BACAAJA, SEMARANG- Jadi juara umum itu menyenangkan. Yang bikin pusing, mempertahankannya. Kota Semarang kini memasang target 190 medali emas di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026.
Bukan target kaleng-kaleng, sebab tahun ini mereka harus membuktikan bahwa gelar juara bukan sekadar cerita manis dari kompetisi sebelumnya. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyampaikan target tersebut saat mengukuhkan dan melepas kontingen Kota Semarang menuju Porprov Jateng XVII 2026.
Di hadapan para atlet, ia meminta mereka berjuang maksimal, disiplin, dan tetap menjunjung sportivitas. “Apakah kalian sanggup?” tanya Agustina.
Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya tak cukup lewat teriakan kompak saat seremoni. Pembuktiannya baru terlihat ketika atlet masuk arena, menghadapi lawan, dan berjuang memperebutkan medali.
Baca juga: Persiapan Porprov 2026 Capai 90 Persen
Pada Porprov 2023, Semarang keluar sebagai juara umum dengan koleksi 186 emas, 138 perak, dan 137 perunggu. Kali ini, target emas dinaikkan menjadi 190 keping. Artinya, bukan cuma mempertahankan posisi, tetapi juga menambah capaian.
Semarang memang punya rekam jejak mentereng. Kota ini tercatat menjadi juara umum Porprov pada 2009, 2013, 2018, dan 2023. Tradisi tersebut tentu membanggakan. Namun, sejarah juga bisa menjadi beban kalau prestasi masa lalu terus dibanggakan tanpa diimbangi pembinaan yang serius.
Agustina menegaskan, prestasi olahraga tak seharusnya muncul musiman, seperti tanaman yang baru disiram ketika hendak dipanen. Pemkot bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Semarang berupaya membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan.
Dorong Kompetisi
Pembinaan atlet diharapkan terhubung sejak pengenalan bakat, kompetisi di sekolah, hingga jenjang pertandingan yang lebih tinggi. Pemkot juga mendorong kompetisi di berbagai cabang olahraga, mulai dari tenis, bola basket, golf, hingga bola voli.
Tujuannya bukan sekadar membuat kalender olahraga semakin ramai. Kompetisi harus menjadi ruang bagi atlet untuk mengasah kemampuan, mengukur kualitas, dan menemukan peluang berkembang.
Kalau jalur pembinaan berjalan konsisten, target medali bukan lagi sekadar angka yang dipasang menjelang pertandingan. Ada proses panjang yang menopangnya, mulai dari pelatih, fasilitas latihan, kesempatan bertanding, hingga dukungan bagi atlet.
Porprov juga bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan sport tourism atau wisata olahraga. Kedatangan atlet, ofisial, dan pendukung dari berbagai daerah berpotensi menggerakkan hotel, warung makan, transportasi, hingga usaha kecil di sekitar arena pertandingan.
Baca juga: Porprov 2026 Siap Digelar, Tapi Masih Bingung Siapa Bayar Apa
Namun, peluang ekonomi itu tidak otomatis datang hanya karena kompetisi digelar. Perlu promosi destinasi, informasi kuliner, kemudahan transportasi, serta ruang bagi UMKM untuk ikut mengambil manfaat. Agustina berpesan agar para atlet menjaga nama baik daerah, menjunjung sportivitas, dan membawa semangat Semarang ke setiap arena.
Kini, pekerjaan rumahnya bukan cuma menghitung berapa emas yang bisa dibawa pulang. Semarang juga perlu memastikan prestasi melahirkan pembinaan yang lebih kuat dan penyelenggaraan olahraga memberi manfaat bagi warga.
Sebab, kalau targetnya 190 emas, jangan sampai yang paling banyak dipanen justru spanduk, seremoni, dan foto penyerahan medali. Atlet butuh pembinaan, warga butuh manfaat, dan gelar juara perlu bukti, bukan sekadar tepuk tangan. (tebe)

