BACAAJA, SEMARANG – Giant Sea Wall (GSW) yang diproyeksikan membentengi pesisir Jawa Tengah dari abrasi dan banjir rob masih berada pada tahap pematangan desain. Pemerintah menargetkan dokumen masterplan dan Detail Engineering Design (DED) rampung akhir 2026.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bappeda Jateng) Yusmanto mengatakan, proyek yang direncanakan membentang sekitar 298 kilometer itu belum masuk tahap pembangunan fisik secara penuh.
Saat ini, kajian mengenai lokasi dan bentuk bangunan masih dilakukan oleh Badan Urusan Pengelola Pantai dan Pesisir (BUPPC) bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur.
“DED dan masterplan targetnya selesai akhir tahun 2026 ini. Kalau konstruksi fisiknya belum berjalan, kemarin itu sifatnya baru kick-off atau groundbreaking pengerjaan awal,” ujar Yusmanto saat di konfirmasi via telpon, Sabtu (3/10/2026).
Bacaaja: Giant Sea Wall Dikhawatirkan Ganggu Nelayan
Bacaaja: Proyek Tanggul Laut Raksasa di Pantura, Koalisi MDS Sebut Warga Dibatasi Suarakan GSW
Menurut dia, pembangunan nantinya juga akan memperhatikan keberadaan nelayan serta aliran sungai. Salah satunya melalui tanggul transisi yang menghubungkan kawasan laut, muara, dan pantai.
Di sisi lain, kajian lingkungan berupa KLHS dan Amdal terus dikerjakan di sejumlah wilayah pesisir, termasuk Pekalongan dan Kendal.
Karena proyek ini membutuhkan investasi besar melalui skema pinjaman luar negeri, Bappeda Jateng mengusulkan pembangunan dilakukan bertahap. Wilayah dengan kondisi abrasi paling parah menjadi sasaran awal.
“Pengerjaannya melihat prioritas. Untuk Jawa Tengah, kami mengusulkan lokasi yang paling parah terlebih dahulu seperti di Sayung Demak, kemudian bergeser ke Pekalongan, lalu ke wilayah Bonang dan Surodadi,” katanya. (dul)

