BACAAJA, SEMARANG – Pemkot Semarang memasang target pertumbuhan ekonomi cukup tinggi pada 2027. Angkanya dipatok di kisaran 6,70 hingga 8,55 persen.
Target itu menjadi salah satu fokus dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027 yang dibuka Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng.
Agustina mengatakan, RKPD 2027 bukan waktunya memulai semuanya dari awal. Program yang sudah berjalan akan dilanjutkan dan dikebut agar manfaatnya semakin terasa bagi warga.
Bacaaja: Agustina Ingin Festival Semarang Go Internasional
Bacaaja: Agustina Ajak Anak Semarang Berani Bersuara dan Lawan Perundungan
“Tugas kita hari ini menyusun semuanya menjadi prioritas yang paling memberi manfaat, paling dibutuhkan, dan paling siap dilaksanakan,” kata politikus PDIP itu dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/8/2026).
Target pertumbuhan ekonomi itu akan dikejar lewat pengembangan pariwisata dan ekonomi kerakyatan. Pemkot Semarang ingin sektor wisata tidak hanya ramai didatangi, tetapi juga membuat wisatawan betah tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di kota ini.
Tema RKPD 2027 pun diarahkan pada “Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Produk Unggulan Daerah.”
“Kita ingin pariwisata membuat wisatawan tinggal lebih lama. Produk unggulan daerah didukung dari pendataan, kurasi, pembinaan, business matching hingga pasar, sementara infrastruktur menjadi pengungkitnya,” ujarnya.
Ada enam kawasan yang akan menjadi titik pengembangan pariwisata. Yakni Semarang Lama, Simpang Lima, Semarang Barat, Mijen-Gunungpati, Semarang Atas dan Semarang Timur.
Pemkot juga menyiapkan program Waras Ekonomi untuk membantu UMKM. Program ini diarahkan dari proses kurasi produk, pembinaan, sampai melihat dampaknya bagi pelaku usaha.
Targetnya cukup ambisius. Pada 2027, Semarang ingin mengembangkan lima destinasi wisata alam dan lima desa atau kampung wisata baru.
Pemkot juga menargetkan pelatihan bagi 20 konten kreator serta 9.461.037 kunjungan wisatawan.
Namun, Agustina sadar sektor pariwisata tidak bisa berkembang jika persoalan dasar kota belum beres. Salah satunya banjir.
Karena itu, penanganan banjir juga masuk dalam strategi menopang aktivitas ekonomi. Langkahnya mulai dari optimalisasi pompa, normalisasi saluran hingga integrasi saluran primer bersama BBWS Pemali Juana melalui program NUFReP.
Sementara itu, kondisi ekonomi Semarang pada 2025 menjadi modal awal. Pertumbuhan ekonomi tercatat 6,49 persen. IPM mencapai 85,80, angka kemiskinan turun menjadi 3,80 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka berada di angka 5,65 persen. (bae)

