BACAAJA, BATANG – Sudiatmono (46), guru PJOK SDN Pasusukan merasakan pengalaman pahit. Ia mengalami trauma. Sudiatmo merupakan satu di antara ratusan orang yang mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Rasa sakit yang ia rasakan setelah mengalami keracunan MBG, menurutnya lebih parah dari saat dulu terserang Covid-19.
Sudiatmono mengaku mengalami gejala setelah menyantap menu MBG bersama murid-muridnya. Ia bahkan harus menjalani perawatan di rumah sakit dan mengaku masih merasakan dampaknya hingga kini.
Yang membuatnya heran, tidak ada rasa atau aroma aneh ketika makanan tersebut disantap.
Bacaaja: Korban Keracunan MBG di Batang Terus Meningkat Capai 498 Orang, Masih Bisa Tambah Lagi
Bacaaja: Keracunan MBG di Garut Pecahkan Rekor, 657 Siswa Jadi Korban
“Jadi kan saya biasa makan itu pagi bareng dengan anak-anak. Itu sampai ndak ada rasa apa-apa, biasa normal gitu,” ujar Sudiatmono, Senin (28/9/2026).
Menu yang disantapnya saat itu berupa telur bolognese. Sudiatmono mengaku hanya memakan sekitar setengah bagian telur, lengkap dengan saus atau mayones.
Ia juga makan bersamaan dengan para siswa. Tidak ada kebiasaan mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum murid-muridnya makan karena mereka memang terbiasa menyantap makanan bersama.
Usai makan, aktivitas Sudiatmono masih berjalan normal. Tidak ada keluhan berarti hingga sore hari.
Namun, kondisi berubah ketika malam tiba. Ia mulai merasakan pusing, mual, hingga nyeri pada tubuh. Kondisinya kemudian semakin lemah dan membuatnya harus mendapatkan perawatan medis.
Sudiatmono sempat dibawa ke Rawat Inap Bawang. Namun, fasilitas yang tersedia penuh sehingga ia kemudian dirujuk ke RSUD Limpung.
Selama di rumah sakit, ia menjalani perawatan selama dua hari dua malam. Setelah kondisinya membaik, ia diperbolehkan pulang pada Jumat sore.
Meski sudah kembali ke rumah, kondisinya ternyata belum benar-benar pulih. Sudiatmono masih mengaku lemas dan sesekali merasakan nyeri pada bagian perut.
“Ini sampai saat ini masih merasakan lemes. Lemes masih kadang perut masih terasa nyeri,” katanya.
Pengalaman tersebut juga membuatnya lebih waspada terhadap makanan yang dikonsumsi. Ia mengaku belum berani kembali menyantap menu yang sama.
Bahkan, pengalaman tersebut membuatnya merasa trauma.
“Trauma sudah,” tegasnya.
Ia kemudian membandingkan rasa sakit yang dialaminya dengan pengalaman ketika pernah terkena Covid-19. Namun, perbandingan tersebut merupakan pengalaman subjektif yang dirasakan Sudiatmono dan tidak bisa menjadi ukuran medis untuk membandingkan kedua kondisi tersebut.
“Soalnya saya dulu kena Covid, tapi rasanya lebih sakit ini daripada kena virus Covid,” lanjutnya.
Kasus dugaan keracunan MBG di Bawang sendiri sebelumnya telah membuat ratusan penerima manfaat mendapatkan penanganan medis.
Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah mengambil langkah terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang setelah ditemukan sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program.
Wakil Kepala BGN Trenggono mengatakan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG bukan hanya menjadi tanggung jawab BGN. Pemerintah daerah, termasuk bupati dan jajaran terkait, juga dapat ikut melakukan pengawasan sesuai kewenangannya.
“Semua berhak mengawasi, bukan hanya dari BGN saja. Pemda, bupati dan jajaran dapat ikut membantu mengawasi,” kata Trenggono, dikutip dari Antara, Sabtu (26/9/2026).
Kasus di Bawang kini menjadi sorotan karena menyangkut keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak hingga tenaga pendidik.
Bagi Sudiatmono, kejadian tersebut bukan sekadar angka dalam laporan. Ia harus menjalani perawatan, masih merasakan keluhan setelah pulang, dan membawa pengalaman yang membuatnya trauma. (*)

