Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ajari Anak Ngatur Uang dari Hal Kecil
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Ajari Anak Ngatur Uang dari Hal Kecil

Nugroho P.
Last updated: Agustus 14, 2026 8:03 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
ilustrasi belajar mengatur keuangan sejak dini.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Mengajarkan anak soal uang nggak harus dimulai dari pembahasan yang ribet. Justru, kebiasaan sederhana di rumah bisa menjadi bekal penting agar anak nggak gampang boros saat dewasa nanti.

Contents
Usia 3-7 Tahun: Kenalkan Konsep TerbatasUsia 8-12 Tahun: Mulai Susun PrioritasUsia 13-18 Tahun: Kasih Kesempatan Bikin AnggaranHindari Kalimat yang Bikin Anak Salah Paham

Anak bisa belajar soal uang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka. Mulai dari memahami bahwa uang terbatas, belajar menentukan prioritas, sampai berlatih membuat anggaran sendiri.

Cara mengajarkannya pun nggak perlu kaku. Momen belanja, menerima THR, angpao, atau uang hadiah bisa dijadikan kesempatan ngobrol santai soal cara menggunakan uang.

Usia 3-7 Tahun: Kenalkan Konsep Terbatas

Pada usia tiga sampai tujuh tahun, anak belum perlu diajak membahas anggaran keluarga secara detail. Fokusnya cukup mengenalkan bahwa uang punya nilai dan nggak semua keinginan bisa langsung dituruti.

Orangtua bisa memulainya ketika sedang belanja. Misalnya, anak diminta memilih antara membeli apel atau pisang.

Dari pilihan sederhana itu, anak perlahan memahami bahwa ketika memilih satu barang, ada barang lain yang harus dilewatkan. Konsep menunda keinginan pun mulai terbentuk.

Uang THR atau angpao juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan belajar. Anak bisa diajak membagi uang tersebut, misalnya sebagian untuk membeli sesuatu yang diinginkan dan sebagian lagi disimpan.

Konsultan Perencanaan Keuangan Regional RBC Financial Planning, Dawn Tam, mengatakan momen seperti itu bisa menjadi pembelajaran yang berharga bagi anak.

Menurutnya, anak perlu memahami bahwa mengatakan “ya” pada satu pilihan terkadang berarti harus mengatakan “tidak” pada pilihan lainnya.

Usia 8-12 Tahun: Mulai Susun Prioritas

Memasuki usia delapan hingga 12 tahun, kemampuan anak memahami hubungan antara pemasukan dan pengeluaran mulai berkembang. Di usia ini, orangtua bisa mulai mengenalkan konsep kebutuhan dan keinginan.

Anak dapat diberi gambaran sederhana bahwa uang keluarga biasanya dipakai lebih dulu untuk kebutuhan utama. Setelah itu, barulah uang bisa dialokasikan untuk hal-hal tambahan.

Cara visual juga bisa bikin pembelajaran lebih gampang. Orangtua misalnya menyediakan beberapa toples yang diberi label untuk menabung, belanja, dan berdonasi.

Ketika anak mendapat uang ulang tahun atau THR, ajak dia berdiskusi sebelum uang tersebut dihabiskan. Tanyakan apakah mau membeli mainan sekarang atau menabung beberapa bulan untuk mendapatkan barang yang lebih besar.

Dengan cara ini, anak belajar bahwa uang nggak cuma soal “punya lalu belanja”. Ada pilihan, prioritas, dan tujuan yang perlu dipikirkan.

Usia 13-18 Tahun: Kasih Kesempatan Bikin Anggaran

Saat masuk usia remaja, pola pengajarannya bisa dinaikkan level. Anak mulai bisa dilibatkan dalam membuat anggaran sederhana dari uang saku atau uang hadiah yang mereka punya.

Orangtua bisa mengajak remaja menentukan berapa uang yang boleh digunakan, berapa yang disimpan, dan berapa yang dialokasikan untuk kebutuhan lain.

Pembahasan soal tekanan sosial juga nggak kalah penting. Remaja biasanya mulai terpengaruh tren, teman sebaya, hingga keinginan memiliki barang yang sedang populer.

