BACAAJA, JAKARTA – Jutaan halaman di Facebook dan Instagram yang diduga sengaja disiapkan untuk menjalankan penipuan berhasil dibereskan Meta. Operasi tersebut dilakukan setelah perusahaan mendapat informasi intelijen dari Kepolisian Singapura atau Singapore Police Force (SPF).
Tak tanggung-tanggung, lebih dari 3,6 juta halaman ditindak Meta pada Juli 2026. Halaman-halaman itu disebut belum tentu terlihat mencurigakan karena bisa saja belum menampilkan iklan maupun konten yang melanggar aturan.
Informasi dari SPF membantu Meta mendeteksi halaman yang sewaktu-waktu bisa diaktifkan untuk menjalankan kampanye penipuan. Kerja sama kedua pihak ini sudah berjalan sekitar dua tahun dengan pertukaran informasi mengenai pola dan aktivitas penipuan.
Halaman Bisa Aktif Kapan Saja
Meta menyebut halaman yang menjadi sasaran operasi merupakan salah satu pola baru yang digunakan jaringan penipu. Dari luar, halaman tersebut bisa terlihat biasa saja dan belum menunjukkan aktivitas yang mencurigakan.
Namun, halaman itu dapat diaktifkan kapan saja ketika pelaku sudah siap menjalankan aksinya. Karena itu, informasi awal dari aparat menjadi penting untuk membantu platform mendeteksi infrastruktur yang berpotensi dipakai dalam penipuan.
Senior Assistant Commissioner sekaligus Komandan Cyber Command SPF Justin Wong mengatakan, kerja sama dengan perusahaan teknologi membuat pertukaran informasi terkait aktivitas penipuan bisa dilakukan lebih cepat.
“Dengan bekerja sama erat dengan mitra di industri, kami dapat berbagi informasi mengenai indikasi penipuan yang memungkinkan mitra kami mengambil tindakan untuk mengganggu infrastruktur kriminal yang digunakan dalam penipuan ini,” kata Justin, dikutip dari Mothership, Rabu (23/9/2026).
Ratusan Ribu Entitas Ikut Ditindak
Operasi bersama Meta dan SPF ternyata tidak berhenti pada jutaan halaman yang disiapkan untuk penipuan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, informasi dari kepolisian Singapura juga membuat Meta menindak lebih dari 113.000 entitas yang mayoritas berkaitan dengan penipuan investasi.
Modus yang ditemukan antara lain menawarkan keuntungan tinggi atau bahkan menjanjikan keuntungan yang disebut pasti kepada calon korban. Pola seperti ini menjadi salah satu bentuk penipuan yang terus diwaspadai di platform digital.
Selain penipuan investasi, lebih dari 33.600 entitas terkait penipuan e-commerce juga ikut ditindak. Pelaku menggunakan berbagai cara untuk membuat calon pembeli percaya dan segera melakukan transaksi.
Harga Palsu hingga Promo Abal-Abal
Dalam kasus penipuan e-commerce, modus yang ditemukan cukup beragam. Mulai dari mencantumkan harga yang menyesatkan, membuat promosi palsu dengan membawa nama merek terkenal, sampai memberikan klaim berlebihan mengenai produk.
Ada pula strategi yang sengaja dibuat untuk membuat calon korban merasa harus segera membeli. Tekanan seperti ini dapat membuat pengguna mengambil keputusan tanpa sempat mengecek informasi produk atau penjual lebih dulu.
Kerja sama antara perusahaan teknologi dan aparat juga berjalan dua arah. Informasi dari Meta sebelumnya turut membantu SPF dalam menangani kasus lain yang berkaitan dengan aktivitas ilegal.
Meta dan Polisi Saling Berbagi Informasi
Pada Oktober 2025, informasi yang diberikan Meta membantu SPF menangkap tujuh pria yang diduga terlibat dalam operasi perjudian jarak jauh ilegal lintas negara. Kasus tersebut menjadi salah satu contoh pertukaran informasi antara perusahaan teknologi dan aparat penegak hukum.
Selain melakukan penindakan, Meta bersama SPF dan Singapore National Crime Prevention Council (NCPC) juga mendorong masyarakat supaya lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital.
Pada 2026, kampanye edukasi bertajuk “One Step Ahead” yang digelar bersama disebut telah menjangkau sekitar 1,6 juta orang di Singapura. Kampanye ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran pengguna soal ancaman penipuan online.
Pengguna Diminta Perkuat Keamanan
Meta juga mengingatkan pengguna Facebook dan Instagram untuk memperkuat keamanan akun. Salah satu langkah yang disarankan adalah mengaktifkan autentikasi dua faktor atau 2FA.
Pengguna juga bisa menggunakan passkey sebagai lapisan keamanan tambahan. Fitur tersebut dapat membantu mengurangi risiko akun diakses pihak lain tanpa izin.
Sementara bagi pengguna WhatsApp, Meta menyarankan agar notifikasi perangkat tertaut diaktifkan. Dengan begitu, pengguna bisa lebih cepat mengetahui apabila ada perangkat lain yang terhubung ke akun mereka.
Upaya memberantas penipuan digital tidak hanya mengandalkan pemblokiran akun atau halaman. Pertukaran informasi antara aparat, platform teknologi, dan edukasi kepada pengguna menjadi bagian dari langkah yang dilakukan untuk mengurangi ruang gerak pelaku penipuan. (*)

