BACAAJA, JAKARTA – Belakangan ini media sosial ramai membahas kasus bayi di bawah umur yang mengalami kondisi kritis usai diduga diberi telur mentah.
Menanggapi maraknya praktik pemberian makanan yang tidak aman pada bayi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merilis imbauan resmi terkait risiko besar di baliknya.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso menegaskan, pemberian telur mentah maupun setengah matang sangat tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak karena mengancam keselamatan jiwa.
Kata dia, pemberian telur mentah menyimpan ancaman serius berupa infeksi bakteri Salmonella yang bisa memicu salmonelosis.
Bacaaja: Bayi Usia 24 Hari Kritis, Diduga Gara-Gara Dicekoki Nenek Telur Mentah
Bacaaja: Bayi Alena Meninggal di Usia 28 Hari: Sempat Kritis, Diduga Diberi Telur Mentah Sang Nenek
Bahayanya, infeksi ini menyebabkan gejala mulai dari muntah, diare, demam, hingga dehidrasi berat yang berpotensi memicu komplikasi fatal pada organ bayi.
Dokter Piprim menekankan pentingnya keamanan pangan serta pemenuhan gizi yang tepat sesuai rentang usia anak.
“Pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta aspek keamanan pangan untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang optimal,” jelasnya, Senin (12/10/2026).
Ia juga mengingatkan, telur mentah sama sekali tidak memberikan manfaat gizi ekstra jika dibandingkan dengan risiko bahaya yang ditimbulkannya.

“Hindari pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak,” tegas dokter Piprim.
Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang justru merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang aman dan mudah dicerna oleh sistem pencernaan anak.
Selain melarang keras pemberian telur mentah, IDAI juga mengingatkan aturan main pemberian MPASI (makanan pendamping ASI).
Bayi di bawah usia 6 bulan idealnya hanya menerima ASI eksklusif tanpa tambahan air putih, jus, apalagi makanan padat. MPASI baru dianjurkan saat bayi berusia 6 bulan karena kebutuhan gizinya mulai meningkat. (bae)

