BACAAJA, ACEH – Kelangkaan semen mulai bikin pelaku usaha konstruksi di Aceh kelimpungan. Selain barang yang sulit dicari, harga semen juga melonjak tajam hingga menyentuh Rp120.000 per sak, hampir dua kali lipat dari harga normal.
Kondisi ini terjadi di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Dampaknya langsung terasa pada proyek pembangunan rumah yang terancam berhenti karena biaya membengkak.
Direktur CV Raya Engineering Aceh, Reza Angkasah, mengatakan kelangkaan semen sudah berlangsung sekitar dua pekan. Situasi itu membuat banyak proyek konstruksi berjalan di luar perhitungan awal.
Menurut Reza, saat kontrak pembangunan rumah korban banjir disusun, harga semen masih berada di kisaran Rp60.000 per sak. Kini, harga di lapangan melonjak menjadi Rp110.000 hingga Rp120.000.
Lonjakan tersebut membuat anggaran proyek langsung berubah drastis. Jika pembangunan tetap dipaksakan, perusahaan berisiko mengalami kerugian besar.
Masalahnya bukan hanya harga yang melambung. Reza mengaku stok semen di berbagai toko bangunan juga sangat terbatas, bahkan banyak yang kosong.
Kalaupun masih ada barang, jumlahnya sedikit dan dibanderol jauh lebih mahal. Kondisi itu membuat pelaku usaha harus berkeliling dari satu toko ke toko lain hanya untuk mendapatkan beberapa sak semen.
Akibat situasi tersebut, Reza mulai mempertimbangkan menunda pembangunan rumah bagi korban banjir di Aceh Utara. Ia juga berencana berdiskusi dengan pemerintah agar ada penyesuaian terhadap nilai proyek.
Menurutnya, jika proyek tetap berjalan dengan harga material saat ini, keuntungan perusahaan dipastikan habis. Bahkan bukan tidak mungkin proyek justru berujung rugi.
Keluhan serupa datang dari pengusaha properti di Lhokseumawe, Sukoco. Ia memilih menghentikan sementara pembangunan rumah yang sebelumnya sudah direncanakan untuk dipasarkan kepada masyarakat.
Sukoco mengatakan harga semen yang sebelumnya berkisar Rp55.000 hingga Rp60.000 kini melonjak menjadi Rp100.000 sampai Rp120.000 per sak, tergantung lokasi pembelian.
Dengan kenaikan setinggi itu, seluruh perhitungan biaya pembangunan berubah total. Menurutnya, melanjutkan proyek dalam kondisi sekarang hanya akan memperbesar risiko kerugian.
Ia menilai lebih aman menunggu harga kembali stabil daripada memaksakan pembangunan dengan biaya yang sulit dikendalikan. Banyak pengembang kini mengambil langkah serupa sambil menunggu situasi membaik.
Di sisi lain, masyarakat yang sedang membangun rumah juga ikut terdampak. Kelangkaan material membuat proses pembangunan melambat karena pasokan tidak menentu.
Hingga berita ini mencuat, pemerintah daerah belum memberikan penjelasan resmi terkait penyebab kelangkaan maupun langkah yang akan ditempuh untuk menstabilkan pasokan dan harga semen. Pelaku usaha berharap persoalan ini segera ditangani agar proyek pembangunan di Aceh bisa kembali berjalan normal.(*)

