Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Sastra Indonesia Bisa Mendunia? Semitra X UPGRIS Ungkap Strateginya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Sastra Indonesia Bisa Mendunia? Semitra X UPGRIS Ungkap Strateginya

R. Izra
Last updated: November 5, 2026 6:06 pm
By R. Izra
5 Min Read
Share
BINCANG SASTRA - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), menggelar Seminar Nasional Literasi (Semitra) X secara daring pada Rabu (4/11/2026).
BINCANG SASTRA - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), menggelar Seminar Nasional Literasi (Semitra) X secara daring pada Rabu (4/11/2026).
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Indonesia punya kekayaan khazanah sastra luar biasa. Tentunya, sastra Indonesia punya peluang untuk mendunia. Namun gimana caranya agar sastra Indonesia mendunia, dibicarakan di pangung-panggung internasional?

Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan utama dalam Seminar Nasional Literasi (Semitra) X yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Rabu (4/11/2026).

Mengusung tema “Sastra Indonesia Mendunia: Integrasi Teori, Praksis Komunitas, dan Pengajaran BIPA pada Era Global”, seminar yang berlangsung secara daring ini menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi sastra.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan I FPBS UPGRIS, Raden Yusuf Sidiq Budiawan, yang mewakili Dekan FPBS. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi.

“Tujuannya, agar bahasa dan sastra Indonesia nggak hanya berkembang di negeri sendiri, tetapi juga bisa menjadi bagian dari diplomasi budaya di tingkat dunia,” ujarnya.

Salah satu pembahasan menarik datang dari akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Else Liliani. Ia menyoroti pentingnya membangun teori sastra yang berangkat dari pemikiran dan budaya Indonesia sendiri.

Menurut Else, sastra Indonesia akan sulit berkembang secara mandiri jika para akademisi terus bergantung pada teori-teori Barat. Padahal, Indonesia punya banyak pemikiran sastra yang layak diperkenalkan ke dunia.

Dua contohnya adalah konsep Sastra Profetik dari Kuntowijoyo dan gagasan Alih Wahana dari Sapardi Djoko Damono.

Else menilai teori lokal jangan hanya dijadikan pelengkap dalam penelitian sastra. Sebaliknya, pemikiran tersebut harus menjadi pijakan utama agar akademisi Indonesia punya kontribusi nyata dalam diskusi sastra internasional.

Pembahasan kemudian berlanjut ke dunia komunitas sastra. Sastrawan sekaligus pegiat komunitas, Faisal Syahreza, mengangkat tantangan komunitas sastra lokal di tengah perubahan dunia digital.

Pendiri Yayasan Semesta Ruang Tumbuh itu melihat komunitas sastra menghadapi pilihan yang nggak mudah. Bertahan dengan cara tradisional bisa membuat mereka sulit berkembang. Namun, terlalu mengikuti tren media sosial juga berisiko membuat karya kehilangan kedalaman dan nilai estetikanya.

Faisal menyebut fenomena kejenuhan digital (digital fatigue) dan persaingan mendapatkan perhatian di media sosial sebagai tantangan baru.

Karena itu, ia mendorong komunitas sastra membangun Digital Commons, yaitu ruang publik digital bersama yang lebih mandiri dan mengedepankan etika.

“Kekuatan komunitas sastra justru terletak pada identitas lokal. Mulai dari bahasa, mitos, hingga persoalan nyata yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” paparnya.

Identitas tersebut bisa menjadi modal untuk menjangkau pembaca global. Apalagi, sekarang ada banyak cara kreatif untuk memperkenalkan sastra, seperti puisi multimedia, fiksi hiperteks, hingga karya kolaboratif.

Sementara itu, pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Beijing Foreign Studies University (BFSU), Tiongkok, Hendy Yuniarto, membahas peluang sastra sebagai sarana memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia. Menurut Hendy, karya sastra bisa menjadi media diplomasi budaya melalui pembelajaran BIPA.

Ia juga membagikan pengalamannya dalam memilih cerita rakyat dan teks sastra sebagai bahan ajar bagi pembelajar asing tingkat menengah.

