BACAAJA, SEMARANG – Ada momen yang bikin orangtua auto gemas: melihat si kecil tiba-tiba tersenyum saat sedang pulas. Tak sedikit yang langsung mengira bayinya sedang mimpi indah atau melihat sesuatu yang menyenangkan dalam tidurnya.
Ternyata, senyum bayi saat tidur tidak selalu punya hubungan dengan mimpi. Menurut dokter, ekspresi tersebut lebih sering muncul sebagai bagian dari refleks alami dan proses perkembangan sistem saraf bayi yang masih berlangsung.
Jadi, kalau bayi sesekali tersenyum, mengernyit, mengecap bibir, atau bergerak-gerak saat tidur, orangtua tidak perlu buru-buru khawatir. Fenomena tersebut umumnya normal, terutama pada bayi yang masih kecil.
Senyum bayi ternyata refleks
Dokter anak sekaligus anggota panel penasihat Swehl, Dr. Amaka Priest, menjelaskan bayi bisa menunjukkan berbagai macam ekspresi ketika tidur. Senyum yang terlihat seperti senyum sungguhan bisa muncul tanpa disengaja.
Selain tersenyum, bayi juga dapat mengernyit, menggerakkan tangan dan kaki, mengecap bibir, sampai melakukan gerakan seperti mengisap. Semua itu bisa terjadi ketika bayi sedang berpindah atau berada dalam tahapan tertentu dalam tidurnya.
Menurut Priest, gerakan tersebut merupakan refleks yang berlangsung tanpa kesadaran bayi. Namun, bukan berarti tidak ada manfaatnya bagi perkembangan.
Gerakan wajah yang muncul saat tidur diyakini ikut membantu memperkuat otot-otot yang nantinya digunakan bayi ketika tersenyum dan membuat berbagai ekspresi secara sadar.
Bahkan, bayi kadang terlihat tersenyum ketika sedang mengeluarkan gas atau buang air besar. Respons tersebut juga merupakan reaksi refleks, bukan tanda bahwa bayi sedang merasakan emosi tertentu.
Ada kaitannya dengan tidur REM
Salah satu alasan bayi terlihat lebih ekspresif saat tidur adalah fase REM (Rapid Eye Movement). Pada fase ini, aktivitas otak meningkat dan tubuh cenderung menunjukkan lebih banyak gerakan.
Dokter spesialis anak dan kedokteran tidur, Dr. Daniel Combs, mengatakan bayi baru lahir menghabiskan porsi tidur REM yang jauh lebih besar dibandingkan orang dewasa.
Bayi baru lahir bisa menghabiskan hingga sekitar setengah waktu tidurnya dalam fase REM. Sebagai pembanding, orang dewasa biasanya hanya menghabiskan sekitar 20 persen waktu tidurnya dalam fase tersebut.
Bayi bahkan dapat langsung masuk ke fase REM setelah tertidur. Pada momen inilah orangtua mungkin melihat mata bergerak cepat, tangan atau kaki berkedut, hingga muncul ekspresi wajah seperti tersenyum.
Seiring bertambahnya usia, porsi tidur REM akan berkurang. Pola tidur anak pun perlahan mulai mendekati pola tidur orang dewasa.
Jam tidur bayi memang belum rapi
Senyum saat tidur juga berkaitan dengan pola tidur bayi yang masih berkembang. Pada bulan-bulan pertama kehidupannya, ritme sirkadian atau jam biologis bayi belum sepenuhnya mengikuti siklus siang dan malam.
Akibatnya, bayi baru lahir biasanya tidur dalam beberapa sesi pendek. Satu siklus tidur bisa berlangsung sekitar satu sampai tiga jam sebelum bayi kembali terbangun, terutama karena kebutuhan menyusu.
Seiring tubuh berkembang dan kebutuhan makan berubah, periode tidur bayi perlahan menjadi lebih panjang. Porsi tidur pada malam hari juga biasanya mulai meningkat.
Secara umum, bayi baru lahir membutuhkan sekitar 14-17 jam tidur dalam sehari. Waktu tersebut tidak langsung dihabiskan dalam satu sesi, tetapi terbagi antara tidur siang dan malam.
Jadi, kalau melihat bayi tersenyum, mengernyit, atau sedikit bergerak ketika sedang tidur, tidak perlu langsung menganggap ada sesuatu yang aneh. Ekspresi-ekspresi tersebut justru bisa menjadi bagian dari perjalanan si kecil dalam mengembangkan sistem saraf, otak, otot, dan pola tidurnya. (*)

