BACAAJA, JAKARTA – Nama Nokia dan BlackBerry dulu identik dengan ponsel idaman. Namun, peta persaingan HP dunia kini sudah berubah jauh. Dua merek yang pernah merajai pasar itu tak lagi masuk jajaran lima besar vendor smartphone global, sementara Apple dan Samsung justru melesat ke posisi teratas.
Perubahan ini bukan cuma soal pergantian merek populer. Dalam kurun 15 tahun, industri smartphone berkembang makin besar, persaingan makin ramai, dan produsen asal China mulai mengambil porsi pasar yang signifikan.
Data perusahaan riset pasar International Data Corporation (IDC) memperlihatkan pergeseran tersebut melalui perbandingan pengiriman smartphone global pada 2010 dan 2025. Jika dulu Nokia dan BlackBerry menjadi pemain utama, kini persaingan diisi Apple, Samsung, Xiaomi, Vivo, dan Oppo.
Nokia dan BlackBerry Pernah Jadi Penguasa
Kilas balik ke 2010, Nokia berada di puncak pasar smartphone dunia. Perusahaan asal Finlandia itu mengirimkan 100,2 juta unit dengan pangsa pasar mencapai 33,1 persen. Artinya, sekitar sepertiga pengiriman smartphone global saat itu berasal dari Nokia.
BlackBerry, yang ketika itu berada di bawah perusahaan Research In Motion (RIM), menempati posisi kedua. Pengirimannya mencapai 48,7 juta unit dengan pangsa pasar 16,1 persen.
Apple berada di urutan ketiga dengan pengiriman 47,5 juta unit dan pangsa pasar 15,7 persen. Samsung menyusul di posisi keempat setelah mengirimkan 23 juta unit, setara dengan 7,6 persen pasar global.
Sementara itu, posisi kelima ditempati HTC, produsen smartphone asal Taiwan. HTC mencatat pengiriman 21,5 juta unit dengan pangsa pasar 7,1 persen.
Pada tahun tersebut, total pengiriman smartphone di seluruh dunia mencapai 302,6 juta unit. Persaingan memang sudah berlangsung ketat, tetapi Nokia masih punya jarak cukup jauh dari para pesaingnya.
Apple dan Samsung Kini di Garis Depan
Situasinya berbalik pada 2025. Apple berhasil menduduki posisi pertama dengan pengiriman 247,8 juta unit iPhone, setara 19,7 persen pangsa pasar global.
Samsung berada tepat di belakangnya dengan pengiriman 241,2 juta unit dan pangsa pasar 19,1 persen. Selisih keduanya relatif tipis, membuat persaingan di puncak pasar smartphone dunia tetap menarik untuk dicermati.
Jika dibandingkan dengan 2010, pengiriman iPhone meningkat lebih dari lima kali lipat. Dari sebelumnya 47,5 juta unit, jumlahnya kini mencapai 247,8 juta unit dalam setahun.
Samsung mencatat pertumbuhan yang lebih besar secara relatif. Pengiriman smartphone Galaxy naik dari 23 juta unit pada 2010 menjadi 241,2 juta unit pada 2025, atau lebih dari sepuluh kali lipat.
Meski menjadi dua penguasa pasar, Apple dan Samsung belum mencapai dominasi sebesar Nokia pada masa kejayaannya. Pangsa pasar Apple pada 2025 tercatat 19,7 persen, masih jauh di bawah 33,1 persen yang pernah diraih Nokia pada 2010.
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa pasar smartphone sekarang lebih tersebar. Persaingan tidak lagi hanya bertumpu pada beberapa nama lama, karena semakin banyak produsen berhasil menarik konsumen di berbagai negara.
Merek China Mulai Menggigit
Perubahan besar lainnya datang dari China. Pada 2010, belum ada merek asal negara tersebut yang masuk lima besar vendor smartphone dunia berdasarkan data yang disajikan IDC.
Lima belas tahun berselang, tiga produsen China justru berhasil menembus jajaran elite. Xiaomi menempati posisi ketiga dengan pengiriman 165,3 juta unit dan pangsa pasar 13,1 persen.
Vivo berada di urutan keempat setelah mengirimkan 103,9 juta unit smartphone, dengan pangsa pasar 8,2 persen. Sementara Oppo melengkapi lima besar lewat pengiriman 102 juta unit dan pangsa pasar 8,1 persen.
Jika digabungkan, Xiaomi, Vivo, dan Oppo mengirimkan sekitar 371,2 juta unit smartphone sepanjang 2025. Jumlah tersebut setara dengan 29,4 persen pasar global.
Capaian itu menunjukkan bahwa persaingan industri HP tidak lagi didominasi pemain lama dari Amerika Serikat, Korea Selatan, atau Eropa. Produsen China kini menjadi kekuatan besar yang ikut menentukan arah pasar smartphone dunia.
Pasar HP Makin Besar, Pemain Makin Banyak
Bukan hanya nama mereknya yang berubah, ukuran pasar smartphone global juga berkembang pesat. Pada 2010, total pengiriman perangkat tercatat 302,6 juta unit, sedangkan pada 2025 angkanya mencapai sekitar 1,26 miliar unit.
Dengan demikian, pasar smartphone tumbuh menjadi sekitar empat kali lipat dalam 15 tahun. Besarnya pasar ini membuka ruang bagi lebih banyak produsen untuk bersaing menawarkan perangkat dengan beragam harga, spesifikasi, dan fitur.
Namun, pertumbuhan tersebut tidak otomatis membuat lima vendor teratas semakin dominan. Pada 2010, Nokia, BlackBerry, Apple, Samsung, dan HTC secara gabungan menguasai sekitar 79,6 persen pasar smartphone global.
Pada 2025, lima besar yang terdiri dari Apple, Samsung, Xiaomi, Vivo, dan Oppo menguasai sekitar 68,2 persen pasar. Artinya, porsi pengiriman smartphone semakin terbagi di antara lebih banyak merek di luar kelompok teratas.
Kategori vendor lain di luar lima besar mencatat pengiriman sekitar 61,7 juta unit pada 2010. Pada 2025, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 400 juta unit, dengan pangsa pasar meningkat dari 20,4 persen menjadi 31,7 persen.
Data tersebut menegaskan bahwa industri smartphone kini lebih kompetitif dibandingkan era ketika Nokia berjaya. Apple dan Samsung memang memimpin, tetapi produsen lain juga punya ruang besar untuk merebut konsumen.
Kisah Nokia dan BlackBerry menjadi gambaran bahwa nama besar tidak menjamin posisi teratas akan bertahan selamanya. Dalam industri teknologi yang terus bergerak, perubahan kebutuhan pengguna, inovasi produk, dan ketatnya persaingan bisa mengubah peta kekuatan pasar dalam waktu relatif singkat. (*)

