BACAAJA, SARAWAK – Kabar baik datang dari Sarawak, Malaysia. Pemerintah setempat akhirnya mencabut status darurat kabut asap yang sebelumnya diberlakukan setelah kualitas udara anjlok akibat asap karhutla dari Indonesia.
Meski status darurat sudah dicabut, warga belum bisa benar-benar bernapas lega. Sejumlah wilayah di Sarawak masih menghadapi polusi udara level sangat tidak sehat, sehingga masyarakat tetap diminta waspada.
Keputusan pencabutan status darurat diumumkan pemerintah Malaysia pada Senin (7/9/2026). Langkah tersebut diambil setelah mendapat persetujuan dari Raja Malaysia, Sultan Ibrahim.
Kantor Perdana Menteri Malaysia menegaskan kondisi kabut asap di Sarawak memang mulai membaik, tetapi belum sepenuhnya pulih. Indeks Polusi Udara atau API di beberapa wilayah masih berada pada level yang cukup mengkhawatirkan.
“S ituasi kabut asap di Sarawak belum sepenuhnya pulih, dan angka API di beberapa wilayah masih berada pada tingkat yang sangat tidak sehat,” demikian pernyataan resmi Kantor Perdana Menteri Malaysia, dikutip AFP.
Sebelumnya, pemerintah Malaysia menetapkan status darurat di Sarawak pada Jumat (4/9/2026). Keputusan itu keluar setelah kondisi udara di sejumlah daerah memburuk dengan cepat.
Serian menjadi wilayah yang paling disorot. Daerah yang berada sekitar 65 kilometer di selatan Kuching itu sempat mencatat API hingga 519.
Angka tersebut sudah masuk kategori ekstrem. Dalam pedoman keselamatan Malaysia, API di atas 300 masuk kategori berbahaya, sementara angka lebih dari 500 menjadi batas untuk menetapkan status darurat lokal.
Kabut asap tebal bahkan sempat menyelimuti Serian dan membuat jarak pandang serta aktivitas warga terganggu. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengambil langkah cepat untuk melindungi masyarakat.
Situasi kemudian perlahan membaik setelah hujan mengguyur Serian pada Jumat malam hingga Sabtu (5/9/2026) pagi. Hujan tersebut diyakini berkaitan dengan operasi penyemaian awan yang dilakukan untuk membantu mengatasi kondisi udara.
Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sarawak menyebut angka API di Serian sudah turun ke kisaran 200-an pada Senin. Meski jauh lebih rendah dibanding sebelumnya, angka itu tetap menunjukkan kualitas udara belum sepenuhnya sehat.
Kabut asap sendiri sudah menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia dan Malaysia selama beberapa pekan. Sumber utamanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah kawasan di Indonesia.
Asap dari karhutla tersebut kemudian terbawa angin dan melintasi perbatasan negara. Dampaknya tak cuma dirasakan Indonesia, tetapi juga sampai ke Malaysia, Singapura, dan Brunei.
Bagi Malaysia, terutama wilayah Sarawak yang berada di Pulau Kalimantan, kabut asap lintas batas bukan persoalan baru. Ketika kebakaran di Indonesia membesar dan arah angin mendukung, asap dapat dengan cepat masuk ke wilayah Negeri Jiran.
Pemerintah Malaysia pun tetap memantau kualitas udara meski status darurat sudah dicabut. Penurunan API menjadi sinyal positif, tetapi kondisi di lapangan masih perlu diawasi.
Warga di wilayah yang kualitas udaranya belum membaik juga tetap perlu berhati-hati. Aktivitas di luar ruangan, khususnya bagi kelompok rentan, berpotensi terdampak jika konsentrasi polutan kembali meningkat.
Di sisi lain, Indonesia masih berupaya menangani kebakaran hutan dan lahan yang menjadi sumber asap. Pemadaman dan penanganan titik-titik kebakaran terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Pencabutan status darurat Sarawak setidaknya menunjukkan kondisi sudah bergerak ke arah yang lebih baik. Namun, pemerintah setempat belum menganggap persoalan kabut asap benar-benar beres.
Selama masih ada wilayah dengan API tinggi, ancaman kualitas udara buruk tetap terbuka. Karena itu, pemantauan dan langkah antisipasi masih menjadi pekerjaan penting bagi otoritas setempat.
Dengan kondisi yang mulai turun, harapannya kabut asap segera benar-benar pergi dari Sarawak. Warga pun bisa kembali beraktivitas tanpa harus terus waswas dengan kualitas udara yang mereka hirup. (*)

