BACAAJA, SEMARANG – Nasi putih yang tersisa setelah makan malam sering kali masuk kulkas untuk kemudian diolah lagi menjadi nasi goreng. Cara ini memang praktis dan terasa seperti solusi agar makanan tidak terbuang percuma.
Tapi, ada satu hal yang sering luput diperhatikan. Nasi matang yang terlalu lama berada di suhu ruang bisa menjadi tempat berkembangnya Bacillus cereus atau B. cereus, bakteri yang dikenal dapat menghasilkan toksin penyebab keracunan makanan.
Keluhannya memang sering hanya berlangsung singkat, seperti mual, muntah, diare, dan kram perut. Namun, jika kehilangan cairan cukup banyak, kondisi tersebut bisa berujung pada dehidrasi dan membutuhkan penanganan medis.
Spora Bakteri Bisa Bertahan dari Proses Masak
B. cereus sebenarnya bukan bakteri yang hanya ditemukan pada nasi. Bakteri ini ada di lingkungan dan dapat mencemari berbagai jenis makanan.
Yang membuatnya perlu diwaspadai adalah kemampuannya membentuk spora. Bentuk ini membuat bakteri bisa bertahan melewati proses memasak dalam kondisi tertentu.
Masalah bisa muncul ketika makanan matang dibiarkan dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri. Spora yang bertahan kemudian dapat berkembang kembali menjadi bakteri.
Keracunan akibat B. cereus sendiri memiliki dua pola utama. Ada tipe muntah yang berkaitan dengan toksin cereulide yang sudah terbentuk di makanan sebelum dikonsumsi, serta tipe diare yang terjadi ketika bakteri menghasilkan enterotoksin di dalam usus.
Muntah dan Diare Punya Waktu Muncul Berbeda
Pada tipe muntah, keluhan biasanya berupa mual dan muntah, meski diare juga bisa muncul. Gejalanya dapat terasa cukup cepat, sekitar 30 menit hingga lima jam setelah makanan dikonsumsi.
Sementara itu, tipe diare biasanya ditandai dengan diare, kram atau nyeri perut, dan terkadang disertai mual. Keluhan umumnya baru muncul sekitar 8–16 jam setelah makan.
Tipe muntah biasanya membaik dalam kisaran 6–24 jam. Untuk tipe diare, gejala umumnya mereda dalam waktu sekitar 12–24 jam.
Rentang tersebut merupakan pola umum yang bisa terjadi pada keracunan B. cereus. Waktu munculnya gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami keracunan bakteri tersebut.
Bukan Cuma Nasi yang Perlu Diwaspadai
Risiko B. cereus juga dapat muncul pada makanan lain. Pasta, daging, saus, susu, dan sayuran termasuk makanan yang bisa tercemar.
Kuncinya bukan sekadar jenis makanannya, tetapi bagaimana makanan matang tersebut disimpan. Makanan yang terlalu lama dibiarkan pada suhu ruang atau didinginkan dengan lambat memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang.
Siapa saja bisa mengalami keracunan makanan akibat bakteri ini. Namun, infeksi B. cereus yang terjadi di luar saluran pencernaan merupakan kondisi yang jauh lebih jarang dan dapat lebih berisiko pada orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Kondisi tersebut juga tidak sama dengan keracunan makanan yang biasanya hanya menimbulkan gangguan pencernaan sementara.
Umumnya Ringan, Tapi Jangan Abaikan Gejala Berat
Sebagian besar kasus keracunan B. cereus dapat membaik tanpa komplikasi serius. Meski begitu, kehilangan cairan akibat muntah atau diare tetap perlu diperhatikan.
Dehidrasi bisa terjadi ketika cairan yang keluar jauh lebih banyak daripada yang berhasil masuk ke tubuh. Tanda seperti tubuh sangat lemas, pusing, atau sulit mempertahankan asupan cairan perlu menjadi perhatian.
Dalam kasus yang jarang, komplikasi yang lebih serius juga pernah dilaporkan. Laporan dalam World Journal of Hepatology pada 2024 mendokumentasikan kasus perempuan berusia 48 tahun yang mengalami gagal hati setelah keracunan makanan yang berkaitan dengan B. cereus.
Sejumlah laporan lain juga membahas kemungkinan komplikasi seperti kerusakan otot dan gangguan ginjal. Kasus seperti ini tergolong jarang, tetapi menunjukkan bahwa infeksi atau keracunan berat tidak seharusnya disepelekan.
Pemeriksaan Dilihat dari Gejala dan Riwayat Makan
Dokter biasanya akan melihat makanan apa saja yang dikonsumsi serta kapan keluhan mulai muncul. Informasi tersebut dapat membantu mengarahkan pemeriksaan.
Dalam kondisi tertentu, sampel tinja, muntahan, atau makanan dapat diperiksa untuk mencari penyebab keracunan. Pemeriksaan darah juga bisa dilakukan jika ada dugaan infeksi yang lebih luas.
Untuk keracunan makanan tanpa komplikasi, penanganan umumnya berfokus pada istirahat dan mengganti cairan yang hilang. Oralit dapat digunakan untuk membantu mengganti cairan dan elektrolit.
Antibiotik tidak selalu diperlukan dan tidak diberikan secara rutin pada keracunan makanan akibat toksin yang sudah terbentuk. Pasalnya, antibiotik tidak berfungsi untuk menetralkan toksin tersebut.
Jika dehidrasi sudah berat, pasien bisa membutuhkan cairan melalui infus. Sementara infeksi B. cereus yang terjadi di luar saluran pencernaan membutuhkan penanganan medis yang berbeda.
Segera cari pertolongan medis jika muntah membuat tubuh tidak mampu mempertahankan cairan, diare berlangsung berat, atau muncul rasa sangat lemas dan pusing.
Panaskan Lagi Belum Tentu Aman
Menggoreng kembali nasi memang bisa membuat makanan terasa lebih enak dan panas. Namun, pemanasan ulang bukan jaminan makanan yang sudah terkontaminasi menjadi aman.
Salah satu alasannya adalah toksin cereulide yang dihasilkan B. cereus bersifat tahan panas. Karena itu, makanan yang sudah mengandung toksin tersebut tidak bisa begitu saja dianggap aman hanya karena digoreng atau dipanaskan kembali.
Cara paling penting justru dimulai dari penyimpanan makanan sejak awal. Makanan matang yang mudah rusak sebaiknya segera dimasukkan ke kulkas, maksimal dalam waktu dua jam setelah dimasak atau disajikan.
Jika suhu lingkungan lebih dari sekitar 32 derajat Celsius, batas waktunya sebaiknya dipersingkat menjadi sekitar satu jam.
Makanan juga lebih cepat dingin jika dibagi ke dalam porsi kecil dan ditempatkan pada wadah yang dangkal. Suhu kulkas sebaiknya dijaga sekitar 4 derajat Celsius atau lebih rendah.
Kalau makanan mudah rusak sudah terlalu lama berada di suhu ruang, lebih aman membuangnya daripada mencoba menyelamatkannya dengan cara dipanaskan ulang.
Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah nasi sisa akan dibuat nasi goreng atau tidak. Cara menyimpan nasi setelah matang justru menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko keracunan makanan. (*)

