BACAAJA, SEMARANG – Anak-anak dengan kostum penyihir, sayap kupu-kupu, hingga jubah hitam tampak meramaikan lantai dua Mal Ciputra Semarang, Minggu (1/11/2026). Bukan sekadar merayakan Halloween, mereka datang untuk menunjukkan kemampuan bercerita dalam bahasa Inggris melalui Treats & Tales: Halloween Storytelling Parade.
Sejumlah orang tua tampak mengantar dan mendampingi anak-anak mereka. Di area acara, peserta bersiap mengikuti perlombaan, sementara panggung dihiasi dekorasi khas Halloween. Beberapa anak bahkan membawa properti pendukung, seperti buku cerita hingga apel, untuk membuat penampilan mereka semakin menarik.
Kegiatan yang digelar EduHouse Academy tersebut menjadi ruang bagi anak-anak tingkat TK hingga SMP untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris sekaligus membangun kepercayaan diri.
Vice Director EduHouse Academy, Natasha Maylina (27), mengatakan lomba storytelling dipilih karena dapat membantu anak meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, terutama dalam keterampilan berbicara atau speaking.
Menurutnya, kemampuan berbicara menjadi salah satu dasar penting sebelum anak mengembangkan keterampilan bahasa lainnya.
“Anak-anak juga penting untuk meningkatkan kualitas bahasanya. Bahasa Inggris bisa ditingkatkan melalui storytelling. Belajar bahasa Inggris bisa dimulai dari speaking,” ujarnya saat di temui di lantai dua Mal Ciputra Semarang.
Dalam perlombaan tersebut, peserta dibagi menjadi empat kategori, yakni Kindergarten, Lower Primary (SD kelas 1–3), Upper Primary (SD kelas 4–6), dan Junior High (SMP).
Setiap peserta diminta membawakan cerita atau deskripsi bertema Halloween menggunakan bahasa Inggris selama 2,5 hingga 5 menit tanpa membaca teks. Kostum dan properti diperbolehkan untuk mendukung penampilan.
Natasha menilai kemampuan peserta yang tampil cukup baik. Bahkan, sekitar 80 persen peserta dinilainya sudah mampu menggunakan bahasa Inggris dengan lancar dan menyampaikan cerita dari awal hingga akhir tanpa bantuan teks.
“Kalau saya lihat, sekitar 80 persen sudah menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Mereka benar-benar bisa menceritakan kisahnya dari awal sampai akhir tanpa teks,” jelasnya.
Selain memberikan pengalaman tampil, penyelenggara juga menyiapkan apresiasi bagi seluruh peserta berupa hadiah dan predikat khusus sesuai penampilan masing-masing. Peserta juga memperoleh kesempatan mengikuti coaching public speaking gratis selama tiga bulan yang dijadwalkan mulai Desember 2026.
Natasha berharap kegiatan semacam ini dapat mendorong anak-anak semakin semangat belajar bahasa Inggris dan lebih percaya diri menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui panggung sederhana bertema Halloween, anak-anak tidak hanya belajar menyusun cerita dalam bahasa asing, tetapi juga mendapat kesempatan untuk berani berbicara dan menunjukkan kemampuan mereka di hadapan banyak orang. (dul)

