BACAAJA, PEMALANG — Kasus meninggalnya siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, jadi perbincangan luas.
Kasus ini mendapat perhatian luas, terutama setelah beredar kabar pihak sekolah berupaya menutup-nutupi kasus ini, karena diduga pelaku adalah keluarga anggota Polri.
Muhammad Hasbi Al Aqib (7) meninggal pada 30 September 2026, setelah beberapa hari mendapat perawatan medis. Sebelum meninggal, Aqib dikatakan sempat menyebut tiga nama kakak kelas yang diduga menjadi pelaku perundungan atau bullying.
Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M. Faizal Wildan Umar Rela mengatakan, penyidik masih mendalami dugaan keterlibatan ketiga kakak kelas korban.
Bacaaja: Tragis! Siswa SD di Pemalang Meninggal, Diduga Korban Bullying Kakak Kelas
Bacaaja: Miris! Siswa SMP di Pemalang Dirundung Kakak Kelas hingga Tewas
Dua dari tiga kakak kelas korban terduga pelaku merupakan siswa kelas 5. Sementara satu lainnya merupakan siswa kelas 6.
Perundungan dan aksi kekerasan terhadap korban diduga terjadi di lingkungan sekolah. Polisi masih terus menggali keterangan dari berbagai pihak.
“Kami masih melakukan pendalaman pada kedua anak yang diduga terlibat, serta satu anak yang sempat diduga terlibat tersebut,” kata Wildan, Selasa (6/10/2026).
Wildan mengatakan, dugaan keterlibatan dua siswa kelas 5 diperkuat keterangan sejumlah saksi. Para saksi mengaku melihat kejadian yang diduga berkaitan dengan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Ia menambahkan lebih lanjut, korban disebut sempat menunjuk foto dua siswa tersebut sebagai orang yang merundungnya.
“Kedua anak yang ditunjuk anak korban tersebut berasal dari kelas 5,” ujar Wildan.
Sementara itu, ada satu siswa kelas 6 yang juga sempat ditunjuk. Tapi ada masalah. Foto anak tersebut awalnya kurang jelas. Ketika polisi menunjukkan foto dengan kualitas yang lebih jelas, Hasbi justru disebut tidak mengenalinya.
Sempat sakit sebelum meninggal
Sebelum meninggal, Aqib sempat mengeluh sakit saat berada di sekolah pada 16 September 2026. Ia kemudian meminta pulang dan dijemput orang tuanya.
Korban sempat mendapat perawatan di klinik. Sehari kemudian, ia dirawat di rumah sakit. Perawatan berlangsung hingga 24 September 2026.
Setelah diperbolehkan pulang, Aqib masih menjalani perawatan di rumah selama sekitar enam hari. Kemudian pada 30 September 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, kondisi korban kembali memburuk.
Ia tidak sadarkan diri di rumah. Orang tuanya langsung membawanya ke rumah sakit. Namun, sekitar pukul 17.00 WIB, dokter menyatakan Aqib meninggal dunia.
Polisi ungkap pekerjaan orang tua terduga pelaku
Di tengah kasus ini, muncul berbagai informasi di media sosial. Salah satunya menyebut ada kakak kelas Hasbi yang diduga terlibat merupakan anak anggota Polri.
Polisi membantah informasi tersebut. Wildan mengatakan data dari pihak sekolah menunjukkan orang tua ketiga anak yang sedang didalami bekerja sebagai tenaga medis dan wiraswasta.
Polisi juga membantah kabar bahwa ada anak yang dibawa orang tuanya ke luar kota. Menurut polisi, ketiga anak tersebut masih berada di Pemalang.
Kini, penyelidikan masih berjalan. Polisi masih mengumpulkan keterangan dan mendalami apa yang sebenarnya terjadi sebelum Aqib jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. (*)

