BACAAJA, TEMANGGUNG – Datangnya bulan Suro atau Muharram dalam masyarakat Jawa disambut dengan berbagai tradisi dan ritual religi.
Saat sebagian orang menyambut datangnya Bulan Suro dengan berbagai tradisi budaya, ratusan lansia justru memilih menepi dari hiruk pikuk kehidupan.
Mereka datang dari berbagai daerah menuju Pondok Pesantren Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Mujahidin, Temanggung, mengikuti gelaran Suluk Muharram.
Bacaaja: Temui Massa Aksi, Bupati Temanggung Agus Gondrong Nyanyi Darah Juang bareng Demonstran
Bacaaja: Ikhtiar Spiritual Petani Tembakau Temanggung: Doa Bersama Tolak Aturan Pembatasan Tar-Nikotin
Selama sepuluh hari, mulai 1 hingga 10 Suro, para jamaah menjalani khalwat atau menyepi. Bukan untuk berlibur, melainkan mengosongkan diri dari kesibukan duniawi, memperbanyak ibadah, sekaligus melakukan muhasabah agar hati kembali bersih.
Mayoritas peserta berusia di atas 50 tahun. Meski usia tak lagi muda, semangat mereka untuk ngangsu kawruh dan menjaga tradisi yang diwariskan para ulama terdahulu tetap menyala.
Tradisi Suluk Suro di Ponpes TQN Mujahidin sendiri bukanlah amalan yang baru tumbuh. Ia telah hidup lintas generasi sejak dirintis pendiri pondok, Simbah KH Mandhur, ulama kharismatik sekaligus pejuang Barisan Bambu Runcing Parakan.
Estafet itu kemudian diteruskan KH Achmad Bandanudji, hingga kini dirawat oleh KH Musa Effendy bersama Gus Noor Muhammad Ayyub.
Di tengah suasana yang khusyuk, Bupati Temanggung Agus Setyawan datang menyapa para jamaah. Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong itu mengaku bahagia melihat tradisi tersebut tetap terjaga hingga sekarang.
“Saya nderek mangayubagya, panjenengan semua ternyata masih berkenan untuk melanjutkan dan istikamah menjalankan apa yang dahulu diwasiatkan oleh Simbah Mandhur. Majelis seperti ini adalah majelis yang sangat luar biasa, karena mengarahkan kita semua agar bisa selamat di dunia maupun di akhirat,” ujarnya, belum lama ini.
Momen itu juga membawa Agus Gondrong bernostalgia. Ia bercerita, sejak kecil sudah akrab dengan lingkungan Ponpes Mujahidin karena sering diajak sang nenek berkunjung ke kawasan tersebut.
“Sejak masih kecil dulu, saya sering diajak oleh simbah putri saya kalau kebetulan mampir ke daerah sini. Makanya, saya pun di sini masih sama-sama belajar dari Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian,” kata politikus PDIP itu.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes TQN Mujahidin, Gus Noor Muhammad Ayyub, menjelaskan Suluk Muharram merupakan perjalanan spiritual untuk membersihkan hati dari berbagai sifat tercela sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Menurutnya, dalam tradisi TQN, hubungan ruhani antara jamaah dengan mursyid menjadi bagian penting yang membimbing perjalanan spiritual selama menjalani suluk.
“Suluk Muharram ini esensinya berfokus pada pembersihan hati dari sifat tercela serta melakukan muhasabah. Hubungan ruhani dengan mursyid dalam tradisi TQN ini menjadi pilar penting untuk membimbing perjalanan spiritual jamaah,” jelasnya.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, tradisi Suluk Suro di Ponpes Mujahidin menjadi pengingat bahwa ada ruang untuk berhenti sejenak, menenangkan hati, dan kembali memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Bagi para jamaah, menjaga tradisi ini bukan sekadar meneruskan warisan ulama, tetapi juga merawat perjalanan batin yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun. (*)

