BACAAJA, SEMARANG- Inovasi teknologi dalam penanganan kanker perlu diikuti peningkatan kompetensi tenaga medis, keselamatan pasien, dan akses pelayanan berkualitas.
Orientasi pada manfaat nyata bagi pasien tersebut ditekankan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng saat menyambut pengembangan layanan kanker berbasis cryosurgery di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Semarang (RS UNIMUS).
Pesan itu disampaikan Agustina dalam Gala Dinner International Conference on Cryosurgery, rangkaian The 10th Annual Meeting of the Asian Society of Cryosurgery (ASC-10) dan Council Transition Meeting di Ruang Loka Krida, Gedung Moch. Ikhsan lantai 8, Balai Kota Semarang, belum lama ini.
Forum yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) bersama RS Unimus tersebut mempertemukan pakar, dokter, peneliti, dan praktisi kesehatan dari berbagai negara. Berdasarkan publikasi Unimus, kegiatan ini diikuti perwakilan dari 30 negara.
“Bagi Kota Semarang, kemajuan layanan kesehatan tidak hanya diukur dari hadirnya teknologi baru, tetapi juga dari manfaat yang benar-benar dirasakan pasien,” ujar Agustina.
Baca juga: AI Masuk Rumah Sakit, Dokter Tetap Pemeran Utama
Menurut dia, kolaborasi internasional perlu diarahkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis, ketepatan penanganan, keselamatan pasien, serta akses masyarakat terhadap layanan kesehatan berkualitas.
Rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi momentum peluncuran RS Unimus Cancer Care, layanan penanganan kanker yang dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi cryosurgery dan teknologi medis pendukung lainnya.
Cryosurgery merupakan metode yang menggunakan suhu sangat rendah untuk menghancurkan jaringan sasaran. Metode ini dapat menjadi salah satu pilihan penanganan pada kondisi medis tertentu. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan jenis dan stadium kanker, kondisi pasien, serta hasil evaluasi tim medis.
Ikuti Pelatihan
Kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam penerapan teknologi tersebut. Pihak RS Unimus menyampaikan bahwa lima dokter telah mengikuti pelatihan cryosurgery di Tiongkok.
Penguasaan teknologi, menurut Agustina, harus berjalan seiring dengan penerapan standar pelayanan, keselamatan pasien, dan edukasi publik. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami pilihan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan medis masing-masing.
“Penanganan kanker membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Selain teknologi dan keahlian dokter, deteksi dini, pemeriksaan yang tepat, pendampingan pasien, serta pemahaman keluarga juga sangat penting,” katanya.
Agustina menilai pengembangan layanan kesehatan oleh perguruan tinggi dan rumah sakit sejalan dengan Misi 2 RPJMD Kota Semarang 2025-2029 yang menitikberatkan pada peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi.
Baca juga: Unwahas Bangun Rumah Sakit Dekat MAJT, Target Selesai 2027
Pemerintah daerah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan komunitas medis dinilai memiliki peran dalam memperkuat pelayanan, pendidikan, penelitian, serta pertukaran keahlian.
Forum internasional tersebut juga membuka peluang perluasan jejaring riset dan pendidikan kedokteran. Dalam jangka panjang, pengembangan layanan kesehatan berpotensi memperkuat daya saing Semarang, termasuk dalam bidang wisata medis.
Meski demikian, potensi tersebut perlu ditopang mutu pelayanan, kompetensi tenaga kesehatan, keselamatan pasien, dan kepercayaan masyarakat. “Kami ingin Semarang semakin dikenal sebagai kota yang mampu mengembangkan pendidikan, inovasi, dan pelayanan kesehatan. Namun, yang paling utama adalah bagaimana perkembangan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat dan memperkuat kualitas hidup warga,” tutur Agustina.
Pengembangan RS Unimus Cancer Care menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan layanan penanganan kanker di Semarang. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh ketepatan indikasi medis dan kualitas pelayanan yang diterima pasien. (tebe)

