BACAAJA, SEMARANG – Dulu, makanan cuma jadi pelengkap saat orang liburan. Sekarang ceritanya beda. Kuliner justru mulai jadi alasan wisatawan memilih sebuah destinasi.
Tren ini terlihat dari data terbaru Airbnb yang menunjukkan minat terhadap pengalaman kuliner di Indonesia terus naik. Wisatawan kini tak puas cuma datang, makan, lalu pulang.
Mereka ingin merasakan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan lokal. Mulai dari belanja bahan di pasar tradisional, belajar resep keluarga, sampai ikut memasak bareng warga.
Dalam data Airbnb, kategori Food & Drink tercatat sebagai kategori Airbnb Experiences dengan pertumbuhan pencarian paling cepat di Indonesia. Kategori ini juga masuk tiga besar yang paling banyak dicari, di bawah Nature and Outdoors serta History & Culture.
Bali masih menjadi primadona untuk urusan wisata kuliner. Lebih dari 90 persen pemesanan Airbnb Experiences bertema kuliner di Indonesia terkonsentrasi di Pulau Dewata.
Menariknya, pengalaman kuliner yang ditawarkan juga mendapat respons positif dari wisatawan. Pada kuartal pertama 2026, rata-rata rating pengalaman kuliner di Indonesia mencapai 4,94.
Dari berbagai ulasan wisatawan, ada sejumlah kata yang cukup sering muncul. Di antaranya autentik, tradisional, interaktif, lokal, dan kekeluargaan.
Artinya, wisatawan sekarang bukan cuma mengejar makanan yang enak atau viral. Mereka juga mencari cerita, suasana, dan interaksi yang bikin perjalanan terasa lebih personal.
Tren ini bahkan ikut memengaruhi pilihan tempat menginap. Pencarian akomodasi Airbnb di Indonesia yang memiliki fasilitas dapur meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut didapat dari perbandingan pencarian pada Februari-Maret 2025 dengan periode yang sama pada 2026.
Fasilitas dapur kini bukan sekadar bonus buat wisatawan. Ada yang memanfaatkannya untuk memasak makanan lokal, mencoba kembali resep yang mereka pelajari, atau sekadar membawa pengalaman kuliner selama liburan ke tempat menginap.
Country Head Airbnb untuk Asia Tenggara dan India, Amanpreet Bajaj, melihat perubahan ini sebagai tanda bahwa wisatawan makin mencari pengalaman yang punya koneksi lebih dalam dengan destinasi.
Menurutnya, kuliner menjadi salah satu cara paling menarik untuk mengenal sebuah daerah. Makanan bisa membuka jalan untuk memahami budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Pengalaman seperti berbelanja di pasar, mempelajari resep keluarga, hingga memasak bersama warga juga dinilai bisa memberi dampak positif bagi komunitas lokal.
Wisatawan akhirnya bukan cuma menjadi pembeli makanan. Mereka ikut masuk ke dalam proses dan cerita yang ada di balik hidangan tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren wisata mulai bergeser. Foto di tempat ikonik tetap penting, tetapi pengalaman yang terasa autentik makin punya daya tarik sendiri.
Buat wisatawan, mencicipi makanan khas sambil mendengar cerita pembuatnya tentu punya sensasi berbeda dibanding sekadar makan di restoran.
Bagi pelaku usaha lokal, perubahan selera ini juga bisa menjadi peluang. Resep keluarga, pasar tradisional, kebun bahan makanan, sampai kelas memasak bisa dikemas menjadi pengalaman wisata yang menarik.
Indonesia sendiri punya modal besar untuk tren tersebut. Setiap daerah punya makanan, tradisi, dan cerita kuliner yang berbeda-beda.
Jadi, ke depan liburan bukan cuma soal mau ke mana. Bisa saja pertanyaannya berubah menjadi, mau makan apa dan belajar cerita apa di sana? (*)

