BACAAJA, SEMARANG- Pengembangan sport tourism di Kota Semarang dinilai tidak hanya berpotensi menggerakkan ekonomi daerah, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Namun, manfaat tersebut baru bisa dirasakan secara merata apabila pemerintah memberikan ruang yang sama bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam setiap penyelenggaraan event olahraga.
Pakar Ekonomi sekaligus Akademisi Universitas Diponegoro (Undip), Prof Dr Nugroho SBM mengatakan, sektor UMKM yang bergerak di bidang kuliner, transportasi, hingga penginapan skala kecil diperkirakan akan menjadi pihak yang paling diuntungkan ketika Semarang rutin menjadi tuan rumah ajang olahraga berskala nasional maupun internasional.
“UMKM yang paling diuntungkan adalah sektor makanan dan minuman, transportasi, serta penginapan skala kecil,” katanya, Rabu (29/7/2026). Menurutnya, kehadiran ribuan atlet, ofisial, maupun penonton akan menciptakan permintaan terhadap berbagai layanan yang sebagian besar dapat dipenuhi oleh pelaku usaha lokal.
Baca juga: Semarang Pasang Target Jadi Kota Sport Tourism
Karena itu, pemerintah perlu memastikan peluang ekonomi tersebut tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar. “Agar manfaat ekonomi sport tourism juga dirasakan UMKM, pemerintah daerah jangan membatasi penyedia makanan, minuman, penginapan, maupun transportasi hanya kepada usaha besar. UMKM juga harus diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi,” ujarnya.
Selain melibatkan UMKM, Nugroho menilai pemerintah juga perlu mendorong wisatawan agar tidak hanya datang untuk menyaksikan pertandingan, tetapi menghabiskan waktu lebih lama di Kota Semarang. Dengan masa tinggal (length of stay) yang lebih panjang, perputaran uang di daerah juga akan semakin besar.
Butuh Sinergi
Menurut dia, hal tersebut membutuhkan sinergi antara penyelenggara event dengan sektor pariwisata. Berbagai destinasi wisata, atraksi, hingga paket perjalanan perlu disiapkan agar peserta maupun penonton memiliki alasan untuk memperpanjang masa kunjungan mereka.
“Perlu kerja sama dengan berbagai pihak, terutama Dinas Pariwisata, untuk membenahi bahkan membangun objek-objek wisata yang menarik sehingga wisatawan tidak hanya datang menonton event olahraga, tetapi juga berwisata di Semarang,” jelasnya.
Meski mengakui Semarang masih tertinggal dibandingkan Solo, Yogyakarta, maupun Bali dalam penyelenggaraan event olahraga berskala besar, Nugroho menilai ibu kota Jateng itu tetap memiliki modal untuk bersaing.
Baca juga: Agustina Dorong Sport Tourism Jadi Mesin Ekonomi Daerah
Ia menyebut biaya transportasi dan akomodasi yang relatif lebih terjangkau, ditambah beragam objek wisata yang dimiliki Semarang, dapat menjadi keunggulan kompetitif jika dikemas dalam paket sport tourism yang menarik.
“Dibandingkan Solo, Yogyakarta, dan Bali memang Semarang masih tertinggal dalam penyelenggaraan event nasional maupun internasional. Namun, Semarang memiliki keunggulan pada objek wisata serta biaya transportasi dan akomodasi yang relatif lebih murah. Potensi itu harus dimanfaatkan untuk menarik lebih banyak wisatawan olahraga,” pungkasnya.
Sport tourism akan benar-benar jadi kemenangan bersama kalau yang ikut merayakan bukan cuma hotel berbintang dan perusahaan besar. Sebab ekonomi daerah tak diukur dari megahnya seremoni pembukaan, melainkan dari berapa banyak warung kecil yang dagangannya ikut habis setelah peluit pertandingan dibunyikan. (dul)

