Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Yang Mungkin Tidak Bisa Dilakukan AI Perihal Cara Mendidik Manusia
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Yang Mungkin Tidak Bisa Dilakukan AI Perihal Cara Mendidik Manusia

Redaktur Opini
Last updated: Oktober 23, 2026 8:35 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Rizqho Aji Prayoga, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang asal Rembang. Domisili di Semarang. Kini, ia menjadi bagian dari Reaksi Kolektif.

Kita perlu kembali memikirkan apa yang sesungguhnya membuat seseorang menjadi terdidik.

Ada sesuatu yang belakangan ini saya pikirkan tentang AI (akal imitasi atau Artificial Intelligence) dan pendidikan. Ketika pengetahuan semakin mudah diperoleh, ketika berbagai pertanyaan bisa kita ajukan dan jawaban bisa kita dapatkan dalam hitungan detik, saya justru bertanya-tanya tentang sesuatu yang lebih mendasar: apa sebenarnya yang kita cari dari pendidikan?

Pertanyaan itu kembali muncul setelah saya membaca tulisan Muhajir berjudul “Mungkinkah Kelak AI Menggantikan Peran Pengajar?” (bacaaja.co, 8 Oktober 2026) tentang kemungkinan akal imitasi menggantikan peran pengajar.

Sebagai dosen yang turut mendidik saya, sekaligus seseorang yang memiliki ikatan dengan perjalanan saya di Lembaga Pers Mahasiswa, tulisan beliau membuat saya memikirkan persoalan itu sari sudut pandang yang berbeda.

Saya tidak merasa memiliki jawaban pasti untuk menjawab kegelisahan beliau. Toh, siapa yang benar-benar tahu bagaimana masa depan akan berjalan? Namun, saya merasa ada pertanyaan lain yang juga layak diajukan. Bukan hanya apakah akal imitasi kelak akan menggantikan peran pengajar, melainkan cara kita memahami arti pendidikan ketika pengetahuan semakin mudah diperoleh melalui akal imitasi.

Hari ini kita bisa mencari berbagai informasi dan mempelajari banyak hal melalui akal imitasi seperti chat gpt, misalnya. Sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu untuk ditemukan dan dipahami melalui berbagai sumber, kini bisa kita tanyakan dan pelajari dengan lebih mudah. Akal imitasi membantu kita memperoleh pengetahuan, menjelaskan sesuatu yang belum kita pahami, bahkan kemungkinan untuk melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam hal ini, saya melihat akal imitasi sebagai alat yang dapat membantu proses belajar manusia. Namun, saya kemudian betanya-tanya. Apakah memperoleh pengetahuan saja sudah cukup untuk membuat seseorang menjadi manusia yang terdidik?

Bagi saya, pengetahuan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari seseorang kepada orang lain. Jika Pendidikan dipahami sebagai kegiatan menyampaikan materi, barangkali kita memang akan semakin sulit menemukan alasan mengapa seorang pengajar masih dibutuhkan ketika akal imitasi mampu membantu kita mempelajari banyak hal.

Akan tetapi, pendidikan semestinya tidak berhenti pada suatu hal yang diketahui seseorang, melainkan juga menyangkutcara ia memahami, mempertimbangkan,dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupannya.

Di sinilah saya memandang bahwa peran seorang pengajar tidak begitu saja disederhanakan menjadi penyampai ilmu pengetahuan. Ada pengalaman yang dibagikan. Ada keteladanan yang bisa dipelajari. Ada pemikiran yang dipertanyakan. Dan ada kesempatan bagi seseorang untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbada dari hal yang selama ini diyakininya. Melalui proses tersebut, seseorang tidak hanya belajar mengetahui sesuatu, tetapi juga belajar memahami dirinya sendiri dan orang lain.

Kita bisa mempelajari pengertian jujur melalui akal imitasi. Kita juga bisa memperoleh penjelasan tentang arti menghargai perbedaan. Namun, pendidikan tidak selesai ketika kita mampu menjelaskan kedua hal tersebut.

Ada proses ketika kita berhadapan dengan pilihan, ketika keyakinan kita diuji, atau ketika kita perlu mengakui bahwa pendapat kita ternyata keliru. Dalam perjuampaan dengan sesama manusia, kita berkesempatan belajar melalui pengalaman yang tidak cukup hanya dijelaskan lewat kata-kata.

Tentu, saya tidak sedang mengatakan bahwa akal imitasi tidak mampu membantu seseorang berpikir kritis, memahami nilai-nilai, atau menemukan prespektif lain. Akal imitasi bisa membantu proses itu. Namun, kemampuan memberikan penjelasan tentang suatu nilai tidak serta-merta sama dengan menjalani nilai tersebut dalam kehidupan. Di sinilah  saya melihat perbedaan antara memperoleh pengetahuan dan menjalani proses pendidikan.

