BACAAJA, YOGYAKARTA – Kabar lega datang dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) setelah gempa kuat mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Sebanyak 61 mahasiswa UMY yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sejumlah lokasi dilaporkan selamat.
Saat gempa terjadi, para mahasiswa langsung bergerak ke lokasi yang lebih tinggi setelah muncul ancaman tsunami. Mereka bersama warga memilih mengungsi ke area perbukitan dan kini menempati tenda pengungsian yang telah disiapkan.
Perwakilan mahasiswa KKN UMY, Didan Oktanova Hermawan atau Awan, mengatakan kondisi seluruh anggota kelompoknya aman. Mahasiswa juga sudah mengamankan barang-barang penting sebelum bergerak bersama-sama menuju bukit saat gempa susulan terjadi.
“Alhamdulillah, aman. Terakhir saat gempa susulan ketiga, teman-teman sudah menyiapkan seluruh barang penting, lalu bersama-sama pergi ke bukit,” ujar Awan melalui keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Mahasiswa Tersebar di Dua Lokasi
Puluhan mahasiswa tersebut terbagi dalam dua kelompok KKN. Kelompok Gema Pelita Nusantara (GPN) berisi 26 mahasiswa yang ditempatkan di Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.
Sementara itu, kelompok Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) beranggotakan 35 mahasiswa. Mereka menjalankan program KKN di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.
Ketika proses evakuasi berlangsung, mahasiswa bersama warga bergerak menuju tempat yang dinilai lebih aman. Perempuan dan kelompok rentan menjadi prioritas untuk dievakuasi lebih dulu.
Kini para mahasiswa berada di tenda pengungsian yang didirikan di kawasan perbukitan. Dosen pembimbing lapangan (DPL) juga berada di lokasi untuk mendampingi mahasiswa sekaligus membantu warga dalam proses evakuasi.
Kampus Masih Kaji Nasib KKN
UMY belum buru-buru memutuskan apakah program KKN akan tetap dilanjutkan atau para mahasiswa ditarik pulang. Kampus masih menunggu hasil asesmen kondisi di lapangan yang dilakukan para DPL.
Perwakilan Direktorat Riset dan Pengabdian UMY, Al-Afik, mengatakan keselamatan mahasiswa menjadi pertimbangan utama. DPL diminta mengecek kondisi lokasi penugasan secara menyeluruh sebelum kampus mengambil keputusan.
“Kalau tidak memungkinkan dari kondisi di lapangan, mahasiswa akan kami tarik. Namun, akan diasesmen terlebih dahulu apakah mereka bisa tetap menjadi bagian dari penanganan di lokasi,” kata Afik.
Menurut dia, hasil asesmen nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Jika situasi memungkinkan, mahasiswa bisa saja tetap berada di lokasi dan ikut membantu proses penanganan pascabencana.
Namun jika kondisi dinilai tidak aman, UMY tidak akan mengambil risiko dan mahasiswa akan dipulangkan ke Yogyakarta.
Mahasiswa Fokus Bantu Pengungsi
Di tengah situasi tersebut, para mahasiswa belum membahas lebih jauh soal kelanjutan program KKN. Mereka masih fokus membantu warga dan memenuhi kebutuhan di tenda pengungsian.
Awan mengatakan mahasiswa masih menunggu arahan dari DPL maupun pihak kampus. Untuk sementara, aktivitas mereka lebih banyak diarahkan pada kondisi darurat di lokasi pengungsian.
“Kami masih fokus dengan kondisi di pengungsian dan menunggu arahan lebih lanjut dari DPL maupun kampus,” ujarnya.
UMY memastikan pemantauan terhadap kondisi 61 mahasiswa terus dilakukan. Kampus juga akan melihat perkembangan situasi di wilayah terdampak sebelum menentukan apakah KKN dilanjutkan atau mahasiswa ditarik dari NTT. (*)