Daripada sekadar melarang, orangtua bisa menjelaskan alasan di balik keputusan finansial keluarga. Misalnya, kenapa belum perlu membeli ponsel terbaru atau ikut tren tertentu.

Pengalaman orangtua sendiri juga bisa dijadikan bahan belajar. Cerita soal pernah belanja impulsif, salah mengatur pengeluaran, atau menyesal membeli sesuatu bisa menjadi contoh nyata yang lebih mudah dipahami.

Hindari Kalimat yang Bikin Anak Salah Paham

Cara orangtua berbicara tentang uang ternyata ikut memengaruhi cara anak melihat kondisi finansial. Karena itu, keterbatasan uang nggak harus disampaikan dengan kalimat yang membuat anak merasa bersalah.

Daripada berkata, “Kita nggak mampu beli itu,” orangtua bisa mencoba kalimat, “Barang itu belum masuk anggaran bulan ini.”

Pilihan lainnya, ajak anak berpikir dengan pertanyaan seperti, “Kalau kamu mau membeli itu, menurutmu apa yang harus kita kurangi?”

Dengan begitu, anak belajar melihat uang sebagai soal pilihan dan prioritas, bukan sekadar soal boleh atau nggak boleh membeli.

Yang paling penting, orangtua nggak perlu merasa bersalah karena nggak bisa memenuhi semua keinginan anak. Kemampuan setiap keluarga berbeda, dan mengajarkan batas justru bisa menjadi bekal penting bagi anak.

Pada akhirnya, literasi keuangan bukan soal seberapa cepat anak bisa menghitung uang. Yang lebih penting adalah membentuk kebiasaan untuk berpikir sebelum membeli, tahu mana yang penting, dan mampu menunda keinginan demi tujuan yang lebih besar. (*)

You Might Also Like

8 Kebiasaan Sepele yang Bikin Otak Cepat Lelah

Takjil Simpel Murah Meriah, Pahalanya Tetap Ngalir

Ramadan Datang, Kurma Dipilih Makin Penuh Pertimbangan

Mata Sembap Habis Nangis? Lima Trik Ini Bikin Fresh Lagi

Tips Agar Tidak Terjebak Gogle Maps yang Ngaco

TAGGED:anakkeuanganpelajaran diniuang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Curhat ke AI Bisa Jadi Bumerang Remaja
Next Article Ilustrasi gempa bumi. Berpotensi Tsunami, NTT Diguncang Gempa Magnitudo 7,7

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

RESMIKAN PONPES--Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung RI, Reda Manthovani, merangkul santri tunanetra dalam acara peresmian Pondok Pesantren Sahabat Mata di Semarang, Selasa (29/9/2026). (ist)

Pesantren Khusus Tunanetra di Semarang, Santri Dibekali Keterampilan

DITUNTUT BERALAH: Bupati Cilacap nonaktif Syamsul Auliya Rachman dituntut bersalah dalam sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (29/9/2026). (bae)

Bupati Cilacap Dituntut 7 Tahun Penjara, Hak Dipilih Dicabut 3 Tahun

Lisa Punya Bayi Lagi, Anak Gajah Lahir Sehat

Siswa Sekolah Rakyat Tak Kuat Tinggal di Asrama, Pilih Mundur

172 PPDS Unair Tumbang Usai Santap Makanan Pradik

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Malam Susah Merem Kadang Bukan Cuma Karena Pikiran Berat, Ini Masalah dan Solusi Ulama

Mei 29, 2026
Tips

Imam Malik dan Adab yang Mengangkat Derajat Ilmu

September 17, 2026
Tips

Remaja SMP Sudah Pakai Skincare, Ini Resikonya

September 27, 2026
Ilustrasi banyak tab kebuka di otak dan banyak ganjalan di kepala.
Tips

Banyak Ganjalan dan Kebanyakan ‘Tab Kebuka’ di Otak, Bikin Kamu Cepek Tanpa Disadari

Januari 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ajari Anak Ngatur Uang dari Hal Kecil
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?