Barangkali, karena itu pula saya memandang akal imitasi sebagai alat yang dapat membantu manusia dalam proses menjadi manusia terdidik. Bukan sebagai sesuatu yang dengan sendirinya menggantikan seluruh proses pendidikan.

Alat diciptakan untuk membantu manusia melakukan sesuatu dengan mudah. Namun, kemudahan memperoleh pengetahuan tidak seharusnya membuat kita melupakan proses yang menjadikan pengetahuan itu bermakna bagi kehidupan manusia.

Meski demikian, saya juga tidak ingin menutup kemungkinan bahwa kehadiaran akal imitasi akan mengubah cara kita memahami pendidikan. Kita belum tahu proses belajar-mengajar akan berkembang ke arah yang seperti apa. Akankah peran pengajar akan berubah? Atau batas-batas apa yang kelak dapat dilampaui oleh teknologi.

Saya tidak memiliki jawaban pasti tentang semua itu. Namun, berdasarkan apa yang saya pahami hari ini, saya masih meyakini bahwa pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar akses terhadap pengetahuan. Pendidikan membutuhkan proses mendidik, dan dalam proses tersebut, kehadiran seorang pengajar tetap memiliki arti penting.

Bukan karena pengajar selalu mengatahui lebih banyak daripada peserta didiknya, melainkan karena tugas mendidik tidak hanya menyangkut apa yang diajarkan. Tetapi juga cara manusia belajar berpikir, bersikap, dan memahami kehidupan bersama manusia lainnya.

Lantas, bukankah manusia yang terdidik selalu membutuhkan pengajar? Barangkali pertanyaan ini tidak perlu segera dijawab dengan kepastian. Sebab, jika pendidikan bukan hanya sekadar perkara mengetahui sesuatu, melainkan juga proses memahami dan menghayati pengetahuan dalam kehidupan, kita perlu kembali memikirkan apa yang sesungguhnya membuat seseorang menjadi terdidik.

Di tengah segala kemudahan yang ditawarkan akal imitasi, jangan-jangan yang perlu kita pertanyakan bukan hanya sejauh mana teknologi dapat membantu manusia belajar, melainkan juga apakah kita masih memberi ruang bagi proses pendidikan yang membuat manusia sanggup menjadi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai perikemanusiaan? (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Ketika Gen Z Keliru Memahami Spiritualitas Jawa

Ke Mana Para Loyalis Itu?

Mengapa Perlakuan Hukum Terhadap Koruptor Berbeda?

Tubuh Mahasiswa Bukan Wilayah Otoritas Akademik

Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article UAH Sentil Pemilik Kendaraan, Sudah Dipakai Ibadah?
Next Article Purbalingga Kirim 200 Calon Pekerja Global pada 2027

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Seluruh Jalur Pendakian Gunung di Jateng Diminta Tutup Sementara

KHUSYUK - 1.328 hafiz dan hafizah menggelar khataman Alquran bareng di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonosobo pada puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini mengantarkan Wonosobo raih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Keren! Wonosobo Raih Rekor MURI pada HSN 2026, 1.328 Hafiz dan Hafizah Khataman Alquran Bareng

LATIHAN TANGANI INSIDEN: Petugas Bandara Ahmad Yani Semarang sedang latihan menangani insiden kebakaran pesawat. (ist)

Bandara Ahmad Yani Latihan Tangani Kecelakaan Pesawat dan Kebakaran

Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya (DWS).

Dari Taruna Nusantara TN5 hingga Senayan, Uniknya Perjalanan Karier Politik Danang Wicaksana Sulistya

PABRIK OBAT KERAS - Pejalan kaki melintas di depan pabrik obat keras ilegal berkedok pabrik botol dan pabrik kardus di Jalan Indronoto, Dusun II, Desa Wirogunan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (22/10/2026).

Pabrik Obat Keras di Sukoharjo Digrebek Polisi, Pemdes: Bilangnya Pabrik Kardus

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Menerima Kesedihan dengan Tangan Terbuka

November 28, 2025
Ilustrasi anak-anak korban keracunan massal mendapat perawatan medis di fasilitas pelayanan kesehatan.
Opini

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

September 20, 2025
Opini

Bio IG-mu Bukan Rekam Medis

September 30, 2026
Opini

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Februari 11, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Yang Mungkin Tidak Bisa Dilakukan AI Perihal Cara Mendidik Manusia
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?