Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS.
Kita hidup di zaman yang terlalu sibuk mengagumi gengsi. Pekerjaan dinilai dari seberapa keren terdengar di obrolan.
Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata, “Aduh, pacarnya kok anak petani sih?” Nadanya biasa terdengar seperti bercanda, tapi sebenarnya menyimpan penilaian yang cukup problematik. Seolah profesi tertentu punya kasta, dan petani sering ditempatkan di kasta yang tidak terlalu diperhitungkan. Padahal kalau dipikir, tidak ada yang lebih jujur dari kerja seorang petani.
Setiap pagi ia bangun sebelum orang lain sempat mendengar alarm. Ia turun ke sawah, mencangkul, menanam, mencabuti tanaman liar, memastikan air cukup mengaliri petaknya. Tidak ada libur mendadak, tidak ada alasan “nanti saja”. Padi tidak bisa diajak kompromi soal musim tanam atau waktu panen. Semua harus mengikuti ritme alam, sabar menunggu, tanpa banyak drama. Dari situlah kita bisa belajar sesuatu soal cinta.
Cinta yang sehat itu sebenarnya mirip sekali dengan cara kerja seorang petani. Tidak instan. Tidak bisa dipaksa tumbuh dalam semalam. Dan butuh dirawat lewat hal-hal kecil yang diulang terus-menerus. Bukan soal panen besar yang datang tiba-tiba. Tetapi soal konsistensi menyiram hari ini, menyiangi lagi besok, menunggu lagi lusa, meski hasilnya baru terlihat berbulan-bulan kemudian.
Kalau kamu jatuh cinta kepada seorang petani, sebenarnya kamu sedang jatuh cinta pada orang yang sudah terlatih untuk sabar dan bertanggung jawab. Orang yang tahu rasanya lelah tapi tetap harus turun ke sawah. Orang yang paham bahwa hasil baik tidak datang dari jalan pintas. Tapi dari proses yang ditekuni pelan-pelan. Bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Tentu hidup di sisi seorang petani bukan tanpa tantangan. Penghasilan bergantung pada cuaca dan harga panen yang naik turun tak menentu. Ada musim ketika hasil melimpah. Ada pula musim ketika gagal panen membuat semua rencana harus disusun ulang. Mencintai seorang petani berarti juga belajar menerima ketidakpastian itu sebagai bagian dari hidup bersama. Bukan sesuatu yang ditutup-tutupi.
Tetapi kalau dipikir-pikir lagi, ada satu fakta yang tidak bisa dibantah, yaitu dari sawah-sawah itulah kita semua bisa makan. Nasi yang ada di piring setiap hari. Beras yang dijual di pasar. Semuanya berawal dari tangan-tangan yang sering dianggap sebelah mata. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), masih ada jutaan rumah tangga di Indonesia yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Artinya, petani sebenarnya menghidupi jauh lebih banyak orang daripada yang kita bayangkan. Sayangnya, meski perannya sebesar itu, mereka sering kali luput dari perhatian dan jarang dianggap sebagai profesi yang penting.
Kita hidup di zaman yang terlalu sibuk mengagumi gengsi. Pekerjaan dinilai dari seberapa keren terdengar di obrolan. Seberapa rapi seragamnya, atau seberapa tinggi gedungnya. Padahal nilai seseorang sebenarnya bukan di situ. Nilai seseorang ada di ketulusan mereka menjalani tanggung jawab. Sekecil apa pun kelihatannya dari luar.
Jadi kalau suatu hari kamu bertemu seseorang yang bajunya berbau tanah dan keringat, tangannya kasar karena kerja fisik, tapi matanya tenang karena terbiasa sabar menghadapi hidup yang tidak instan, jangan terburu-buru menilai rendah seseorang.
Bisa jadi, dari situlah datang cinta yang paling tulus dan paling bisa diandalkan. Karena pada akhirnya, orang yang telaten menanam dan merawat sawahnya setiap hari tanpa lelah, biasanya juga akan telaten merawat hati orang yang ia cintai. Dan itu jauh lebih berharga daripada gengsi profesi apa pun. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

