BACAAJA, MAKKAH – Musim haji tahun ini benar-benar dijaga super ketat oleh pemerintah Arab Saudi. Di tengah jutaan jemaah yang mulai memadati Kota Makkah dan sekitarnya, aparat keamanan bergerak cepat menyisir berbagai celah pelanggaran yang berpotensi bikin kekacauan. Mulai dari paket haji abal-abal, penyusup tanpa izin, sampai kendaraan pengangkut jemaah ilegal, semuanya langsung ditindak tanpa kompromi.
Pesan yang ingin disampaikan Kerajaan terlihat jelas. Ibadah haji bukan ruang bebas yang bisa dimasuki sembarangan. Semua harus lewat prosedur resmi karena pengelolaan jutaan manusia di lokasi terbatas bukan perkara gampang. Sedikit saja kelonggaran bisa memicu masalah besar, mulai dari penumpukan massa sampai gangguan keselamatan jemaah.
Ketegasan itu disampaikan langsung oleh Direktur Keamanan Publik sekaligus Ketua Komite Keamanan Haji, Mohammed Al-Bassami. Dalam konferensi pers di pusat operasi keamanan Makkah, ia menegaskan seluruh sistem pengamanan kini berada dalam status siaga penuh demi memastikan musim haji berjalan aman dan tertib.
Menurut Al-Bassami, fokus utama aparat sebenarnya sederhana, yakni memastikan semua jemaah bisa menjalankan ibadah dengan tenang lalu pulang ke negaranya masing-masing dalam keadaan selamat. Karena itu, seluruh pengamanan dibuat bukan untuk mempersulit orang, tetapi menjaga agar situasi tetap terkendali di tengah lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Di balik suasana religius yang terasa khusyuk di Tanah Suci, aparat ternyata sedang bekerja ekstra keras memburu berbagai praktik ilegal. Salah satu yang jadi sorotan adalah munculnya ratusan kampanye haji palsu yang menawarkan keberangkatan tanpa izin resmi. Modusnya bermacam-macam, ada yang menjual paket murah, ada juga yang menjanjikan akses masuk ke Makkah lewat jalur belakang.
Aparat Saudi menyebut sedikitnya 217 kampanye haji palsu berhasil dibongkar sebelum makin meluas. Praktik seperti ini dianggap sangat berbahaya karena tidak cuma merugikan calon jemaah secara finansial, tapi juga bisa mengacaukan sistem pengaturan kapasitas di area suci yang sudah dihitung sangat detail.
Selain membongkar jaringan ilegal, petugas keamanan juga memperketat seluruh jalur menuju Makkah. Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 366 ribu orang tanpa izin resmi berhasil diputarbalikkan sebelum masuk ke kota suci. Mereka kedapatan tidak memiliki dokumen haji sah, tetapi tetap mencoba masuk ke kawasan pelaksanaan ibadah.
Angka itu menunjukkan betapa besarnya upaya penyusupan yang terjadi setiap musim haji. Banyak orang nekat mencoba masuk tanpa izin dengan berbagai cara demi bisa ikut beribadah di Makkah. Padahal pemerintah Saudi sudah berkali-kali mengingatkan bahwa sistem izin dibuat demi menjaga keselamatan semua pihak.
Tak berhenti di situ, aparat juga memulangkan ribuan pelanggar lain yang terbukti melanggar aturan izin tinggal, ketenagakerjaan, hingga keamanan perbatasan. Tercatat lebih dari 7.700 orang dipulangkan setelah kedapatan mencoba memasuki Makkah secara ilegal. Sejumlah kendaraan yang dipakai untuk mengangkut mereka juga langsung diamankan petugas.
Situasi ini memperlihatkan bahwa pengamanan haji sekarang bukan lagi sekadar penjagaan biasa. Pemerintah Saudi menggunakan pendekatan yang jauh lebih modern dan canggih dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sistem pemantauan berbasis teknologi hingga kecerdasan buatan mulai dipakai untuk memetakan kerumunan dan mendeteksi potensi pelanggaran lebih cepat.
Al-Bassami menjelaskan bahwa pergerakan jemaah kini diatur dengan pola khusus agar tidak terjadi penumpukan di titik tertentu. Jalur masuk, arus perpindahan, hingga kepadatan massa dipantau secara real time. Semua itu dilakukan supaya jutaan orang tetap bisa bergerak dengan aman dalam waktu yang hampir bersamaan.
Di sejumlah titik penting, pasukan keamanan khusus juga sudah ditempatkan sejak awal. Kawasan seperti Masjid Namirah, Jabal Rahmah, hingga area Jamarat menjadi fokus pengamanan karena diperkirakan bakal dipadati jutaan jemaah saat puncak haji nanti berlangsung.
Komandan Pasukan Darurat Khusus, Mohammed Al-Omari, mengatakan strategi pengamanan tahun ini dibuat lebih fleksibel dan proaktif. Aparat diminta bergerak cepat membaca situasi di lapangan agar potensi gangguan bisa dicegah sebelum membesar.
Selain keamanan, pemerintah Saudi juga memperkuat sistem keselamatan dan penanganan darurat. Direktur Jenderal Pertahanan Sipil, Hamoud Al-Faraj, menyebut pihaknya mengintegrasikan teknologi modern untuk memantau risiko dan mempercepat respons bila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.
Teknologi berbasis AI kini dipakai untuk membantu memonitor pergerakan massa, membaca potensi kepadatan, hingga mengatur distribusi jemaah di berbagai area penting. Dengan jumlah jemaah yang sangat besar, pendekatan manual dianggap sudah tidak cukup lagi untuk mengendalikan situasi secara efektif.
Sementara itu, data kedatangan jemaah luar negeri juga terus bertambah setiap harinya. Pelaksana tugas Direktur Jenderal Paspor, Saleh Al-Murabba, mengungkapkan lebih dari 1,5 juta jemaah dari luar negeri sudah tiba di Arab Saudi hingga akhir pekan ini.
Mayoritas jemaah masuk melalui jalur udara yang memang menjadi akses utama menuju Tanah Suci. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah menjelang puncak pelaksanaan Armuzna yang tinggal menghitung hari. Karena itu, pengawasan di bandara dan pintu masuk lain ikut diperketat agar tidak ada celah pelanggaran.
Langkah keras yang dilakukan Saudi sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah setempat memang makin serius menata sistem haji agar lebih aman dan tertib. Mereka tidak ingin tragedi kepadatan massa atau kekacauan logistik kembali terjadi seperti masa-masa sebelumnya.
Di sisi lain, ketegasan ini juga menjadi peringatan bagi calon jemaah agar tidak mudah tergiur tawaran haji ilegal. Banyak orang tergoda jalur instan karena biaya lebih murah atau proses lebih cepat, padahal risikonya sangat besar. Selain gagal berhaji, mereka juga bisa terkena sanksi hukum hingga deportasi.
Kini, di tengah lautan manusia yang mulai memenuhi Tanah Suci, Arab Saudi ingin memastikan satu hal penting tetap terjaga. Haji harus berjalan aman, tertib, dan penuh kekhusyukan, bukan berubah jadi ruang semrawut akibat praktik ilegal yang memanfaatkan momen ibadah terbesar umat Islam itu. (*)