Salah satu bahan yang bisa dimanfaatkan adalah seri Sahabatku Indonesia: Memahami Indonesia Melalui Sastra terbitan Kemendikdasmen.

Melalui pendekatan ini, pembelajar asing nggak hanya belajar bahasa Indonesia. Mereka juga bisa mengenal budaya, keunikan, dan kehidupan masyarakat Indonesia lewat karya sastra.

Nggak kalah menarik, Dr. Siti Fatimah, dari UPGRIS turut membahas cara memahami puisi melalui pendekatan versifikasi.

Ia menjelaskan bahwa bentuk puisi, rima, dan ritme punya peran penting dalam membangun makna serta keindahan sebuah karya. Pendekatan ini juga bisa digunakan untuk memperkuat pembelajaran sastra di perguruan tinggi maupun meningkatkan apresiasi masyarakat.

Seluruh sesi utama dipandu moderator Dr. Muhajir. Diskusi berlangsung interaktif dan diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah, mulai dari dosen, guru, mahasiswa, hingga praktisi pendidikan.

Dari seminar ini, satu hal menjadi sorotan: membawa sastra Indonesia ke panggung dunia nggak cukup hanya dengan menerjemahkan karya ke bahasa asing.

Diperlukan teori sastra yang kuat dan berakar pada budaya sendiri, komunitas yang aktif, metode pengkajian yang tepat, serta pengajaran BIPA yang semakin berkembang.

Ketua Program Studi PBSI FPBS UPGRIS, Dr. Eva Ardiana Indrariani, mengatakan Semitra X merupakan bagian dari komitmen prodi untuk terus mengikuti perkembangan bahasa dan sastra Indonesia di tingkat global.

Ia berharap seminar ini nggak berhenti sebagai diskusi akademis semata. Lebih dari itu, forum tersebut diharapkan bisa melahirkan rekomendasi dan kolaborasi nyata antara akademisi, komunitas sastra, serta pengajar BIPA.

Dengan begitu, sastra Indonesia bukan hanya dikenal di negeri sendiri, tetapi juga punya tempat dan daya saing di dunia internasional. (*)

You Might Also Like

PDIP Tetap Ngotot Pilkada Langsung

Jadi Tuan Rumah, Luthfi Targetin Jateng Juara Umum Pomnas XIX

PSIS Datangkan Felipe Cadenazzi, Bomber Argentina dengan Rekam Jejak 27 Gol

Jepang Siaga! 53 Perusahaan Diserbu Hacker

Portal BSB Ambruk, Solusi Setengah Matang? Pengendara: Niatnya Aman, Malah Bikin Rawan!

TAGGED:sastra indonesiasastra indonesia menduniasemitra xupgris
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pemprov Kebut Perbaikan Talud Jalur Kudus-Colo
Next Article Modal Rp3 Juta, Film Siswa Pandanarum Go Internasional

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ditanya Penyadapan Listyo Sigit, Jokowi Pilih Diam

Dari SBY hingga Macron, Deretan Pemimpin Dunia yang Pernah Disadap

Semarang Bakal Punya Festival Sastra Besar, Agustina Ingin Puisi Turun ke Jalan

Modal Rp3 Juta, Film Siswa Pandanarum Go Internasional

BINCANG SASTRA - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), menggelar Seminar Nasional Literasi (Semitra) X secara daring pada Rabu (4/11/2026).

Sastra Indonesia Bisa Mendunia? Semitra X UPGRIS Ungkap Strateginya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Soal Kebakaran dan Kekeringan, PDAM: Air Gratis

Januari 6, 2026
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti.
Pendidikan

Isu Anggaran Disentil, MBG Diklaim Aman Kok

Februari 20, 2026
Sepak Bola

PSIS Siap Ganggu Mimpi PSS di Sleman

April 30, 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan penolakannya terhadap rencana Tax Amnesty Jilid III. Ia menilai kebijakan itu bisa merusak kredibilitas pemerintah dan justru memberi insentif bagi wajib pajak nakal.
Ekonomi

Purbaya Ngaku: Suntikan Triliunan ke Himbara Belum Ngefek

Januari 1, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Sastra Indonesia Bisa Mendunia? Semitra X UPGRIS Ungkap Strateginya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?