Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bansos Masih Banyak Salah Sasaran, Ini Jurus Pemerintah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Bansos Masih Banyak Salah Sasaran, Ini Jurus Pemerintah

Nugroho P.
Last updated: Agustus 20, 2026 5:49 am
By Nugroho P.
3 Min Read
Share
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Muhammad Qodari .
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Penyaluran bantuan sosial (bansos) di Indonesia ternyata masih punya masalah serius. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Muhammad Qodari mengungkap sekitar 45 persen bansos masih masuk kategori inclusion error.

Sederhananya, ada orang yang sebenarnya sudah tidak memenuhi syarat, tapi masih tercatat sebagai penerima bantuan. Di sisi lain, warga yang mestinya dapat bantuan malah bisa terlewat dari pendataan.

Qodari menyebut persoalan data ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ketika data penerima tidak akurat, uang negara berisiko mengalir ke orang yang kurang tepat, sementara masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru belum tersentuh.

“Menurut catatan Kementerian Sosial, sebanyak 45% bantuan sosial masih mengalami inclusion error,” kata Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Rabu (19/8/2026).

Selain inclusion error, pemerintah juga menghadapi exclusion error. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika warga yang sebenarnya berhak menerima bantuan justru tidak masuk sebagai penerima.

Gambaran soal masalah data itu ditemukan Qodari saat melakukan kunjungan kerja ke Surabaya pada 28 Juli 2026. Dari pengecekan di lapangan, ada sekitar 25.000 kepala keluarga yang ternyata sudah tidak memenuhi syarat sebagai penerima bansos.

Data tersebut kemudian masuk kategori inclusion error dan perlu diperbaiki. Artinya, daftar penerima memang tidak bisa dibiarkan berjalan begitu saja tanpa pembaruan.

Namun, persoalan yang tak kalah besar justru muncul dari warga yang belum terdata. Qodari mencatat ada sekitar 51.000 kepala keluarga yang seharusnya berpotensi menerima bantuan, tetapi belum masuk dalam data penerima.

“Jadi selama ini exclusion errornya hampir 51.000 KK besar sekali. Kalau 1 KK 3 orang ya ada 150.000 kepala yang harusnya mendapatkan bantuan,” ujar Qodari.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan sistem pendataan masih perlu dibenahi. Jangan sampai warga yang membutuhkan malah harus menunggu lama hanya karena datanya belum tercatat dengan benar.

Karena itu, pemerintah kini mulai mendorong digitalisasi dalam sistem pemerintahan, terutama untuk urusan perlindungan sosial. Langkah ini diharapkan bisa membuat proses pendataan hingga penyaluran bansos lebih rapi dan presisi.

Pemerintah juga melihat sistem digital bisa membantu mengurangi potensi pemborosan anggaran. Data penerima yang lebih akurat diharapkan membuat bantuan benar-benar mengarah kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Qodari mengatakan digitalisasi perlindungan sosial bukan cuma soal memindahkan sistem manual ke platform digital. Lebih dari itu, pemerintah ingin memastikan hak masyarakat tidak hilang gara-gara persoalan administrasi dan pencatatan.

“Melalui digitalisasi perlinsos mereka kini memperoleh haknya. Inilah wujud keadilan dalam penyaluran bantuan sosial, perlinsos digital,” tuturnya.

Dengan pembenahan tersebut, pemerintah berharap masalah penerima bansos yang salah sasaran bisa ditekan. Pada saat yang sama, warga yang selama ini tercecer dari pendataan diharapkan bisa segera masuk dalam sistem.

Ujungnya, pemerintah ingin bansos tidak lagi sekadar soal siapa yang tercatat sebagai penerima, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat yang paling membutuhkan. (*)

You Might Also Like

Semarang Ngebut Mau Bebas TBC 2028, Layanan Kesehatan Canggih Udah Nongol di Puskesmas

Libur Panjang Datang, Jateng Bersiap Diserbu 7,8 Juta Pelancong

Alwin Menang dari Mbak Ita di Sidang, Pialanya? Dikasih Hukuman Lebih Tinggi dari Istri

Tahun Ajaran Baru, Seragam Sekolah Diburu

Agustina Ingin Negara Hadir Saat Warga Kehilangan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ebola Kongo Tembus 5.000 Kasus, Wabah Makin Gawat
Next Article KERJINAN LOKAL - PLN Icon Plus memperkenalkan kerajinan batik tulis Tingal Art di Borobudur, yang mengajak masyarakat melihat prosesnya secara langsung. PLN Icon Plus Kenalkan Wastra Lokal Borobudur, Hadirkan Dukungan bagi Kerajinan Batik Tulis Tingal Art

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pexi Jateng Dukung Indonesia Tuan Rumah Kejuaraan Xiangqi Asia 2028

Jateng Rancang Ekosistem Industri Halal, Investor Luar Daerah Dibidik

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bappeda Jateng) Yusmanto.

Sayung Masuk Prioritas Giant Sea Wall Sepanjang 298 Km

7.990 Atlet Ikuti Porprov Jateng XVII, 2.769 Medali Diperebutkan

Pemprov Dorong MES Jateng Gerakkan UMKM

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ekonomi

HUT ke-81 RI, Naik Trans Jateng Cuma Bayar 19 Persen

Agustus 12, 2026
Hukum

Kapolri Listyo Sigit Ngotot Tolak Polri di Bawah Kementerian: Mending Saya Jadi Petani

Januari 27, 2026
Pendidikan

Dari Cangkang Jadi Cuan, Mahasiswa Upgris Intip Cara Limbah Naik Kelas

Juli 9, 2026
Sepak Bola

Eks Kiper Juara Liga 1 Merapat

Juli 22, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bansos Masih Banyak Salah Sasaran, Ini Jurus Pemerintah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?