BACAAJA, SEMARANG – Membesarkan anak bukan hanya tentang memastikan kebutuhan makan, pakaian, dan pendidikannya terpenuhi. Orang tua juga memiliki tanggung jawab menanamkan nilai-nilai kebaikan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang jujur, santun, bertanggung jawab, dan menghormati orang lain.
Dalam Islam, pendidikan akhlak sebaiknya dimulai sejak dini. Anak belajar bukan hanya dari nasihat yang didengar, tetapi juga dari perilaku yang setiap hari mereka lihat di rumah.
Karena itu, membentuk karakter anak tidak cukup dengan melarang ini dan itu. Orang tua perlu menghadirkan contoh nyata, membangun kebiasaan baik, serta memberikan kasih sayang dan ketegasan secara seimbang.
Tanamkan Tauhid Sejak Kecil
Salah satu dasar pendidikan anak dalam Islam adalah mengenalkan tauhid, yaitu keyakinan terhadap keesaan Allah SWT. Pemahaman ini dapat ditanamkan secara bertahap melalui penjelasan sederhana yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada Ibnu Abbas yang masih muda. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, terdapat pesan berikut:
يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
Yā ghulāmu innī u’allimuka kalimātin, iḥfaẓillāha yaḥfaẓka.
Artinya: “Wahai anak kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi).
Pesan tersebut dapat menjadi dasar bagi orang tua untuk mengenalkan nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Anak bisa dibiasakan berdoa, berdzikir, dan melaksanakan sholat bersama keluarga sesuai tahap perkembangannya.
Pengenalan agama juga sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan begitu, anak tidak hanya menghafal nasihat, tetapi perlahan memahami alasan pentingnya berbuat baik dan menjauhi perilaku buruk.
Orang Tua Harus Menjadi Contoh
Anak cenderung meniru apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, orang tua perlu menunjukkan perilaku yang ingin ditanamkan kepada anak, mulai dari berkata jujur hingga menghormati orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Innamā bu’itstu li-utammima makārimal-akhlāq.
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Keteladanan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Orang tua bisa meminta maaf ketika melakukan kesalahan, menepati janji kepada anak, berbicara dengan sopan, serta mengakui kekeliruan tanpa mencari-cari alasan.
Jika orang tua mengajarkan kejujuran tetapi justru sering berbohong, anak bisa kesulitan memahami nilai yang sebenarnya ingin ditanamkan. Sebaliknya, contoh yang konsisten membuat nasihat lebih mudah diterima dan dipraktikkan.
Biasakan Sopan Santun dan Kasih Sayang
Menghormati orang tua, menghargai guru, dan memperlakukan teman dengan baik merupakan bagian penting dari pendidikan akhlak. Kebiasaan tersebut bisa dilatih melalui interaksi sehari-hari, bukan hanya ketika anak berada di sekolah atau mengikuti kegiatan keagamaan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
Innar-rifqa lā yakūnu fī syai’in illā zānahu.
Artinya: “Sesungguhnya kelembutan tidak terdapat pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (HR. Muslim).
Kelembutan dalam mendidik bukan berarti membiarkan semua keinginan anak. Orang tua tetap perlu memberikan batasan, tetapi menyampaikannya dengan cara yang tidak merendahkan atau menakut-nakuti.
Kasih sayang juga menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menyayangi sesama, termasuk anak-anak. Anak yang merasa dihargai dan didengarkan akan memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar menghargai perasaan orang lain.
Latih Disiplin dan Tanggung Jawab
Pendidikan akhlak juga berkaitan dengan kebiasaan menjalankan tanggung jawab. Anak dapat diajak merapikan tempat tidur, membereskan mainan, membantu pekerjaan rumah sesuai usia, serta belajar mengelola uang saku.
Dalam urusan ibadah, Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada orang tua untuk membiasakan anak melaksanakan sholat sejak usia tujuh tahun. Pembiasaan tersebut menjadi salah satu cara mengenalkan disiplin dan tanggung jawab beragama secara bertahap.
Orang tua sebaiknya mendampingi anak ketika membangun kebiasaan baru. Memberikan contoh, mengingatkan dengan sabar, dan mengapresiasi usaha anak dapat membantu mereka memahami bahwa tanggung jawab merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Disiplin juga perlu disesuaikan dengan kemampuan anak. Tujuannya bukan membuat anak takut melakukan kesalahan, melainkan membimbing mereka memahami konsekuensi dan belajar memperbaiki perilaku.
Lembut Bukan Berarti Tanpa Ketegasan
Mendidik anak membutuhkan keseimbangan antara kasih sayang dan aturan yang jelas. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu menjelaskan perilaku yang tidak tepat sekaligus menunjukkan cara memperbaikinya.
Hindari mempermalukan anak atau memberi label buruk yang menyerang kepribadiannya. Kritik sebaiknya diarahkan pada tindakan yang perlu diperbaiki, bukan membuat anak merasa dirinya tidak berharga.
Pada akhirnya, membentuk anak berakhlak mulia membutuhkan proses panjang dan ketelatenan. Dengan menanamkan tauhid, memberi teladan, membiasakan sopan santun, serta melatih disiplin melalui pendekatan yang penuh kasih, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan menghormati sesama. (*)

