BACAAJA, SEMARANG – Jangan anggap sepele gusi yang sering berdarah atau bengkak. Penelitian terbaru mengungkap kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada kesehatan mulut, tetapi juga bisa menjadi tanda awal gangguan fungsi ginjal.
Temuan itu berasal dari riset yang dimuat dalam International Journal of Oral Science pada 2026. Para peneliti menemukan hubungan kuat antara penyakit gusi berat atau periodontitis dengan menurunnya kemampuan ginjal menyaring darah.
Selama ini periodontitis dikenal sebagai infeksi yang merusak jaringan penyangga gigi. Jika dibiarkan, penyakit ini bisa menyebabkan gigi goyang hingga tanggal.
Namun, dampaknya ternyata tidak berhenti di rongga mulut. Peradangan kronis akibat penyakit gusi diduga ikut memengaruhi berbagai organ tubuh, termasuk ginjal.
Tim peneliti dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf di Jerman menganalisis data kesehatan 6.179 orang dewasa. Mereka memeriksa kondisi gusi sekaligus mengevaluasi fungsi ginjal melalui berbagai pemeriksaan medis.
Hasilnya menunjukkan pola yang cukup jelas. Semakin parah penyakit gusi yang dialami seseorang, semakin besar pula kemungkinan fungsi ginjalnya mengalami penurunan.
Peneliti mencatat angka periodontitis berat meningkat dari sekitar 14 persen pada peserta dengan ginjal sehat menjadi 36 persen pada mereka yang sudah mengalami gangguan fungsi ginjal tingkat sedang.
Hubungan tersebut tetap terlihat meski faktor lain seperti usia, diabetes, kebiasaan merokok, dan jenis kelamin sudah diperhitungkan dalam analisis.
Selain itu, peserta yang mengalami kerusakan jaringan gusi lebih parah juga cenderung memiliki kadar albumin lebih tinggi di dalam urine. Kondisi ini merupakan salah satu tanda awal gangguan pada ginjal.
Para peneliti menduga peradangan dalam tubuh ikut menjadi penghubung antara penyakit gusi dan gangguan ginjal. Meski begitu, mereka menilai masih ada mekanisme lain yang berperan.
Beberapa kemungkinan yang sedang diteliti antara lain penyebaran bakteri dari jaringan gusi ke aliran darah, stres oksidatif, gangguan pembuluh darah, hingga perubahan proses metabolisme tubuh.
Profesor Ghazal Aarabi dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf mengatakan kesehatan mulut berpotensi menjadi petunjuk penting untuk mendeteksi risiko penyakit ginjal sejak dini.
Pasalnya, penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Banyak penderita baru menyadarinya ketika kerusakan ginjal sudah cukup berat.
Karena itu, menjaga kesehatan gigi dan gusi bukan hanya soal senyum yang indah. Menyikat gigi dengan benar, rutin membersihkan karang gigi, serta memeriksakan kesehatan mulut secara berkala juga bisa menjadi langkah sederhana untuk membantu menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk fungsi ginjal. (*)

