BACAAJA, SEMARANG – Hubungan Polri, kejaksaan, TNI sedang tidak harmonis. Gesekan antarlembaga itu makin kentara setelah muncul rangkaian peristiwa di level pusat.
Koordinator Pusat Kajian Militer dan Kepolisian (Puskampol) Indonesia, Andy Suryadi melihat, ketegangan antara polisi versus kejaksaan-TNI ini cukup seksi.
Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu melihat situasi itu menunjukkan ada irisan persoalan yang rumit. Mulai dari penegakan hukum sipil, pengamanan pejabat, sampai tumpang tindih kewenangan antarinstansi.
Bacaaja: Peneliti Puskampol: Polisi Jangan Asal Konpers, Buka Bukti Kematian Iko Unnes
Bacaaja: Polisi Geledah Lokasi ke-13, Polda Metro Jaya Dijaga Ketat Brimob
“Kalau ini tidak bisa dikomunikasikan dengan baik, akan berujung pada pertarungan yang lebih panjang, yaitu saling bongkar,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Menurut Andy, saling bongkar itu memang bisa memicu ketegangan.
Tapi dari sudut pandang masyarakat, kondisi tersebut juga bisa membawa manfaat, terutama jika berujung pada terbukanya dugaan praktik korupsi atau permainan oknum di internal lembaga.
“Kalau kita ingin pemerintahan ini bersih, ya nikmati saja saling bongkar ini. Karena menguntungkan kita, sehingga oknum-oknum yang memang korup itu bisa diungkap,” tegasnya.
Meski begitu, Andy tetap mengingatkan ada risiko yang menyertai. Ketegangan antarlembaga, apalagi yang sama-sama punya kewenangan besar dan aparat bersenjata, bisa membuat publik bingung dan waswas kalau eskalasinya tak dikendalikan.
“Di satu sisi masyarakat diuntungkan karena ada peluang semuanya terbuka. Tapi di sisi lain tetap ada risiko ketegangan yang bikin publik was-was,” katanya. (bae)

