan sekaligus mengurangi risiko yang mungkin muncul dari dugaan insiden tersebut.
Fokus penyelidikan kini salah satunya mengarah pada bagaimana data tersebut bisa diakses. FBI juga perlu memastikan informasi mana saja yang benar-benar terdampak.
Hacker Klaim Temukan Celah Cloud Oracle
Kelompok peretas mengklaim menemukan celah pada sistem cloud Oracle yang digunakan dalam sejumlah layanan terkait FBI. Mereka menyebut beberapa sistem, termasuk FBIJobs, FBI BEAST, FBI MedLink dan FBI BICS, diduga dapat diakses.
Namun, klaim tersebut belum menjadi bukti bahwa seluruh sistem FBI berhasil ditembus. FBI masih melakukan pengecekan untuk memastikan apakah akses yang diklaim memang terjadi dan dari infrastruktur mana data tersebut diperoleh.
Kemungkinan keterlibatan pihak ketiga menjadi salah satu hal yang ikut diperiksa. Artinya, sumber kebocoran belum tentu berasal langsung dari jaringan internal FBI.
Risikonya Bisa Lebih Serius
Kalau data pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon, informasi keluarga, dan detail pekerjaan benar-benar terekspos, risikonya bisa melebar. Informasi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan, rekayasa sosial, maupun upaya serangan lanjutan.
Terlebih, sebagian data yang diklaim berkaitan dengan pegawai lembaga penegak hukum. Informasi semacam itu bisa menjadi lebih sensitif dibanding sekadar data pribadi biasa.
Meski begitu, penting untuk membedakan antara klaim kelompok peretas dan fakta yang sudah dikonfirmasi. Sampai penyelidikan FBI selesai, jumlah 38.000 data serta asal-usul seluruh informasi tersebut masih belum bisa dianggap sebagai fakta yang telah terverifikasi.
Bukan Sekadar Minta Tebusan
Kasus ini juga punya pola yang sedikit berbeda dari serangan ransomware atau pemerasan digital yang biasanya berujung pada permintaan uang.
Kelompok peretas tersebut mengaku tidak meminta pembayaran. Mereka justru mendesak FBI untuk menarik atau memperbaiki pernyataan sebelumnya yang berkaitan dengan aktivitas kelompok tersebut.
Mereka bahkan mengancam akan mempublikasikan database yang diklaim telah diperoleh apabila FBI tidak melakukan perubahan dalam waktu satu minggu.
Sebelumnya, FBI juga pernah memperingatkan mengenai kelompok tersebut dan menyebut adanya klaim akses terhadap data sensitif yang digunakan untuk menekan pihak tertentu.
Investigasi Masih Berjalan
Untuk saat ini, FBI masih berusaha mengurai bagaimana akses bisa terjadi dan seberapa banyak informasi yang benar-benar terdampak. Penyelidikan juga akan menentukan apakah sumber masalah berasal dari sistem FBI atau infrastruktur milik perusahaan pihak ketiga.
Dengan begitu, klaim mengenai kebocoran puluhan ribu data pegawai FBI masih perlu dilihat dengan hati-hati. Kepastian mengenai sumber data, jumlah informasi yang bocor, serta tingkat dampaknya baru bisa diketahui setelah investigasi selesai. (*)

