BACAAJA, TEGAL– Santri bukan cuma jago mengaji, bershalawat, atau menghafal kitab. Di balik sarung dan peci, ada potensi besar untuk ikut menentukan masa depan bangsa. Tapi, potensi itu tentu butuh dukungan nyata, bukan sekadar tepuk tangan saat Hari Santri tiba.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyebut, Jateng memiliki sekitar 5.400 pondok pesantren dengan 555.000 santri. Jumlah tersebut menjadi modal sosial yang perlu diperkuat agar pesantren tak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berkiprah di berbagai bidang.
Hal itu disampaikan Luthfi saat menghadiri Jateng Bersholawat dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kota Tegal, Rabu (21/10). “Hari Santri ini untuk mengenang dan menghormati Resolusi Jihad dalam melawan penjajah yang dulu dilaksanakan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan para santri,” kata Luthfi.
Pemprov Jateng, lanjut dia, berupaya memperkuat dukungan lewat program Pesantren Obah. Bentuknya antara lain beasiswa pendidikan, insentif guru agama, tali asih bagi penghafal Alquran, serta hibah dan bantuan renovasi pondok pesantren maupun masjid.
Baca juga: 824 Santri Turun Gelanggang di Porsadin VIII Jateng
Pada 2026, anggaran beasiswa disiapkan sebesar Rp6,8 miliar untuk pendidikan di dalam dan luar negeri. Dari 942 pendaftar, sebanyak 15 santri lolos untuk melanjutkan studi ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok.
Sebanyak 424 santri yang menempuh pendidikan di Ma’had Aly juga menerima beasiswa. Bantuan turut menyasar santri penggerak yang aktif berorganisasi sekaligus masih tinggal di pesantren.
Guru Agama
Sementara itu, insentif guru agama pada 2025 diberikan kepada 230.830 penerima. Masing-masing memperoleh Rp1,2 juta per tahun, dengan total anggaran sekitar Rp277 miliar. Program tersebut berlanjut pada 2026.
Namun, urusan pesantren ternyata tak cukup dibereskan dengan beasiswa dan bantuan renovasi. Ada pekerjaan besar lain: memastikan para pendidik agama mendapat perhatian yang layak.
Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf mengingatkan, santri dan ulama punya dua tugas penting, yakni menjaga bangsa dan menjaga umat.
Ia juga mengajak masyarakat mendoakan korban bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta Sumatra, termasuk kebakaran di Gunung Sumbing. Gus Yusuf meminta pemerintah menindak tegas pihak yang sengaja membakar hutan dan lahan. “Santri punya tugas juga untuk menjaga bangsa dan menjaga umat,” ujarnya.
Baca juga: Gus Yasin: Sinergi Mahasiswa-Santri Cegah Bullying di Jateng
Gus Yusuf mengapresiasi perhatian Pemprov Jateng terhadap pesantren dan guru ngaji. Namun, ia meminta dukungan tersebut ditingkatkan karena pesantren masih membutuhkan pengakuan dan perhatian lebih serius. “Jangan setengah-setengah kalau mau melindungi santri,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah menghargai peran kiai kampung, guru ngaji di madrasah diniyah, dan guru sekolah yang ikut menjaga masyarakat melalui pendidikan.
Pesannya sederhana: kalau santri diminta ikut menjaga masa depan bangsa, jangan sampai mereka dan para gurunya justru harus berjuang sendirian. Sebab, masa depan Indonesia tak cukup dibangun lewat slogan saat peringatan, apalagi kalau perhatian kepada mereka cuma ramai ketika kamera menyala. (tebe)

