BACAAJA, JAKARTA – Jepang tengah menghadapi ancaman serius di dunia digital. Serangan siber yang menyasar puluhan perusahaan besar membuat jutaan data pelanggan terancam bocor, hingga pemerintah setempat menetapkan kondisi tersebut sebagai darurat keamanan siber.
Bukan cuma satu atau dua perusahaan yang kena dampak. Sejumlah nama besar ikut masuk dalam daftar korban, mulai dari jaringan minimarket Lawson, operator kereta East Japan Railway Company (JR East), perusahaan sekuritas Daiwa Securities, hingga peritel barang bekas BookOff Group.
Laporan media Jepang, Kyodo News, menyebut sedikitnya 53 perusahaan terdampak serangan ransomware, yakni aksi peretasan yang mengunci data korban dan dapat disertai tuntutan tebusan. Sementara itu, laporan The Financial Times yang dirangkum PCMag menyebut lebih dari 20 perusahaan besar telah melaporkan serangan siber dalam beberapa waktu terakhir.
Jutaan Data Pelanggan Ikut Terancam
Besarnya dampak serangan ini terlihat dari jumlah data yang berpotensi terekspos. Meski angka keseluruhan belum diketahui secara pasti, jutaan informasi pelanggan dari berbagai layanan dilaporkan berada dalam risiko.
Layanan penyewaan mobil Times Car, misalnya, menyebut sekitar 6,6 juta akun pelanggan berpotensi terdampak. BookOff juga mengungkap lebih dari 6 juta catatan data pelanggan terancam bocor akibat insiden tersebut.
Sementara itu, JR East melaporkan sekitar 1,67 juta alamat e-mail pelanggan terekspos. Rentetan insiden ini menambah kekhawatiran soal keamanan informasi pribadi yang tersimpan dalam sistem perusahaan.
Pemerintah Jepang pun tak menganggap persoalan ini sebagai gangguan biasa. Menteri yang bertanggung jawab atas kebijakan keamanan siber, Toshiharu Furukawa, menyebut situasinya sudah sangat kritis.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan di Markas Besar Strategi Keamanan Siber Nasional Jepang pada Jumat, 9 Oktober 2026. Pada hari yang sama, pimpinan lembaga tersebut, Masaaki Taira, juga menggambarkan kondisi yang terjadi sebagai keadaan darurat siber.
Pemerintah kemudian meminta kementerian, pemerintah daerah, perusahaan, hingga masyarakat untuk memperkuat pertahanan digital. Langkah ini dinilai penting agar serangan serupa tidak terus meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.
AI Bikin Hacker Bisa Menyasar Lebih Banyak Korban
Di tengah gelombang peretasan tersebut, penggunaan kecerdasan buatan atau AI oleh pelaku kejahatan siber ikut menjadi perhatian. Teknologi ini dinilai berpotensi membuat serangan berlangsung lebih cepat dan menjangkau lebih banyak target.
Masaki Hiraoka, direktur pelaksana perusahaan keamanan siber Blackpanda untuk kawasan Asia Timur Laut, mengatakan kepada The Financial Times bahwa AI bisa membantu peretas menyasar lebih banyak korban, termasuk layanan kecil yang sebelumnya mungkin dianggap tidak menarik untuk diserang.
AI juga dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi mengenai calon korban dan menemukan celah keamanan dengan lebih cepat. Kemampuan tersebut berpotensi membuat proses persiapan serangan menjadi lebih efisien bagi pelaku kejahatan digital.
Meski begitu, belum ada bukti bahwa seluruh serangan terbaru di Jepang menggunakan teknologi AI. Karena itu, keterlibatan kecerdasan buatan dalam setiap insiden masih perlu dibedakan dari kekhawatiran mengenai potensinya dalam memperbesar skala serangan.
Warga Diminta Waspada Pencurian Identitas
Kebocoran data dalam jumlah besar bukan hanya urusan perusahaan yang menjadi korban. Informasi pelanggan yang jatuh ke tangan pihak tak bertanggung jawab bisa dimanfaatkan untuk pencurian identitas, penipuan, hingga berbagai modus kejahatan lainnya.
Menanggapi risiko tersebut, regulator keuangan Jepang dilaporkan meminta lembaga pemberi pinjaman memperketat pemeriksaan dokumen identitas. Langkah ini ditujukan untuk mengantisipasi penyalahgunaan data pribadi dalam aktivitas keuangan.
Masyarakat juga diimbau memperkuat keamanan akun digital masing-masing. Salah satu langkah penting adalah tidak memakai kata sandi yang sama untuk berbagai layanan, sehingga kebocoran pada satu akun tidak otomatis membuka akses ke akun lainnya.
Selain itu, pengguna disarankan mengaktifkan autentikasi multifaktor atau verifikasi berlapis. E-mail dan pesan yang mencurigakan juga perlu diwaspadai, terutama jika berisi tautan atau permintaan informasi pribadi yang tidak jelas asalnya.
Serangan Siber Jepang Terus Meningkat
Lonjakan kasus ini sejalan dengan temuan perusahaan keamanan siber TrendAI. Berdasarkan data yang dibagikan kepada Reuters, jumlah insiden keamanan siber di Jepang selama sembilan bulan pertama 2026 sudah melampaui total insiden sepanjang 2025.
Khusus September 2026, sedikitnya tercatat 86 insiden keamanan siber di Jepang. Angka tersebut meningkat sekitar 18 persen dibandingkan Agustus dan 37 persen dibandingkan Juli.
Situasi ini menunjukkan bahwa ancaman digital di Jepang semakin serius dan membutuhkan penanganan dari berbagai pihak. Penguatan sistem keamanan saja tidak cukup jika perusahaan dan pengguna masih mengabaikan perlindungan data pribadi.
Jepang bukan satu-satunya negara yang menghadapi persoalan serupa. Korea Selatan juga dilaporkan tengah menyelidiki serangan terhadap sejumlah bank dan gereja yang diduga melibatkan perangkat berbasis AI, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari PCMag.
Rentetan kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan siber kini bukan sekadar urusan perusahaan teknologi. Ketika data pelanggan tersimpan di berbagai layanan digital, satu celah keamanan saja bisa berujung pada risiko besar bagi jutaan orang.(*)

