BACAAJA, SEMARANG– Kota Semarang ternyata punya modal lebih dari sekadar lunpia, Kota Lama, dan cerita soal panas yang kadang bikin kipas angin bekerja lembur. Kota ini dinilai punya peluang besar menjadi semacam “etalase” seni dan budaya Nusantara, tempat berbagai kesenian daerah bertemu, tampil, sekaligus menghidupkan pariwisata.
Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena melihat potensi itu dari perkembangan berbagai event kebudayaan yang digelar di Semarang. Menurutnya, dari tahun ke tahun mulai terlihat upaya penyelenggara dan pemerintah daerah untuk membuat pagelaran semakin berkembang.
Salah satunya melalui dukungan Karisma Event Nusantara (KEN). Namun, Samuel mengingatkan, pengembangan event jangan sampai hanya sibuk membuat sesuatu yang baru. Budaya yang sudah lama hidup di Semarang juga jangan sampai dilupakan.
“Dari tahun ke tahun saya melihat ada usaha untuk berkembang dari pagelaran-pagelaran yang diadakan,” kata Samuel. Menurutnya, Semarang punya banyak kesenian yang sebenarnya bisa dikemas menjadi daya tarik wisata. Kesenian dan budaya masa lalu bukan berarti harus masuk museum lalu selesai.
Baca juga: Samuel Wattimena: Keamanan Warga dan UMKM Desa Wisata Harus Jadi Prioritas
Ada orkestra, gambang keromong, hingga keroncong Semarangan yang menurut Samuel punya cerita dan karakter sendiri. Tinggal bagaimana semuanya diberi ruang dan dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang. “Hal-hal dari masa lalu di Semarang ini menurut saya harus diberikan ruang,” ujarnya.
Yang menarik, Samuel tidak hanya membayangkan Semarang sebagai kota penyelenggara event. Ia melihat kota ini punya peluang menjadi hub kesenian Nusantara.
Bayangkan saja, berbagai daerah datang ke Semarang membawa tarian, musik, kostum, dan cerita budaya masing-masing. Wisatawan pun tidak perlu keliling Indonesia untuk sekadar melihat wajah keberagamannya.
“Berbagai daerah melakukan pertunjukan mereka di sini. Berarti Semarang ini bisa jadi hub-nya berbagai kesenian Nusantara. Orang datang ke Semarang dan kita bisa melihat Indonesia,” jelasnya.
Pengalaman Wisata
Konsep itu, menurut politikus PDIP ini, sangat nyambung dengan tema unity in diversity. Keberagaman bukan cuma slogan yang enak dipasang di spanduk, tetapi bisa benar-benar menjadi pengalaman wisata.
Samuel juga mengapresiasi rencana Pemkot Semarang yang disebut sudah menyiapkan ruang untuk koleksi kostum. Ia mengaku senang karena masukan yang pernah disampaikannya masih diingat dan mulai ditindaklanjuti.
“Saya terus terang berterima kasih bahwa beliau ternyata masih menyimpan masukan saya tersebut dan kemudian masih berusaha mengeksekusi hal tersebut,” katanya.
Ia pun berencana menindaklanjuti rencana tersebut dengan dinas terkait. Mulai dari kebudayaan, ekonomi kreatif hingga pariwisata perlu duduk bersama supaya ruang tersebut tidak sekadar menjadi tempat menyimpan kostum.
Baca juga: Industri Kreatif Bisa Jadi “Mesin Kerja” Anak Muda
Apalagi koleksinya cukup banyak. Menurut Samuel, perlu ada kurasi agar kostum yang ditampilkan punya cerita dan nilai yang kuat. Jika dikelola serius, ruang tersebut bahkan bisa menjadi objek wisata baru di Kota Semarang.
Bukan cuma kostum yang disorot. Samuel juga mengungkit keberadaan museum 3D di Semarang yang kini disebut sudah tidak aktif. Menurutnya, museum tersebut sebenarnya bisa menjadi salah satu keunggulan Semarang jika dihidupkan kembali dengan konsep yang lebih kekinian.
“Saya tidak tahu apakah Ibu Wali Kota berminat untuk menghidupkan itu kembali karena itu juga menurut saya unggulan buat Kota Semarang dibandingkan kota-kota yang lain,” tuturnya.
Pada akhirnya, pekerjaan rumah Semarang bukan cuma mencari destinasi baru, tetapi juga melihat kembali apa yang sudah dimiliki. Sebab, kadang yang dicari jauh-jauh ternyata ada di depan mata, hanya saja sudah lama tidak dipoles. (tebe)

