BACAAJA, SEMARANG– Semangat kolaborasi antar sekolah terlihat dalam kegiatan In House Training (IHT) Penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang digelar di SMP Negeri 44 Semarang, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore itu menjadi salah satu bentuk pemanfaatan Bantuan Operasional Sekolah Kinerja (BOSKIN) untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran serta kompetensi guru dan tenaga kependidikan.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya diikuti satu sekolah. Sekitar 90 guru dan tenaga kependidikan dari empat sekolah berkumpul dalam satu forum. Empat sekolah tersebut yakni SMP Negeri 44 Semarang, SMP Hassanuddin 5, SMP IT Bina Amal, dan SMP IT Mutiara Hati.
Mereka datang dengan latar dan karakter sekolah yang berbeda, tetapi membawa tujuan yang sama: bagaimana membuat proses belajar dan layanan pendidikan semakin berkualitas.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala SMP Negeri 44 Semarang, Y. Hesty Padmaratnawati, SPd, MPd. Peserta kemudian mendapatkan penguatan dari Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aloysius Kristiyanto, SPd, MPd.
Baca juga: Hari Pramuka di Wonoplumbon Jadi Ajang Anak SD-SMP Belajar Kompak
Dalam sesi utama, fasilitator daerah Yuniarti, SPd, MHum hadir sebagai narasumber yang memberikan materi mengenai penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal atau SPMI.
SPMI menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun budaya mutu di lingkungan sekolah. Bukan sekadar memenuhi administrasi, tetapi juga menjadi cara untuk mengevaluasi apa yang sudah berjalan, menemukan kekurangan, lalu memperbaikinya bersama-sama.
Selain SPMI, peserta juga mendapatkan materi penguatan literasi dan numerasi atau litnum, serta digitalisasi pembelajaran. Tiga hal tersebut dianggap penting karena dunia pendidikan sekarang bergerak semakin cepat.
Guru bukan hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga harus mampu mengikuti perubahan cara belajar peserta didik. Pemanfaatan BOSKIN dalam kegiatan IHT menunjukkan bahwa anggaran sekolah bisa diarahkan untuk memperkuat sumber daya manusia.
Ruang Diskusi
Lewat pelatihan seperti ini, guru dan tenaga kependidikan punya ruang untuk belajar, berdiskusi, berbagi pengalaman, menyusun strategi hingga merefleksikan praktik pembelajaran yang selama ini sudah dilakukan.
Kehadiran empat sekolah dalam satu kegiatan juga membuat forum terasa lebih hidup. Setiap sekolah memiliki pengalaman dan tantangan sendiri. Ketika dikumpulkan dalam satu ruang, berbagai pengalaman itu bisa menjadi bahan belajar bersama.
Bukan tidak mungkin, cara sederhana yang berhasil diterapkan di satu sekolah justru bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain. Di sinilah kolaborasi menjadi penting.
Meningkatkan mutu pendidikan tidak harus selalu dimulai dengan proyek besar atau teknologi mahal. Kadang, yang dibutuhkan adalah kemauan untuk duduk bersama dan saling belajar.
IHT Penguatan SPMI ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda satu hari yang selesai setelah peserta pulang membawa sertifikat atau dokumentasi kegiatan.
Baca juga: Genjot Literasi Siswa, Kemendikdasmen Kirim 5,5 Juta Buku Bacaan Bermutu ke 24.609 Sekolah
Lebih dari itu, hasil pelatihan diharapkan dapat diterapkan dalam budaya kerja dan budaya belajar di masing-masing sekolah. Pemanfaatan BOSKIN untuk meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan dinilai sebagai investasi jangka panjang. Sebab ketika guru terus berkembang, kemampuan sekolah untuk memberikan layanan pendidikan yang lebih baik juga ikut meningkat.
Rencananya, kegiatan IHT akan dilanjutkan pada tahap berikutnya. Materi pendampingan akan lebih mendalam, terutama pada aspek literasi, numerasi, dan digitalisasi pembelajaran.
Pengembangan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah serta hasil evaluasi dari kegiatan sebelumnya. Kolaborasi empat sekolah ini diharapkan menjadi awal dari ekosistem pembelajaran yang lebih terbuka. Sekolah tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi bisa saling berbagi praktik baik dan memperkuat jejaring.
Target akhirnya tentu bukan sekadar guru yang semakin banyak mengikuti pelatihan, melainkan peserta didik yang benar-benar merasakan dampak dari perubahan tersebut.
Mutu pendidikan memang tidak bisa langsung naik hanya karena satu hari duduk di ruang pelatihan. Tapi setidaknya, empat sekolah ini sudah membuktikan satu hal: daripada sibuk merasa paling hebat sendirian. Kadang sekolah juga perlu “nyontek” praktik baik dari sekolah sebelah, asal yang disalin bukan jawaban ujiannya. (tebe)

