BACAAJA, PURBALINGGA – Urusan pajak ternyata bukan cuma soal bayar tepat waktu, lalu selesai. Generasi Z juga perlu tahu ke mana uang pajak mengalir, apa manfaatnya bagi masyarakat, dan bagaimana penggunaannya ikut diawasi agar benar-benar berdampak bagi pembangunan.
Pesan itu mengemuka dalam workshop Gen Z Taat Pajak (Gentak) yang digelar di Hotel Braling, Purbalingga, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini mengajak anak muda memahami perpajakan dengan cara pandang yang lebih luas, bukan sekadar mengenal kewajiban sebagai wajib pajak.
Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani menyambut positif kegiatan edukasi yang diinisiasi melalui usulan Anggota DPR RI Amelia Anggraini dan difasilitasi PT Jasa Raharja tersebut. Menurutnya, pemahaman pajak penting ditanamkan sejak generasi muda mulai bersiap masuk dunia kerja maupun merintis usaha.
“Gen Z ini masuk masa transisi. Dari mereka yang masih pelajar, mulai mengenal dunia bisnis, hingga terjun langsung ke dunia kerja. Karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman tentang perpajakan,” ujar Dimas.
Ia berharap, sosialisasi tersebut bisa membantu anak muda yang sebelumnya belum memahami persoalan perpajakan agar lebih mengenal hak dan kewajibannya. Dengan bekal itu, kesadaran membayar pajak diharapkan tumbuh seiring pemahaman tentang peran penerimaan pajak bagi pembangunan.
Dimas menilai, generasi muda perlu memahami bahwa pajak yang dibayarkan masyarakat ikut menopang pembangunan dan pelayanan publik. Karena itu, mereka tidak cukup hanya menjadi pihak yang memenuhi kewajiban, tetapi juga bisa mengambil peran sebagai kontrol sosial dalam mengawasi pemanfaatan uang negara maupun daerah.
Sementara itu, Anggota DPR RI Amelia Anggraini menilai generasi muda merupakan kelompok strategis dalam meningkatkan kesadaran perpajakan. Apalagi, Indonesia sedang menikmati bonus demografi yang membuat peran anak muda semakin penting dalam kehidupan ekonomi dan pembangunan.
Menurut Amelia, banyak anak muda di Purbalingga yang mulai merintis usaha, mengembangkan UMKM, hingga bekerja sebagai karyawan di perusahaan dan industri. Kondisi tersebut membuat pemahaman perpajakan semakin relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
“Generasi muda banyak yang membangun usaha, menjalankan UMKM, maupun bekerja menjadi karyawan pabrik di Purbalingga. Mereka harus tahu kepatuhan membayar pajak, tidak hanya hak dan kewajibannya, tetapi juga menjadi pengawas untuk apa pajak tersebut dikontribusikan,” jelas Amelia.
Ia menambahkan, pajak mempunyai peran penting dalam membiayai kebutuhan negara sekaligus mendukung penyediaan fasilitas publik. Karena itu, edukasi perpajakan yang menyasar generasi muda dinilai perlu dilakukan agar kesadaran tersebut terbentuk sejak dini.
Amelia juga menekankan bahwa masyarakat berhak mengetahui bagaimana penerimaan pajak digunakan. Pemanfaatannya mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pembiayaan layanan publik yang dibutuhkan masyarakat.
Melalui pemahaman tersebut, Gen Z diharapkan makin peduli terhadap pengelolaan penerimaan negara maupun daerah. Termasuk dalam memahami kebijakan perpajakan, seperti opsen pajak, sehingga anak muda tidak hanya mengetahui kewajibannya, tetapi juga lebih kritis terhadap pemanfaatan uang pajak untuk kepentingan bersama. (*)

