Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS).
Ketika sebuah momen yang seharusnya menuntut ingatan (dzikir) dan kontemplasi justru disikapi dengan perayaan hura-hura. Di situlah lahir kekacauan pemaknaan.
Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah kejadian yang menghebohkan di Pekalongan. Sebuah acara yang dimaksudkan untuk memperingati Maulid Nabi justru diisi dengan adegan yang menyerupai ritual satanis. Terjadi kegagalan pemaknaan antara peringatan dan perayaan. Sesuatu yang seharusnya bersifat peringatan justru dirayakan dengan pemaknaan yang jauh dari maksud awalnya.
Hal semacam itu sering terjadi pada momen-momen lain, misalnya saat malam takbiran menjelang Idulfitri. Di banyak daerah, masyarakat merayakannya dengan cara keliling kampung membawa patung-patung hewan, membunyikan musik berirama rancak yang memekakkan telinga, serta berjoget di sepanjang jalan. Tidak jarang, pada kesempatan ini terjadi perkelahian yang dipicu oleh minuman keras.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Masyarakat kita tidak lagi mau berpikir secara filosofis. Istilah populernya saat ini: minim literasi. Masyarakat enggan meninjau lebih dalam tujuan sebuah acara diselenggarakan sehingga terjadi penyelewengan makna. Sebagai contoh, peringatan Maulid Nabi adalah sebuah momen untuk mengingat kelahiran sesosok insan mulia yang menjadi teladan dan penuntun.
Seharusnya yang dilakukan adalah mengingat siapa Nabi, bagaimana perilakunya, serta merenungkan apakah kita sudah meneladaninya. Bukan malah melakukan hal yang bertolak belakang dengan ajaran beliau.
Dalam sebuah diskusi lepas, seorang teman pernah berseloroh: “Nabi Muhammad saja tidak merayakan hari ulang tahunnya. Mengapa kita justru memperingati hari ulang tahun beliau?” Seloroh ini sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam mencampuradukkan antara merayakan dan memperingati.
Memang benar, Nabi Muhammad tidak pernah merayakan hari kelahirannya dalam arti mengadakan pesta, kemewahan, atau keramaian hura-hura yang mengagungkan diri. Namun, tentu sangat boleh, bahkan menjadi kebutuhan batiniah, bagi kita untuk mengingat dan memperingati hari kelahiran beliau. Memperingati hadir untuk memenuhi kebutuhan manusia akan ruang perenungan, mengingat kembali (dzikir), serta menghidupkan ajaran keteladanan kenabian dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian pula dengan malam takbiran Idulfitri. Seharusnya ditelisik bahwa ini adalah hari untuk merenungi keberadaan diri sebagai makhluk, bukan malah berpesta. Cendekiawan tasawuf Dr. Muhammad Nursamad Kamba dalam karyanya Kids Zaman Now: Menemukan Kembali Islam (2018) dan Mencintai Allah Secara Merdeka (2020) menegaskan pentingnya membebaskan diri dari sekadar formalisme keagamaan.
Kamba pernah mengingatkan bahwa kita yang mengaku sebagai umat Muhammad adalah “alamat” bagi orang-orang untuk menemukan sosok Muhammad. Orang-orang yang belum mengenal Islam akan menilai Islam dari cara orang Islam berperilaku karena mereka tidak dapat melihat Nabi Muhammad secara langsung.
Kajian akademis oleh Fikra (2021) juga mengulas bagaimana pemikiran tasawuf dan mahabah Kamba menekankan transformasi karakter spiritual dan kesadaran batin manusia, bukan sekadar riuh-pikuk seremonial lahiriah. Itulah mengapa kita harus sungguh-sungguh dalam ber-Islam.
Kesalahan mendasar yang menyebabkan penyelewengan ini adalah kebiasaan menyalahpahami kata memperingati dan merayakan. Kedua kata ini sering kali dianggap memiliki arti yang sama dan saling menggantikan posisi satu sama lain dalam sebuah kalimat. Padahal keduanya memiliki maksud dan peruntukan yang berbeda.
Setiap hari besar, mata kita dipenuhi ucapan selamat baik melalui status WhatsApp, media sosial, maupun media cetak. Kita sering membaca ungkapan seperti “Selamat merayakan Hari Raya Idulfitri”, “Selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila”, “Selamat memperingati hari ulang tahun”, hingga “Selamat merayakan hari ulang tahun”.
Ucapan selamat sejatinya adalah doa dan harapan agar diberi keselamatan di dunia dan akhirat, tetapi penggunaan kalimat-kalimat tersebut hampir tidak membedakan lagi batas antara memperingati dan merayakan.
Jika dirunut secara filosofis dan etimologis, kedua kata tersebut berangkat dari akar kata yang amat berbeda. Kata memperingati berasal dari kata dasar ingat. Dalam bahasa agama, mengingat itu padanannya adalah dzikir. Berzikir dan mengingat tentu merupakan perbuatan yang luhur.
Memperingati hari kelahiran Nabi, misalnya, pada hakikatnya adalah momen untuk membuat kita kembali teringat akan visi, misi, serta ajaran beliau sehingga kita dapat menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam linguistik perbandingan, kata memperingati lebih presisi dipadankan dengan kata dalam bahasa Inggris to commemorate. Kata ini diserap dari bahasa Latin commemorare (com- [bersama] + memorare [mengingat]), yang bermakna mengingat bersama secara khidmat, penuh perenungan, dan menjaga memori spiritual.
Sementara itu, kata merayakan berasal dari kata dasar raya. Perlu ditegaskan bahwa kata raya tidak berasal dari kata idul. Berdasarkan catatan rekonstruksi linguistik dalam Austronesian Comparative Dictionary (Blust & Trussel, 2020), kata raya merupakan kata asli berakar Proto-Austronesia (*Raya) yang bermakna “besar”, “agung”, atau “utama”—sebagaimana yang kita temukan pada frasa jalan raya, alam raya, atau hari raya.
Di sisi lain, kata idul diserap dari bahasa Arab ‘īd (ع-و-d / ‘-w-d) yang secara etimologis bermakna “kembali” (to return) atau perayaan yang berulang. Oleh karena itu, frasa “Hari Raya Idulfitri” secara harfiah merujuk pada hari agung kembalinya manusia pada kesucian asal (fitrah) setelah menjalani proses penyucian jiwa.
Jika ditinjau dari padanannya dalam bahasa Inggris, kata merayakan secara denotatif sepadan dengan celebrate (dari bahasa Latin celebrare: memuliakan atau menghormati hari istimewa). Namun, secara sosiolinguistik, terjadi pergeseran makna (semantic shift) pada kata merayakan maupun celebrate dalam masyarakat modern, yang justru maknanya menyempit menjadi sebatas pesta, hura-hura, atau euforia fisik belaka.
Akibat pergeseran makna tersebut, perayaan sering kali menjelma menjadi luapan keramaian yang hampa. Ketika sebuah momen yang seharusnya menuntut ingatan (dzikir) dan kontemplasi justru disikapi dengan perayaan hura-hura. Di situlah lahir kekacauan pemaknaan: nilai-nilai spiritual yang dalam dan sunyi tergerus oleh riuh-pikuk pesta belaka.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

