BACAAJA, SEMARANG – Indonesia punya kekayaan khazanah sastra luar biasa. Tentunya, sastra Indonesia punya peluang untuk mendunia. Namun gimana caranya agar sastra Indonesia mendunia, dibicarakan di pangung-panggung internasional?
Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan utama dalam Seminar Nasional Literasi (Semitra) X yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Rabu (4/11/2026).
Mengusung tema “Sastra Indonesia Mendunia: Integrasi Teori, Praksis Komunitas, dan Pengajaran BIPA pada Era Global”, seminar yang berlangsung secara daring ini menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi sastra.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan I FPBS UPGRIS, Raden Yusuf Sidiq Budiawan, yang mewakili Dekan FPBS. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi.
“Tujuannya, agar bahasa dan sastra Indonesia nggak hanya berkembang di negeri sendiri, tetapi juga bisa menjadi bagian dari diplomasi budaya di tingkat dunia,” ujarnya.
Salah satu pembahasan menarik datang dari akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Else Liliani. Ia menyoroti pentingnya membangun teori sastra yang berangkat dari pemikiran dan budaya Indonesia sendiri.
Menurut Else, sastra Indonesia akan sulit berkembang secara mandiri jika para akademisi terus bergantung pada teori-teori Barat. Padahal, Indonesia punya banyak pemikiran sastra yang layak diperkenalkan ke dunia.
Dua contohnya adalah konsep Sastra Profetik dari Kuntowijoyo dan gagasan Alih Wahana dari Sapardi Djoko Damono.
Else menilai teori lokal jangan hanya dijadikan pelengkap dalam penelitian sastra. Sebaliknya, pemikiran tersebut harus menjadi pijakan utama agar akademisi Indonesia punya kontribusi nyata dalam diskusi sastra internasional.
Pembahasan kemudian berlanjut ke dunia komunitas sastra. Sastrawan sekaligus pegiat komunitas, Faisal Syahreza, mengangkat tantangan komunitas sastra lokal di tengah perubahan dunia digital.
Pendiri Yayasan Semesta Ruang Tumbuh itu melihat komunitas sastra menghadapi pilihan yang nggak mudah. Bertahan dengan cara tradisional bisa membuat mereka sulit berkembang. Namun, terlalu mengikuti tren media sosial juga berisiko membuat karya kehilangan kedalaman dan nilai estetikanya.
Faisal menyebut fenomena kejenuhan digital (digital fatigue) dan persaingan mendapatkan perhatian di media sosial sebagai tantangan baru.
Karena itu, ia mendorong komunitas sastra membangun Digital Commons, yaitu ruang publik digital bersama yang lebih mandiri dan mengedepankan etika.
“Kekuatan komunitas sastra justru terletak pada identitas lokal. Mulai dari bahasa, mitos, hingga persoalan nyata yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” paparnya.
Identitas tersebut bisa menjadi modal untuk menjangkau pembaca global. Apalagi, sekarang ada banyak cara kreatif untuk memperkenalkan sastra, seperti puisi multimedia, fiksi hiperteks, hingga karya kolaboratif.
Sementara itu, pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Beijing Foreign Studies University (BFSU), Tiongkok, Hendy Yuniarto, membahas peluang sastra sebagai sarana memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia. Menurut Hendy, karya sastra bisa menjadi media diplomasi budaya melalui pembelajaran BIPA.
Ia juga membagikan pengalamannya dalam memilih cerita rakyat dan teks sastra sebagai bahan ajar bagi pembelajar asing tingkat menengah.
Salah satu bahan yang bisa dimanfaatkan adalah seri Sahabatku Indonesia: Memahami Indonesia Melalui Sastra terbitan Kemendikdasmen.
Melalui pendekatan ini, pembelajar asing nggak hanya belajar bahasa Indonesia. Mereka juga bisa mengenal budaya, keunikan, dan kehidupan masyarakat Indonesia lewat karya sastra.
Nggak kalah menarik, Dr. Siti Fatimah, dari UPGRIS turut membahas cara memahami puisi melalui pendekatan versifikasi.
Ia menjelaskan bahwa bentuk puisi, rima, dan ritme punya peran penting dalam membangun makna serta keindahan sebuah karya. Pendekatan ini juga bisa digunakan untuk memperkuat pembelajaran sastra di perguruan tinggi maupun meningkatkan apresiasi masyarakat.
Seluruh sesi utama dipandu moderator Dr. Muhajir. Diskusi berlangsung interaktif dan diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah, mulai dari dosen, guru, mahasiswa, hingga praktisi pendidikan.
Dari seminar ini, satu hal menjadi sorotan: membawa sastra Indonesia ke panggung dunia nggak cukup hanya dengan menerjemahkan karya ke bahasa asing.
Diperlukan teori sastra yang kuat dan berakar pada budaya sendiri, komunitas yang aktif, metode pengkajian yang tepat, serta pengajaran BIPA yang semakin berkembang.
Ketua Program Studi PBSI FPBS UPGRIS, Dr. Eva Ardiana Indrariani, mengatakan Semitra X merupakan bagian dari komitmen prodi untuk terus mengikuti perkembangan bahasa dan sastra Indonesia di tingkat global.
Ia berharap seminar ini nggak berhenti sebagai diskusi akademis semata. Lebih dari itu, forum tersebut diharapkan bisa melahirkan rekomendasi dan kolaborasi nyata antara akademisi, komunitas sastra, serta pengajar BIPA.
Dengan begitu, sastra Indonesia bukan hanya dikenal di negeri sendiri, tetapi juga punya tempat dan daya saing di dunia internasional. (*)

