BACAAJA, SEMARANG – Menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah memperkuat layanan kesehatan hewan keliling atau Healing. Petugas disiapkan untuk turun langsung ke kandang dan peternakan, mengantisipasi penyakit sebelum terlambat ditangani.
Kepala Distanak Jateng, Defrancisco Dasilva Tavares atau Frans, mengatakan layanan HeaLing mengedepankan pendekatan jemput bola. Pemerintah tidak sekadar menunggu laporan peternak, tetapi aktif mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi hewan sekaligus melakukan pencegahan.
“Dengan HeaLing, kita jemput bola. Jadi, bukan hanya menunggu laporan dari masyarakat, tetapi kita datang langsung ke peternak untuk melakukan pemeriksaan dan pencegahan,” kata Frans saat ditemui di kantornya, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, peningkatan pergerakan hewan ternak menjelang akhir tahun berpotensi memperbesar risiko penyebaran penyakit. Karena itu, pengawasan dan pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan lebih awal.
Sejak diluncurkan pada Februari hingga Oktober 2026, HeaLing telah menjalankan 34 kegiatan di 17 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Layanan tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, pengobatan, pelayanan reproduksi, pengambilan sampel, hingga edukasi mengenai pencegahan penyakit dan biosekuriti.
Frans mengatakan, setiap kegiatan lapangan tidak berhenti pada pemeriksaan. Petugas juga melakukan evaluasi untuk menentukan penanganan lanjutan berdasarkan temuan di lapangan.
“Setelah kegiatan di lapangan, kami evaluasi bersama. Kasus apa yang ditemukan, bagaimana penanganannya, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jadi, ada tindak lanjut, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang,” ujarnya.
Jika ditemukan laporan peningkatan kasus penyakit atau kematian hewan, petugas akan diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan. Penanganan bisa berupa pengobatan, vaksinasi, penelusuran penyebaran penyakit, hingga pemantauan distribusi hewan.
Menurut Frans, kecepatan penanganan menjadi kunci agar penyakit tidak telanjur menyebar.
“Kalau kita hanya menunggu laporan, penanganannya bisa terlambat. Dengan turun langsung, peternak juga mendapatkan edukasi sehingga mereka bisa lebih cepat mengenali apabila ada hewan yang menunjukkan gejala penyakit,” tutupnya. (dul)

