BACAAJA, SOLO – Kasus dugaan keracunan akibat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di dua sekolah Jawa Tengah kembali didalami. Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng mengirim tim untuk mengecek langsung kejadian di SMAN 6 Solo dan SMAN 1 Lasem, Rembang.
Di SMAN 6 Solo, penyelidikan dilakukan setelah 175 siswa mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG pada 21 Agustus 2026. Petugas kini menelusuri perjalanan makanan sejak bahan baku disiapkan hingga didistribusikan ke sekolah.
Sementara di SMAN 1 Lasem, jumlah siswa dan guru yang dilaporkan terdampak jauh lebih banyak. Sebanyak 750 orang disebut mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG, sehingga sampel makanan ikut diperiksa untuk mencari titik masalahnya.
Kepala Dinkes Jateng Zulfachmi Wahab mengatakan investigasi dilakukan mengikuti prosedur yang selama ini diterapkan dalam menangani dugaan keracunan makanan. Pemeriksaan mencakup alur distribusi hingga kualitas bahan yang digunakan untuk memasak.
“Mulai alurnya diperiksa, kualitas bahan bakunya gimana. Ini akan kita investigasi ke sana,” kata Zul saat dihubungi, Kamis (3/9/2026).
Untuk kasus di SMAN 6 Solo, petugas masih mengumpulkan informasi di lapangan. Dinkes belum bisa memastikan apakah kejadian tersebut berkaitan dengan kesalahan prosedur atau tata kelola penyediaan MBG.
Petugas bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Solo juga masih melakukan penanganan terhadap kasus tersebut. Pemeriksaan dilakukan untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai penyebab munculnya keluhan pada para siswa.
Sementara itu, investigasi di SMAN 1 Lasem juga masih berjalan. Dinkes Jateng bersama Dinkes Rembang berupaya menelusuri kemungkinan adanya masalah pada bahan baku makanan yang dikonsumsi para siswa.
Salah satu bahan yang menjadi perhatian adalah semangka. Tim P2P Dinkes Rembang bersama petugas laboratorium telah mengambil sampel semangka untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil pengujian tersebut diharapkan bisa membantu petugas menemukan sumber masalah. Namun, sampai saat ini belum ada kesimpulan final mengenai penyebab dugaan keracunan di SMAN 1 Lasem.
Kasus di dua sekolah tersebut menambah panjang daftar kejadian dugaan keracunan yang berkaitan dengan MBG. Karena itu, proses investigasi tidak hanya penting untuk mengetahui penyebab, tetapi juga menjadi bahan evaluasi agar keamanan makanan yang dibagikan kepada siswa makin terjamin.
Dinkes Jateng masih menunggu hasil pemeriksaan lapangan dan laboratorium sebelum menentukan langkah berikutnya. Semua kemungkinan, mulai dari kualitas bahan hingga proses distribusi, masih didalami satu per satu. (*)

