BACAAJA, SEMARANG – Pada negara-negara maju, transportasi umum menjadi denyut nadi kehidupan. Transportasi umum menjadi andalan warga untuk pergi ke berbagai tempat tujuan.
Pasar Johar sempat menjadi jantung perdagangan sekaligus pusat transportasi Kota Semarang. Kini, geliatnya tak lagi seramai dulu.
Namun, ada satu usulan yang diyakini bisa menghidupkan lagi denyut kawasan bersejarah tersebut, yakni mengembalikan rute Trans Semarang masuk langsung ke dalam area Pasar Johar.
Bacaaja: BRT Semarang Mulai Ganti Napas, 41 Bus Baru Sudah Jalan
Bacaaja: Pasar Maling Naik Kelas, Disiapkan Jadi Tempat Nongkrong
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai langkah itu bukan sekadar mengubah trayek bus. Menurutnya, kebijakan tersebut bisa menjadi pemicu bangkitnya ekonomi pasar sekaligus menghidupkan kembali kawasan heritage di pusat Kota Semarang.
“Pasar Johar bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga pernah menjadi jantung transportasi massal Kota Semarang. Kini justru ada halte yang terbengkalai dan tidak lagi dimanfaatkan,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Djoko menjelaskan, pada era 1980-an Pasar Johar menjadi tujuan utama berbagai trayek bus DAMRI dan angkutan kota. Namun setelah pusat transportasi bergeser ke Simpang Lima, aktivitas di Pasar Johar ikut meredup.
Karena itu, ia mengusulkan agar Pemkot Semarang mengaktifkan kembali halte yang sudah ada dengan memperpanjang atau mengalihkan sebagian rute Trans Semarang agar masuk ke kawasan pasar.
Menurutnya, akses transportasi yang lebih mudah akan membuat masyarakat semakin tertarik datang ke Pasar Johar. Dampaknya, jumlah pengunjung berpotensi meningkat dan roda ekonomi para pedagang ikut berputar lebih kencang.
Bukan hanya pembeli yang diuntungkan. Pedagang, pekerja pasar, hingga buruh gendong juga dinilai bisa menghemat biaya transportasi karena akses menuju pasar menjadi lebih praktis.
Djoko juga menyoroti pentingnya transportasi yang ramah bagi semua kalangan. Ia menyarankan penggunaan armada low deck agar lansia, perempuan, penyandang disabilitas, hingga buruh gendong lebih mudah naik dan turun bus.
“Jika menggunakan armada berlantai rendah, masyarakat tidak perlu berjalan jauh ke jalan utama untuk naik Trans Semarang,” katanya.
Ia menambahkan, integrasi Pasar Johar dengan koridor utama Trans Semarang juga akan memudahkan warga dari kawasan pinggiran seperti Mangkang, Penggaron, Cangkiran, hingga Gunungpati untuk berbelanja ke pusat kota tanpa harus berganti kendaraan berkali-kali.
Selain menghidupkan ekonomi, langkah itu juga dinilai mampu mengoptimalkan aset halte yang selama ini terbengkalai. Di sisi lain, keberadaan halte aktif di Pasar Johar bisa mengurangi kepadatan penumpang di Halte Simpang Lima dan Balaikota yang saat ini menjadi titik transit utama.
Djoko menilai manfaatnya tak berhenti di situ. Semakin banyak warga beralih ke transportasi umum, semakin kecil pula ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, sehingga kemacetan dan emisi di pusat kota berpotensi ikut berkurang.
Tak kalah penting, Pasar Johar juga berada di kawasan wisata sejarah yang berdekatan dengan Kota Lama dan Masjid Agung Kauman. Menurutnya, akses Trans Semarang yang terintegrasi bisa menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin menjelajahi kawasan heritage Semarang.
“Masuknya kembali Trans Semarang ke Pasar Johar bukan sekadar perubahan rute. Ini adalah upaya menghidupkan kembali kawasan bersejarah, memperkuat ekonomi kerakyatan, dan memberikan akses transportasi yang lebih adil bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap Pemerintah Kota Semarang mulai mempertimbangkan usulan tersebut melalui perencanaan trayek dan rekayasa lalu lintas yang matang agar Pasar Johar kembali menjadi pusat perdagangan sekaligus destinasi wisata yang ramai dikunjungi. (dul)

